
JoSS, SRAGEN – Lima pasar hewan di Kabupaten Sragen ditutup sementara selama dua minggu sejak Kamis, 16 Januari 2025. Penutupan ini dilakukan sebagai langkah pencegahan setelah pasar hewan dianggap menjadi episentrum penularan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di wilayah tersebut.
Selama masa penutupan, petugas akan melakukan penyemprotan disinfektan dua kali dalam seminggu, termasuk di Pasar Hewan Nglangon, yang merupakan pasar hewan terbesar kedua di Sragen. Pada Jumat, 17 Januari 2025, pasar tersebut tampak sepi, dengan hanya beberapa warga yang keluar masuk untuk urusan lain. Tidak ada sapi yang tampak di pasar tersebut, karena memang bukan hari pasarannya.
Pasaran terakhir sebelum penutupan berlangsung pada Rabu, 15 Januari 2025. Meskipun itu adalah hari pasar, aktivitas jual beli sapi relatif sepi, disebabkan oleh kekhawatiran akan penyebaran PMK.
Sampai saat ini, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Sragen melaporkan total 1.354 kasus PMK. Dari jumlah tersebut, 225 sapi berhasil sembuh, sementara 122 ekor sapi mati. Terdapat 1.007 kasus aktif PMK yang menyebar di 20 kecamatan di Sragen.
Suparno, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKP3 Sragen, menjelaskan bahwa penutupan pasar hewan dilakukan untuk menghentikan penyebaran PMK.
“Kami melakukan disinfeksi secara periodik selama penutupan pasar. Nanti setiap pekan dua kali. Kenapa kita tutup pasar? Karena lihat perkembangannya PMK. Pasar hewan itu salah satu episentrum atau pusat penyebaran penyakit menular sapi. Sapi-sapi yang dibawa setiap Pahing ke Pasar Hewan Sragen itu tidak diketahui kondisinya. Ada yang sehat dan ada yang subklinis. Jadi subklinis itu tampaknya sehat tetapi sebenarnya membawa penyakit. Interaksi itu yang bahaya, maka ditutup itu untuk memutus mata rantai persebaran PMK,” jelasnya.
Penurunan Pendapatan Daerah
Penutupan pasar tentunya berisiko menurunkan pendapatan daerah, khususnya dari sektor retribusi pasar hewan. Setiap bulan, pasar hewan Nglangon dapat menghasilkan sekitar Rp400.000 dari retribusi, sementara target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dipasang adalah Rp600 juta. Meskipun ada penurunan sementara, Suparno optimis bahwa pendapatan ini dapat pulih setelah situasi PMK terkendali.
Pada tahun 2024, target PAD pasar hewan tercapai sekitar Rp500 juta. Dalam kondisi normal, pasar hewan Nglangon bisa menerima 400-450 ekor sapi setiap minggu, sementara Pasar Hewan Sumberlawang bahkan bisa menerima hingga 500 ekor sapi per hari pasar. Sapi-sapi yang datang ke pasar Nglangon berasal dari berbagai wilayah di luar Sragen, termasuk dari Grobogan, Ngawi, Kertosono, dan Nganjuk. Sapi-sapi tersebut biasanya akan dibawa ke Bandung, Tasikmalaya, Yogyakarta, dan Jakarta.
“Penutupan pasar itu jelas berisiko terhadap turunnya pendapatan ke DKP3 Sragen tetapi kami lebih mementingkan masyarakat. Kalaupun PMK bisa selesai itu nanti ada recovery. Target PAD dari retribusi pasar hewan dipasang Rp600 juta. Kami optimistis pendapatan itu bisa tercapai. Seperti 2024 lalu juga bisa tercapai senilai Rp500 jutaan,” ungkapnya.
Dampak Ekonomi bagi Pedagang Sapi
Bagi pedagang sapi, seperti Sunardi (56), penutupan pasar sangat berpengaruh pada pendapatan. Sunardi, seorang pedagang sapi asal Kleco Kulon, Desa Sidoharjo, Sragen, mengaku penghasilannya menurun drastis. Meskipun begitu, ia mendukung langkah pemerintah untuk menutup pasar demi mengatasi penyebaran PMK. Ia berharap pasar dapat dibuka kembali pada Februari 2025 jika PMK dapat dikendalikan.
“Penutupan pasar hewan itu jelas imbasnya ke penghasilan pedagang sapi turun. Kami mengikuti langkah pemerintah. Kalau sampai akhir Januari ini PMK tidak meluas maka Februari sudah dibuka lagi,” katanya.
Sunardi mencatat bahwa dalam dua pekan terakhir, permintaan terhadap sapi menurun drastis, hanya sekitar 15% dari populasi normal. Selain itu, harga sapi juga mengalami penurunan signifikan. Sapi yang sebelumnya bisa terjual hingga Rp20 juta kini hanya laku sekitar Rp15 juta. Bahkan, sapi miliknya yang biasanya dihargai Rp40 juta kini hanya terjual seharga Rp20 juta. Ia juga mengungkapkan bahwa kandang sapi yang terindikasi terpapar PMK harus disemprot disinfektan setiap hari dan baru bisa bebas PMK setelah satu bulan.
“Sapi masuk pasar yang biasanya laku Rp20 jutaan paling hanya laku Rp15 juta. Saya sendiri merasakan sapi saya itu biasanya laku Rp40 juta selama PMK hanya laku Rp20 juta. Kandang sapi di rumah pun saya kosongkan sementara dan saya semproti disinfektan. Empat ekor sapi saya sudah saya jual semua,” tambahnya.
Kondisi ini memang sangat meresahkan, karena PMK 2025 ini lebih cepat menyebar dan sapi yang terjangkit bisa mati dalam waktu singkat. Sebagai seorang pedagang berpengalaman sejak 1993, Sunardi mengaku ini adalah pertama kalinya dia merasakan dampak serius dari penyakit sapi ini.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS

Leave a Reply