Puncak Grebeg Mulud Kraton Yogyakarta 2024: Arak-arakan Gunungan dan Tradisi Budaya

Kraton Yogyakarta telah melaksanakan rangkaian peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan menggelar Hajad Dalem Sekaten sejak Senin (09/09) hingga Minggu (15/09)
Kraton Yogyakarta telah melaksanakan rangkaian peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan menggelar Hajad Dalem Sekaten sejak Senin (09/09) hingga Minggu (15/09) (Dokumentasi Humas Pemprov DIY)

Puncak Grebeg Mulud Kraton Yogyakarta 2024: Arak-arakan Gunungan dan Tradisi Budaya

JoSS, JOGJA – Kraton Yogyakarta kembali menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada tahun 2024 melalui serangkaian acara tradisional, termasuk Hajad Dalem Sekaten dan puncaknya, prosesi Grebeg Mulud. Acara ini berlangsung dari Senin (9/9) hingga Minggu (15/9), dengan puncak perayaan pada Senin (16/9). Sebanyak tujuh gunungan diarak dari Keraton Yogyakarta menuju Masjid Gedhe sebagai bagian dari tradisi yang telah berlangsung berabad-abad.

Dalam prosesi Grebeg Mulud, terdapat lima jenis gunungan yang diarak, yaitu Gunungan Kakung, Estri (Wadon), Gepak, Dharat, dan Pawuhan. Dari tujuh gunungan tersebut, tiga Gunungan Kakung dipersembahkan untuk Masjid Gedhe, Pura Pakualaman, dan Kepatihan. Sedangkan sisanya, termasuk Gunungan Kakung, dibagikan kepada masyarakat di Masjid Gedhe.

Gunungan-gunungan ini berfungsi sebagai simbol sedekah dari Sultan kepada rakyatnya, melambangkan syukur kepada Tuhan serta mempererat hubungan antara manusia dengan Tuhan dan sesama manusia. Setelah prosesi doa di Masjid Gedhe, gunungan-gunungan ini dibagikan kepada masyarakat yang memperebutkan isinya, berupa sayuran dan hasil bumi lainnya, sebagai wujud keberkahan.

Salah satu Gunungan Kakung diarak menuju Pura Pakualaman dan diserahkan kepada KRT Projo Anggono sebagai perwakilan dari Pura Pakualaman. Setelah diserahterimakan dan didoakan, GKBRAA Paku Alam, mewakili Kadipaten Pura Pakualaman, memulai pengambilan ubarampe atau isi dari gunungan tersebut. Selanjutnya, gunungan tersebut dibawa ke Alun-Alun Pura Pakualaman untuk dibagikan kepada masyarakat yang telah menunggu dengan penuh antusias.

Banyak masyarakat percaya bahwa mendapatkan bagian dari gunungan akan membawa berkah. Seperti yang diungkapkan Yanuar, warga Gunung Ketur, Pakualaman, yang rutin mengikuti grebeg gunungan setiap tahunnya. “Ikut nguri- nguri budaya sekaligus mendapatkan berkah dari keraton. Sudah menjadi rutinitas saya setiap tahun apabila ada grebeg gunungan uang dikirimkan ke Pura Pakualaman. Pokoknya harus ikut dan pasti datang,” katanya. Yuli, warga lain dari daerah yang sama, menambahkan bahwa ia selalu datang setiap tahun untuk mengikuti prosesi grebeg gunungan ini.

Salah satu hal yang menarik perhatian pada prosesi Grebeg Mulud tahun ini adalah keterlibatan empat ekor gajah dari Kebun Binatang Gembira Loka. Gajah-gajah ini turut mengawal Gunungan Kakung yang diarak dari Keraton Yogyakarta menuju Pura Pakualaman, diiringi oleh Bregada Pura Pakualaman yaitu Dragunder dan Plangkir. Kehadiran gajah-gajah tersebut menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi anak-anak. Mari, warga Sleman, yang datang bersama ketiga anaknya, mengungkapkan kegembiraannya karena bisa melihat gajah-gajah tersebut secara langsung.

Pelaksanaan Grebeg Mulud tahun ini diiringi oleh sepuluh bregada prajurit keraton, yakni Wirabraja, Dhaeng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Ketanggung, Mantrijero, Nyutra, Bugis, dan Surakarsa. Prajurit-prajurit ini bertugas mengawal gunungan selama prosesi. Gunungan dari Bangsal Pancaniti di Kamandungan diarak melewati Regol Brajanata Sitihinggil Lor menuju Masjid Gedhe untuk didoakan.

KRT Rintaiswara, Penghageng KHP Widya Budaya, menjelaskan bahwa kata “grebeg” dalam bahasa Jawa berarti “berjalan bersama-sama”. Gunungan dalam prosesi ini juga mencerminkan masyarakat agraris, di mana sayuran dan hasil bumi yang diarak melambangkan kesejahteraan dan keberkahan.

Pada Grebeg Mulud tahun 2024, Kraton Yogyakarta juga menghidupkan kembali beberapa elemen tradisional, seperti kehadiran Abdi Dalem Lurah Citralata dan Pralata yang bertugas mengiringi gunungan. Mereka berjalan di depan rangkaian gunungan sambil menari dan bertingkah lucu, sebagaimana yang tercatat dalam dokumen arsip tahun 1933/1934. Selain itu, Gamelan Kanjeng Kiai Guntur Sari dimainkan untuk mengiringi prosesi, menciptakan suasana sakral dan meriah.

Umbul-umbul (bendera) Gula Kiapa berwarna merah putih turut dipasang sebagai simbol keprabon Dalem, melambangkan kekuasaan Sultan. Warna-warni umbul-umbul rontek juga hadir untuk mewakili kesatuan Kanayakan keraton, menegaskan komitmen Kraton Yogyakarta dalam melestarikan kebudayaan lokal yang penuh makna.

Melalui rangkaian Grebeg Mulud ini, Kraton Yogyakarta tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mempertegas perannya sebagai pusat kebudayaan yang terus menghubungkan masa lalu dan masa kini.

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*