Pameran “Tales of The Land We Live In” Yogyakarta

Pameran bertajuk Tales of The Land We Live In

JoSS, JOGJA – Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat bekerja sama dengan Paniradya Kaistimewan dan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (DPTR) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyelenggarakan pameran bertajuk “Tales of The Land We Live In.” Acara ini mendapat dukungan dari instansi terkait, seperti Diskominfo, Dinas Koperasi dan UMKM, Biro Humas dan Protokol DIY, serta Satpol PP. Pameran yang berlangsung di Sasono Hinggil Dwi Abad pada 14 – 16 November 2024 ini bertujuan untuk memperkenalkan Tanah Kasultanan Yogyakarta kepada masyarakat luas.

Moh. Qayyim Autad, S.Kom., M.T., Kabid Penatausahaan dan Pengendalian Pertanahan DPTR DIY, menjelaskan bahwa pameran ini akan menampilkan berbagai informasi tentang peruntukan Tanah Sultan Ground (SG) di DIY. Pengunjung dapat memahami bahwa Tanah SG tidak hanya diperuntukkan bagi ruang usaha, tetapi juga memiliki banyak fungsi lain. Ia menambahkan, pameran ini akan mengupas sejarah penggunaan Tanah SG sejak tahun 1755 hingga 2024, menjelaskan dasar penentuan status tanah secara transparan untuk mencegah kesalahpahaman.

“Akan disampaikan dari sudut pandang sejarah mulai 1755 hingga 2024. Apa dasar digunakan penentuan SG atau bukan. Jangan sampai ada kesan penentuan sepihak dan kesalahpahaman. Semua bisa diketahui baik masyarakat maupun siapa saja yang membutuhkan,” jelasnya, Kamis (7/11/2024).

Bimo Unggul Yudo, Carik KHP Datu Dana Suyasa, menambahkan bahwa pameran ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dan pemangku kepentingan tentang karakteristik Tanah Kasultanan di DIY, yang berbeda dari daerah lain di Indonesia. “Kami berharap masyarakat memahami tata kelola Tanah Kasultanan, sehingga kecemasan dan kesalahpahaman terkait isu pertanahan bisa berkurang,” tambahnya.

Sementara itu, Sophi Perenissa, Ketua Pelaksana Pameran Pertanahan 2024, menyampaikan bahwa pameran ini akan menjadi sarana bagi masyarakat untuk lebih memahami sejarah dan nilai Tanah Kasultanan sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat DIY sejak masa Sri Sultan Hamengku Buwono I. “Tanah Kasultanan berperan sebagai lahan pendukung bagi masyarakat, baik untuk tempat tinggal maupun usaha, dalam upaya pemberdayaan masyarakat lokal,” ujarnya. Namun, perubahan zaman dan perkembangan sosial-ekonomi menimbulkan tantangan baru dalam tata kelola dan pemanfaatan tanah ini.

Melalui pameran ini, masyarakat akan disuguhkan instalasi yang menampilkan perjalanan panjang sejarah Tanah Kasultanan, termasuk peta pemanfaatan lahan yang menunjukkan peran vital tanah ini dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Yogyakarta. Menurut Sophi, visualisasi tersebut diharapkan mampu memberi wawasan lebih kepada pengunjung tentang nilai sosial, budaya, dan ekonomi dari Tanah Kasultanan.

“Kami ingin masyarakat mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang sejarah serta hak dan tanggung jawab dalam memanfaatkan dan melestarikan Tanah Kasultanan. Pameran ini juga menjadi wadah pertukaran informasi mengenai kabar terkini seputar Tanah Kasultanan, sehingga masyarakat dapat mengikuti perkembangan dan tantangan dalam pengelolaannya,” jelasnya.

Lebih dari sekadar pameran, “Tales of The Land We Live In” diharapkan dapat menjadi media edukasi yang efektif bagi masyarakat untuk mengenali peran Tanah Kasultanan dalam struktur sosial-ekonomi DIY, termasuk tantangan regulasi dan tata kelola berbasis budaya lokal. Pameran ini bertujuan agar masyarakat semakin menghargai dan berpartisipasi dalam menjaga warisan Tanah Kasultanan demi keberlanjutan bagi generasi berikutnya.

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*