Ultah ke-20, Film Dokumenter Kolektif Hysteria Semarang Diputar di Negara-negara Asia

Pemutaran dan diskusi film Legiun Tulang Lunak perjalanan Kolektif Hysteria Semarang di Hope Space, 204 Soi Krungthonburi, 4, Khlong Ton Sai, Khlong San, Bangkok 10600, Thailand, (21/4/2025)

JOSS.CO.ID – Menyongsong puncak perayaan ulang tahun ke-20, film dokumenter Legiun Tulang Lunak yang bercerita tentang perjalanan Kolektif Hysteria, sebuah komunitas seni asal Kota Semarang, diputar di berbagai negara luar.

Perdana tur Asia film ditonton di Hope Space, 204 Soi Krungthonburi, 4, Khlong Ton Sai, Khlong San, Bangkok 10600, Thailand, kemarin (21/4/2025) atas kerja sama dengan komunitas lokal Baan Norg.

Film berdurasi 55 menit produksi Semaya Production House ini menjelajah perjalanan Kolektif Hysteria dari tahun ke tahun, dengan melibatkan berbagai komunitas maupun warga kampung baik skala Semarang maupun nasional.

Beberapa kampung di Kota Semarang mendapatkan sorotan seperti Jatiwayang, Petemesan, Bustaman, Kemijen, Randusari, dan juga satu kampung di Rembang yang menandai kerja-kerja Hysteria di desa.

Direktur Hysteria, Adin Khairudin menyebutkan bahwa selain Thailand, film juga akan diputar di Vietnam, Filipina, Korea Selatan, dan Malaysia.

“Tingkat lokal kami juga membawa kelilng film ini ke 30an kota membentang Jawa, Madura, dan Bali. Bahkan sebulan lalu diputar di sebuah kampus di Swiss,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (22/4/2025).

Hysteria sendiri merupakan kolektif seni yang berdiri di Semarang sejak 11 September 2004 dan telah berhasil menginisiasi ribuan program seni dan budaya baik skala lokal maupun nasional.

Film Legiun Tulang Lunak tersebut memotret bagaimana kolektif bisa mewarnai dan mendinamisir kebudayaan di tempat mereka bermukim.

Dalam kedatangannya kali ini di Thailand rombongan Hysteria yang terdiri dari Ragil Maulana, Hananingsih W, M. Wan Fajar dan Adin tak hanya memutar film tapi juga studi banding menghadiri Wat Lai Fest (Extended Songkran) di Pattaya.

Sebagaimana diketahui perang air bersama warga Kampung Bustaman menjadi andalan program Hysteria sejak 2013.

“Film jadi bahasa diplomasi budaya kami dengan jejaring utamanya di Asia, harapannya terjalin pertemanan kemudian kerjasama ke depan baik dari Semarang ke luar maupun dari Asia ke Semarang utamanya,” kata Wan Fajar, salah satu peserta rombongan.

Dalam jangka dekat Kolektif Hysteria akan mencoba untuk membawa karya atau program internasional ini dalam acara dua tahunan mereka pada bulan Agustus mendatang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*