Banjir Rob Menggenangi Sejumlah Permukiman Warga di Pekalongan

Banjir yang merendam rumah-rumah di Kota dan Kabupaten Pekalongan semakin parah akibat luapan Sungai Bremi setelah tanggul jebol, dengan ketinggian air yang terus naik, menyebabkan aktivitas warga terhenti total dibandingkan kemarin.
Banjir yang merendam rumah-rumah di Kota dan Kabupaten Pekalongan semakin parah akibat luapan Sungai Bremi setelah tanggul jebol, dengan ketinggian air yang terus naik, menyebabkan aktivitas warga terhenti total dibandingkan kemarin.

JoSS, PEKALONGAN – Banjir rob yang terjadi sejak beberapa hari terakhir masih menggenangi sejumlah permukiman warga di Kota Pekalongan. Salah satu wilayah yang terdampak parah adalah Pedukuhan Pasirsari, Kelurahan Pasir Kraton Kramat. Di sini, ketinggian air mencapai satu meter, menyebabkan sejumlah rumah terendam dan aktivitas warga lumpuh total.

Kepala Seksi Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kota Pekalongan, Dimas Arga Yudha, menjelaskan bahwa banjir di wilayah Pasirsari disebabkan oleh limpasan air dari Sungai Meduri. Lima RW di Kelurahan Pasir Kraton Kramat, yakni RW 3, 4, 5, 6, dan 7, kini terendam air. “Air limpasan Sungai Meduri mulai menggenangi pemukiman masyarakat Pasirsari di sepanjang Jalan Sutan Syahrir dan wilayah RW 3, 4, 5, 6, 7,” ujar Dimas Arga dilansi dari detikJateng pada Senin (25/11/2024).

Banjir ini dipicu oleh jebolnya tanggul Das Bremi-Meduri yang terjadi pada Sabtu (23/11) sekitar pukul 04.00 WIB. Tanggul yang jebol ini merupakan tanggul darurat yang belum diperbaiki secara permanen. Akibat jebolnya tanggul, air sungai bercampur dengan air pasang dari laut, menyebabkan banjir meluas ke permukiman sekitar.

Menurut data sementara yang dihimpun BPBD, sekitar 89 jiwa yang terdiri dari 38 Kepala Keluarga (KK) terpaksa mengungsi ke Aula Eks Kelurahan Krayon Kidul. Kondisi ini semakin memprihatinkan karena beberapa kawasan yang sebelumnya tidak terdampak banjir kini ikut terendam. Salah satunya adalah Jalan Sultan Syahrir, yang airnya mencapai ketinggian 1 meter.

Khodirin (46), salah seorang warga Pasirsari, mengungkapkan bahwa banjir kali ini adalah yang terparah dibandingkan dengan sebelumnya. Sebagian besar warga di wilayah ini menggantungkan hidup pada industri batik, namun akibat banjir, mereka tidak dapat beraktivitas. “Ini air rob. Kan masih diperbaiki yang jebol itu, ya tanggul. Itu kan tanggul masih sementara, di wilayah Kabupaten Pekalongan, kalau yang wilayah Kota Pekalongan, sudah permanen,” katanya.

Khodirin juga menyampaikan harapannya agar pemerintah daerah, khususnya Pemkab Pekalongan, segera membangun tanggul permanen untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Menurutnya, tanggul yang ada saat ini masih bersifat darurat dan mudah jebol. Tanggul yang ada terbuat dari tanah, sering jebol. Kami berharap ada solusi permanen supaya aktivitas warga, terutama para pembatik, bisa berjalan lancar kembali.

“Air masuk ke rumah saya satu meter lebih, saya kerja batik, rata-rata warga sini batik juga. Lumpuh, tidak bisa apa-apa,” imbuhnya.

Sebagai informasi, tanggul darurat sepanjang 10 meter di Sungai Bremi, yang berada di wilayah Kabupaten Pekalongan, memang sudah beberapa kali mengalami kerusakan. Selain wilayah Pasirsari di Kota Pekalongan, dua desa di Kabupaten Pekalongan, yakni Desa Jeruksari dan Desa Tegaldowo, juga terdampak banjir rob ini.

Banjir rob seperti ini memang sudah menjadi masalah tahunan di wilayah pesisir utara Jawa, termasuk di Kota Pekalongan. Oleh karena itu, banyak pihak yang mendesak agar pemerintah segera mengatasi masalah tanggul yang sering jebol untuk menghindari dampak buruk yang lebih luas.

Dengan kondisi saat ini, masyarakat berharap agar pemerintah daerah dan pusat segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi permasalahan banjir rob dan tanggul yang rusak, demi kesejahteraan dan keamanan warga di wilayah tersebut.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*