
Sumanto menjelaskan bahwa stunting merupakan gangguan pertumbuhan yang terlihat dari tinggi badan anak yang tidak sesuai usia. Penyebab utamanya adalah kekurangan asupan nutrisi selama masa pertumbuhan.
“Anak pendek bukan berarti genetik. Banyak orang tua masih salah persepsi. Yang lebih berpengaruh adalah asupan gizi anak sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun,” tegasnya, dalam keterangannya di Semarang, Jumat (23/5/2025),
Sumanto sendiri aktif menyosialisasikan pencegahan stunting ke berbagai lapisan masyarakat. Ia menggandeng Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melalui program Bangga Kencana, untuk memperkuat edukasi tentang pentingnya gizi dan pola asuh yang benar.
Ia juga menyoroti keterkaitan antara stunting dan kemiskinan. Indikator seperti tidak memiliki jamban, air bersih, listrik, rumah layak huni, hingga anak usia 7–18 tahun yang tidak sekolah, menjadi penanda kondisi masyarakat berisiko stunting.
Menurutnya, beberapa penyebab utama stunting yang harus diwaspadai meliputi kurangnya gizi ibu hamil, pola makan yang tidak seimbang, serta minimnya perawatan anak pasca kelahiran.
“Orang tua harus paham. Anak bertubuh pendek belum tentu stunting, tapi jika disertai pertumbuhan lambat dan penurunan berat badan, perlu segera ditangani,” tambahnya.
Politisi dari PDI Perjuangan ini juga mendorong peran aktif desa, kader kesehatan, dan sekolah dalam melakukan edukasi kesehatan masyarakat. Ia berharap seluruh elemen dapat bersinergi, mulai dari keluarga hingga institusi negara.
“Kita harus bertindak bersama. Edukasi gizi, perbaikan sanitasi layak, dan pemerataan layanan kesehatan adalah kunci untuk mencegah stunting sejak dini,” ujar Sumanto.
Upaya ini menjadi langkah strategis untuk membangun masa depan yang lebih baik, seiring dengan tantangan dan peluang dalam menghadapi bonus demografi Indonesia di masa mendatang.

Leave a Reply