Keunikan Sate Klathak: Kuliner Legendaris Warisan Budaya Jogja

Sate Klathak Warisan Budaya Jogja
Ilustrasi Sate

Keunikan Sate Klathak: Kuliner Legendaris Warisan Budaya Jogja

SATE Klathak, kuliner khas Yogyakarta yang terkenal unik dan legendaris, kini semakin populer di kalangan pecinta kuliner, baik lokal maupun wisatawan. Berbeda dari sate pada umumnya, Sate Klathak menggunakan tusukan besi atau jeruji sepeda untuk membakar potongan daging kambing muda yang besar. Inovasi ini tidak hanya membuat tampilan Sate Klathak berbeda, tetapi juga memberikan tekstur daging yang empuk dan cita rasa yang khas.

Kuliner yang banyak ditemukan di daerah Bantul, khususnya sepanjang Jalan Imogiri Timur, ini telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Hal ini menjadikan Sate Klathak tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang patut dilestarikan.

Sate Klathak disajikan dengan sederhana, hanya menggunakan bumbu garam, merica, dan bawang. Uniknya, sate ini disajikan dengan kuah gulai yang terpisah, menambah kenikmatan pada setiap gigitannya. Penggunaan tusuk besi memberikan hasil bakaran yang lebih merata, sehingga daging terasa lebih lezat dan empuk.

Salah satu tempat yang paling legendaris untuk menikmati Sate Klathak adalah Warung Sate Klathak Pak Bari di Pasar Wonokromo, Bantul. Warung ini semakin terkenal setelah menjadi lokasi syuting film “Ada Apa dengan Cinta? 2” (AADC 2). Subari, atau lebih dikenal sebagai Pak Bari, telah meneruskan usaha warung sate ini dari ayahnya sejak tahun 1992 ketika ia baru berusia 15 tahun. Awalnya, warung ini hanya dikenal oleh warga sekitar, tetapi seiring waktu, popularitasnya merambah hingga ke kalangan artis dan wisatawan.

Pak Bari menceritakan bahwa nama “Klathak” berasal dari pohon melinjo atau “klathak” di bawah pohon tempat warungnya berdiri. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa nama “Klathak” diambil dari bunyi ‘klatak’ yang dihasilkan saat daging sate dibakar. Terlepas dari asal-usul namanya, keunikan dan kelezatan Sate Klathak telah menarik perhatian banyak orang, sehingga tak heran jika warung Pak Bari selalu ramai pengunjung, bahkan sebelum warung buka.

Setiap harinya, Pak Bari harus menyembelih dua hingga tiga ekor kambing untuk memenuhi permintaan pelanggan yang terus meningkat. Meskipun harga seporsi Sate Klathak sekitar Rp27 ribu untuk dua tusuk, popularitasnya tidak surut. Bahkan, pengakuan sebagai WBTb semakin meningkatkan minat masyarakat untuk mencicipi kuliner ini.

Pak Bari merasa bangga bahwa Sate Klathak telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda. Ia mengungkapkan bahwa meskipun banyak warung sate klathak bermunculan di sekitar tempatnya, setiap warung memiliki pelanggan setia masing-masing. Hal ini membuatnya tetap tenang dan yakin bahwa usahanya akan terus berjalan dengan baik.

Bagi Anda yang berkunjung ke Yogyakarta, mencicipi Sate Klathak adalah pengalaman yang tidak boleh dilewatkan. Dengan daging yang empuk dan cita rasa yang unik, sate ini semakin nikmat disantap bersama nasi putih hangat dan teh panas. Meskipun warung Sate Klathak biasanya hanya buka dari sore hingga malam hari, namun antrian panjang tidak pernah surut. Jadi, pastikan untuk mampir dan menikmati salah satu kuliner legendaris yang juga menjadi bagian dari kekayaan budaya Yogyakarta. Setiap gigitan Sate Klathak adalah sajian tradisi yang penuh makna.

 

 

Cek berita dan artikel lainnya diĀ GOOGLE NEWS

Keunikan Sate Klathak: Kuliner Legendaris Warisan Budaya Jogja

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*