DIY Luncurkan Purwarupa Alat Pembakar Sampah Karya BLPT

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meluncurkan purwarupa alat pembakar sampah (incinerator) hasil karya Balai Latihan Pendidikan Teknik (BLPT) DIY,
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meluncurkan purwarupa alat pembakar sampah (incinerator) hasil karya Balai Latihan Pendidikan Teknik (BLPT) DIY, Jumat (14/02) di Balai Latihan Pendidikan Teknik DIY, Yogyakarta

JoSS, JOGJA – Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) DIY ke-270, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meluncurkan purwarupa alat pembakar sampah (incinerator) hasil karya Balai Latihan Pendidikan Teknik (BLPT) DIY. Alat ini diharapkan menjadi solusi inovatif untuk mengatasi masalah sampah yang semakin kompleks di kawasan DIY.

Purwarupa alat pembakar sampah ini diperkenalkan secara resmi oleh Sekretaris Daerah DIY, Beny Suharsono, pada Jumat (14/02) di Balai Latihan Pendidikan Teknik DIY, Yogyakarta. Dengan kemampuan untuk membakar sampah sebanyak 218 kg per jam, alat ini diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam pengelolaan sampah di Yogyakarta yang ramah lingkungan.

Incinerator yang diluncurkan menggunakan teknologi canggih dengan burner model boiler dan combustion chamber berbentuk reducer concentric. Alat ini menggunakan oli bekas sebagai bahan bakar utama. Ruang pembakarannya menggunakan wiremesh basket (M4) dengan bagian bawah terbuat dari stainless steel ring bertingkat dan dilapisi dengan fire brick untuk meningkatkan efisiensi pembakaran.

Sebagai tambahan, sistem pengolahan asap pada incinerator ini telah dilengkapi dengan fitur spray tube yang menggunakan sirkulasi pompa air. Fitur ini berfungsi untuk membasuh asap pembawa material berat, sehingga material tersebut dapat dikeluarkan bersama air basuhan. Asap yang telah dibersihkan kemudian diarahkan keluar melalui blower hisap yang berfungsi untuk menstabilkan aliran asap.

Beny Suharsono menjelaskan bahwa alat ini terdiri dari tiga bagian utama: boiler berbahan bakar oli bekas, burn barrel berbentuk cylindrical basket yang dilapisi fire brick, dan smoke barrel treatment yang bertujuan untuk mengurangi polusi asap dengan sistem water spraying untuk memisahkan material berat. “Inovasi ini menjadi wujud nyata kepedulian kita terhadap keberlanjutan lingkungan, memastikan bahwa kemajuan yang kita capai, bukanlah kemajuan yang mereduksi peran alam,” tambah Beny.

Selain peluncuran purwarupa incinerator, acara tersebut juga diisi dengan peluncuran logo HUT DIY ke-270. Beny menjelaskan, tema “Jogja Tumata Tuwuh Ngrembaka” dipilih untuk menggambarkan perjalanan panjang DIY. Tema ini mencerminkan tiga aspek penting dalam perkembangan Yogyakarta, yaitu “Tumata” (tertata), “Tuwuh” (tumbuh), dan “Ngrembaka” (berkembang).

HUT ini bukan sekadar merayakan usia, tetapi menegaskan arah pembangunan yang jelas. Yogyakarta tidak hanya bertumbuh, namun berkembang dengan kesadaran kolektif dari masyarakatnya.

Filosofi di balik tema ini mencerminkan upaya Yogyakarta dalam menata diri, terus berkembang, dan mencapai kemajuan yang berkelanjutan. Penataan di Yogyakarta mencakup berbagai sektor, dari tata kota hingga kesejahteraan sosial, yang mendukung keharmonisan dan keberlanjutan. Sementara itu, perkembangan pesat dalam berbagai sektor seperti pendidikan, ekonomi kreatif, dan inovasi menunjukkan bahwa Yogyakarta tetap berpijak pada kekayaan budaya yang dimilikinya.

Logo HUT DIY ke-270 yang baru diluncurkan, dengan warna hijau dan kuning “pare anom,” mewakili kekayaan alam dan budaya Yogyakarta. Desain logo ini juga menampilkan ikon Jatilan, simbol budaya Yogyakarta yang tak ternilai harganya, sebagai nafas kehidupan DIY.

Beny juga mengingatkan bahwa rakyat adalah aktor utama dalam perubahan. “Rakyat bukan sekadar penerima kebijakan, tetapi arsitek masa depan. Dengan keterlibatan aktif masyarakat, kita bisa mewujudkan Yogyakarta yang lebih baik,” ujarnya.

Pada 13 Maret 2025 mendatang, DIY akan merayakan usia ke-270 tahun. DIY akan terus mengukuhkan posisinya sebagai daerah yang kaya akan sejarah dan budaya, sekaligus siap menghadapi tantangan globalisasi dengan mempertahankan identitas yang khas.

“DIY bukan sekadar bertahan, tetapi terus tumbuh dan berkembang. Bahwa kita bukan hanya penerus sejarah, tetapi juga pencipta masa depan,” tutup Beny.

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*