
JOSS.CO.ID, Kudus – Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), meskipun hingga akhir April 2025 belum ditemukan kasus kematian yang murni disebabkan oleh DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kudus, Dharsono, menjelaskan bahwa pasien yang dilaporkan meninggal umumnya memiliki penyakit penyerta (komorbid).
“Jika ada pasien DBD yang meninggal, biasanya karena faktor penyakit penyerta, bukan murni akibat DBD,” ujarnya, Selasa (29/4/2025).
Dharsono menegaskan bahwa berbeda dengan tahun lalu yang mencatat empat kasus meninggal dunia murni akibat DBD, tahun ini belum ada kasus serupa.
Berdasarkan data Dinkes Kudus hingga 21 April 2025, tercatat sebanyak 1.229 kasus DBD tersebar di berbagai fasilitas layanan kesehatan. Rumah sakit yang melaporkan kasus terbanyak antara lain RSUD dr. Loekmono Hadi, RS Mardi Rahayu, RS Aisyiyah, RS Islam Sunan Kudus, dan RS Nurussyifa.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 115 pasien dikategorikan sebagai kasus “Dengue Warning” karena menunjukkan tanda-tanda memasuki fase serius yang berpotensi menyebabkan syok. Rinciannya, 20 pasien dirawat di RSUD Kudus, 15 di RS Mardi Rahayu, 16 di RS Islam Sunan Kudus, tujuh di RS Nurussyifa, dan sisanya di RS Aisyiyah.
Dinas Kesehatan Kudus mendorong masyarakat untuk aktif melakukan langkah pencegahan melalui gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan metode 3M Plus. Gerakan ini meliputi kegiatan menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti—vektor pembawa virus DBD.
“Selain 3M, kami juga mengajak warga melakukan tindakan tambahan seperti menanam tanaman pengusir nyamuk, memelihara ikan pemakan jentik, serta memasang kawat kasa di ventilasi dan jendela,” jelas Dharsono.
Dinkes Kudus juga mendorong warga untuk menjaga kebersihan lingkungan melalui kerja bakti, menutup pakaian kotor dalam wadah tertutup, memberikan larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dikuras, serta memperbaiki saluran air yang tersumbat.
Sebagai langkah tambahan, masyarakat bisa memperoleh bubuk Abate secara gratis di puskesmas atau melalui bidan desa setempat. Dharsono menyebut penggunaan Abate untuk membasmi jentik nyamuk lebih efektif dibandingkan fogging atau pengasapan.

Leave a Reply