
JoSS, SOLO – Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo melaporkan penemuan 399 kasus baru Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sejak Januari hingga awal November 2024. Jumlah ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencapai 453 kasus.
Informasi ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) DKK Solo, Tenny Setyoharini, dalam konferensi pers di acara Yayasan Mitra Alam yang berlangsung di Warteg Bolodewe, Manahan, Solo, pada Selasa (5/11/2024). Tenny menjelaskan, dari 399 ODHA yang ditemukan pada 2024, baru 259 orang yang menerima pengobatan.
“Sehingga yang perlu ditingkatkan setelah ditemukan adalah diobati untuk pencegahan penularan yang lebih luas, ditekan replikasi virusnya dan kekebalan tubuh tidak begitu buruk karena dibantu obat, dan harapannya bisa tetap produktif,” kata Tenny.
Dari total 399 ODHA, sebanyak 93 orang adalah warga Solo, sedangkan 306 sisanya berasal dari luar kota. Dari 93 ODHA warga Solo, 65 di antaranya masih dalam tahap HIV, sementara 28 sudah dalam status AIDS. Kasus ini tersebar di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Laweyan (20 kasus), Serengan (7 kasus), Pasar Kliwon (12 kasus), Jebres (21 kasus), dan Banjarsari (33 kasus).
Tenny juga menyebut bahwa banyaknya kasus ODHA dari luar Solo disebabkan oleh akses layanan HIV/AIDS yang lebih tersedia di Solo, sehingga kota ini menjadi tujuan rujukan bagi masyarakat Soloraya dan daerah sekitarnya.
Meski berasal dari luar kota, DKK Solo tetap memastikan ODHA tersebut mendapat layanan kesehatan yang sesuai di seluruh fasilitas kesehatan. Tenny menyoroti bahwa tantangan utama dalam penanganan HIV/AIDS adalah rendahnya kesadaran populasi kunci dan berisiko untuk menjalani tes HIV/AIDS.
Populasi Kunci dan Berisiko
Populasi kunci adalah kelompok dengan risiko tinggi terinfeksi HIV karena perilaku tertentu, seperti pekerja seks, transgender, lelaki yang berhubungan dengan lelaki, dan pengguna narkoba suntik. Populasi berisiko mencakup kelompok seperti ibu hamil, pasien TB, serta warga binaan pemasyarakatan.
DKK Solo telah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan HIV/AIDS. “Saya rasa kalau faktor edukasi tidak, faskes yang minim juga tidak. Hanya, orang berisiko HIV/AIDS itu kalau mau tes itu merasa malu sehingga tidak mau mengakui. Sehingga ODHA ini memang butuh yakinkan. Mulai dari urgensi tes, tujuan tes, jika nanti positif langkahnya bagaimana, dukungan siapa saja yang diperlukan dan sebagainya,” jelas Tenny.
Salah satu tantangan yang dihadapi DKK Solo adalah tingginya angka loss to follow up (LFU), di mana ODHA tidak rutin mengonsumsi obat antiretroviral (ARV). Selain itu, pengobatan sering kali terlambat dimulai, terutama bagi ODHA yang baru terdiagnosis.
Sementara itu, Direktur Yayasan Mitra Alam, Ligik Triyogo, menambahkan bahwa kasus ODHA di Solo masih cukup tinggi, dan penanganan tidak boleh hanya fokus pada populasi kunci. Menurutnya, edukasi mengenai HIV/AIDS perlu dimulai sejak pendidikan dasar dan menengah agar generasi muda memiliki pemahaman tentang risiko perilaku yang dapat menyebabkan infeksi.
“Seharusnya anak-anak diberikan informasi soal HIV/AIDS sedini dan semasif mungkin. Paling tidak dia memiliki pengetahuan untuk memilih dan memilah apa yang harus dilakukan apabila dia mengambil langkah perilaku berisiko (seks bebas, penasun, LSL dan sebagainya). Harapannya tentu mereka tidak mengambil pilihan tersebut, namun jika melihat fakta di lapangan banyak anak muda yang masih mengambil pilihan berisiko tersebut,” kata Ligik. Ia menekankan bahwa upaya untuk mengatasi HIV/AIDS membutuhkan kolaborasi dari berbagai elemen masyarakat dan penjangkauan yang berkelanjutan kepada populasi kunci.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS

Leave a Reply