
JoSS, SOLO – Pameran imersif bertajuk “Kawya” resmi dibuka di Museum Radya Pustaka Solo pada Senin, 28 Oktober 2024. Pameran ini berlangsung selama enam hari, hingga 2 November 2024, dan menampilkan berbagai karya dari para pujangga yang hidup di era Kerajaan Mataram Hindu hingga Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, serta sejarah aksara Jawa.
Pameran imersif merupakan inovasi yang menggabungkan teknologi informasi modern dalam penyampaian kontennya. Dalam ruangan pameran, dinding dan lantai diproyeksikan dengan gambar bergerak dan suara, menciptakan pengalaman yang menarik bagi pengunjung saat menikmati pameran.
Pembukaan pameran ini dilakukan oleh Pejabat Sementara (Pj) Wali Kota Solo, Dhoni Widianto, yang dihadiri oleh putri Paku Buwana (PB) XIII, GKR Timoer. Pameran ini juga merupakan bagian dari perayaan ulang tahun ke-134 Museum Radya Pustaka Solo, yang menyuguhkan puluhan karya dan cerita dari berbagai pujangga, termasuk Empu Prapanca dari Kerajaan Kediri dan Empu Sedah dari era Kerajaan Airlangga, yang dikenal lewat karya Kakawin Bharatayudda.
Tidak hanya itu, pameran ini juga menampilkan pujangga terkenal dari Keraton Kasunanan Surakarta, seperti Yosodipuro yang menggubah Serat Rama dan Ronggowarsito yang terkenal dengan Serat Kalatidha. Salah satu area paling menarik adalah ruang imersif di bagian akhir pameran, yang diubah menjadi ruangan berwarna biru dengan lampu warna-warni dan menyajikan sejarah pujangga serta aksara Jawa melalui video.
Tema pameran, “Stories of the Ancient Poets,” tidak hanya menghadirkan karya-karya pujangga, tetapi juga menggali sejarah aksara Jawa, dari awal pembentukannya hingga bentuk Hanacaraka yang digunakan saat ini.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Solo, Aryo Widyandoko, menyatakan bahwa pameran ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa museum tidak hanya berisi barang mati, melainkan juga dapat mengikuti perkembangan zaman. Ia menambahkan bahwa pameran imersif sebelumnya telah mendapatkan respons positif dari masyarakat.
Dhoni Widianto berharap agar Museum Radya Pustaka, sebagai museum tertua di Indonesia, dapat menjadi pusat pelestarian budaya yang aktif dan inklusif. Ia juga meminta Disbudpar untuk memperkaya program-program dan mengedepankan inovasi digital agar museum lebih menarik bagi kalangan muda. Pameran imersif ini dapat memicu semangat untuk menjaga dan melestarikan budaya kita.
“Terakhir saya mendorong Disbudpar mengembangkan program-program budaya dan pariwisata yang memperkuat citra Kota Solo sebagai kota berbudaya yang mendunia. Saya berharap pameran imersifa bisa memantik semangat untuk menjaga dan melestarikan budaya kita,” katanya dalam sambutan.
Pengunjung dapat mengakses Pameran Imersif Kawya mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB dengan tiket masuk seharga Rp10.000 per orang. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat berkunjung, seperti larangan membawa makanan dan minuman ke dalam ruangan, tidak menyentuh koleksi museum, menghindari penggunaan flash saat memotret, serta mematuhi peraturan yang berlaku di museum.
Cek berita dan artikel lainnya diĀ GOOGLE NEWS

Leave a Reply