
JoSS, SOLO – Pasar Jebres menjadi pasar tradisional minim sampah pertama di Kota Solo. Deklarasi tersebut dilakukan oleh Yayasan Gita Pertiwi bersama Dinas Perdagangan dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Solo dalam acara bertajuk “Launching Pasar Minim Sampah” yang diadakan pada Selasa, 3 Desember 2024.
Direktur Badan Usaha Gita Pertiwi, Rossana Dewi, menyampaikan bahwa program ini bertujuan untuk mendukung upaya menjadikan Solo sebagai kota yang bersih, sehat, dan sejahtera. Salah satu langkah penting dalam program ini adalah pengelolaan sampah di area pasar melalui pemisahan sampah berdasarkan jenisnya.
Dewi berharap Pasar Jebres bisa menjadi model untuk pasar tradisional lain di Indonesia, bahkan dunia. Dengan pengelolaan sampah yang baik, pasar akan menarik lebih banyak pengunjung karena lingkungannya yang bersih dan nyaman.
Pasar Jebres dipilih sebagai percontohan karena tingginya volume sampah yang dihasilkan di Kota Solo setiap harinya. Berdasarkan riset Yayasan Gita Pertiwi, dalam satu hari Solo menghasilkan 22.000 kantong plastik sekali pakai (KPSP) dan sekitar 8 kilogram sampah organik yang belum terkelola.
Dewi menjelaskan bahwa sekitar 66 persen dari total sampah di Solo berupa sampah organik. Sampah ini terdiri atas sisa bahan pangan yang masih layak konsumsi, seperti sayuran atau buah-buahan yang tidak sempurna, serta sampah organik lainnya yang dapat dijadikan pakan ternak seperti maggot.
“Sebanyak 66 persen sampah di Solo itu organik baik sampah pangan berlebih maupun sampah organik lainnya. Sampah pangan berlebih itu sisa bahan pangan yang sebetulnya masih layak konsumsi namun terbuang misalnya sayur daunnya bolong atau tomat yang agak cokelat,” jelas Dewi dilasir dari laman Espos.
Keberhasilan program pasar minim sampah, menurut Rossana, sangat bergantung pada kolaborasi berbagai pihak. Selain Yayasan Gita Pertiwi, program ini juga didukung oleh Pemerintah Kota Solo, para pedagang, dan masyarakat.
Program ini bukan hanya inisiatif satu pihak, tetapi upaya bersama. Jika dijalankan secara konsisten, program ini akan memberikan manfaat ekonomi sekaligus menciptakan lingkungan pasar yang bersih dan sehat.
Kepala Bidang Sarana Distribusi Perdagangan Dinas Perdagangan Solo, Joko Sartono, menyambut positif inisiatif ini. Ia mengungkapkan bahwa Dinas Perdagangan telah menginisiasi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2024 tentang Pengelolaan dan Pemberdayaan Pasar Rakyat. Dalam waktu dekat, aturan ini akan dilengkapi dengan Peraturan Wali Kota (Perwali) untuk memastikan tata kelola sampah di pasar lebih baik.
“Tata kelola sampah pasar di Solo beda dengan daerah lain karena di Solo pengelolaannya secara mandiri, kami sediakan armada dan tim sendiri. Sementara daerah lain masih bergantung dengan DLH,” jelasnya.
Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Jebres, Cokro Sudarno, mengungkapkan bahwa program ini membawa perubahan besar. Sebelum program dijalankan, kesadaran pedagang akan kebersihan masih rendah. Namun, setelah edukasi dan pelatihan dari Yayasan Gita Pertiwi, jumlah sampah harian di pasar berkurang signifikan dari 10-12 bak sampah menjadi 4-5 bak per hari.
“Setelah kami menerima edukasi bahwa sampah itu punya nilai ekonomis bila dikelola dengan baik, kami lebih peduli. Sampah kardus, kaleng, plastik, dan sisa makanan kini sudah kami kumpulkan dan pilah-pilah melalui bank sampah,” ujarnya.
Cokro berharap program ini tetap konsisten karena manfaatnya sudah dirasakan secara langsung, baik secara ekonomi maupun kebersihan lingkungan pasar.
Meskipun program pasar minim sampah menunjukkan hasil yang positif, riset Yayasan Gita Pertiwi pada tahun 2024 mengungkapkan bahwa penggunaan kantong plastik sekali pakai (KPSP) di pasar tradisional Solo masih tinggi. Rata-rata penggunaan KPSP di 44 pasar tradisional di Solo mencapai 4.452 lembar per pasar setiap hari, dengan total potensi sampah mencapai 195.888 KPSP.
Kepraktisan KPSP dan belum adanya regulasi pembatasan menjadi penyebab utama tingginya angka tersebut. Oleh karena itu, regulasi dan edukasi masyarakat menjadi langkah penting untuk mengatasi masalah ini.
Dengan adanya program pasar minim sampah di Pasar Jebres, Solo telah mengambil langkah maju menuju pengelolaan sampah yang lebih baik. Jika diterapkan secara konsisten di seluruh pasar tradisional, program ini berpotensi menjadikan Solo kota yang lebih bersih, sehat, dan ramah lingkungan. Pemerintah, pedagang, dan masyarakat diharapkan terus berkolaborasi demi keberlanjutan program ini.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS

Leave a Reply