
JoSS, SOLO – Perayaan HUT Kota Solo Ke-280 semakin meriah dengan digelarnya Festival Jenang Solo 2025. Acara tahunan yang sudah menjadi tradisi ini tidak hanya memperkenalkan keragaman kuliner jenang, tetapi juga menjadi ajang untuk mempererat hubungan sosial antarwarga Solo dari berbagai kalangan.
Festival Jenang Solo (FJS) 2025 digelar dengan penuh antusiasme di Selasar Ngarsopuro, Solo, pada Senin pagi 17 Februari 2025. Acara tahunan yang telah berlangsung selama 14 tahun ini semakin membuktikan bahwa Festival Jenang Solo telah menjadi tradisi yang erat dengan masyarakat Kota Solo. Tidak hanya menampilkan keragaman jenis jenang, festival ini juga mempererat hubungan antarwarga dari berbagai kalangan, usia, dan latar belakang.
Pada hari itu, lebih dari 110 stan jenang dipenuhi oleh beragam jenis kuliner tradisional dari seluruh penjuru Solo. Jenang yang ditawarkan berasal dari 60 tim PKK kelurahan dan kecamatan Kota Solo, serta berbagai asosiasi, perhimpunan, dan komunitas lokal. Setiap stan menampilkan lebih dari satu jenis jenang, mulai dari jenang tradisional hingga jenang kreasi yang diciptakan oleh para pengrajin lokal.
Sejak pagi, antusiasme warga sudah terasa. Ribuan pengunjung mulai memadati area festival, memenuhi jalanan di sepanjang citywalk Jalan Diponegoro. Warga yang datang tidak hanya dari Solo, tetapi juga dari berbagai daerah, dengan beragam usia, mulai dari balita, anak-anak, hingga lansia, semua bergabung menikmati suasana festival yang hangat.
Sekitar pukul 09.30 WIB, acara dimulai dengan doa bersama yang dilanjutkan dengan penyerahan jenang kepada pengunjung. Tanpa aba-aba, ribuan pengunjung segera berebut mendapatkan jenang dari berbagai stan. Suasana menjadi sangat gayeng dan guyub, dengan pengunjung saling berdesakan untuk mendapatkan takir jenang yang mereka incar.
FJS tidak hanya menjadi ajang kuliner, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat integrasi sosial masyarakat Solo. Tundjung Wahadi Sutirto, pengurus Yayasan Jenang Indonesia dan seorang sejarawan, menyatakan bahwa festival ini memiliki makna filosofi yang dalam. Jenang, yang memiliki karakter lengket, melambangkan bagaimana kuliner tersebut dapat merekatkan sesama.
“Semakin banyak festival digelar di kota yang heterogen, integrasi sosialnya akan semakin kuat. Kebetulan ini adalah festival jenang, di mana secara filosofis itu punya makna merekatkan sesama,” katanya.
Dengan tema “Mustika Jenang Nusantara”, FJS 2025 bertujuan untuk memperkenalkan lebih banyak jenis jenang yang ada di Indonesia. Jenang-jenang seperti sumsum, ketan hitam, dan bubur lemu menjadi ikon kuliner tradisional yang layak dilestarikan.
Wali Kota Solo, Teguh Prakosa, yang turut hadir dalam acara tersebut, berharap FJS 2026 akan lebih meriah lagi. “Tak hanya 10.000 bisa lebih dari itu atau puluhan ribu. Sebab FJS ini bisa memberdayakan ekonomi masyarakat. Jadi tinggal pemimpin kota ke depan itu harus jeli membacanya,” ujar Teguh.
Festival Jenang Solo 2025 telah sukses menggabungkan kebahagiaan masyarakat dengan kuliner tradisional, mempererat tali persaudaraan, dan memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal. Semoga FJS dapat terus berkembang dan menjadi acara tahunan yang dinantikan oleh warga Solo dan sekitarnya.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS

Leave a Reply