Komisi I DPR RI Pertanyakan Sikap Kominfo Terkait Operasional Starlink di Indonesia

Starlink Indonesia
Anggota Komisi I DPR RI, Fraksi Partai Golkar, Nurul Arifin dalam Raker dengan Menkominfo RI, 10/06/2024. (Tangkapan Layar Youtube TVR Parlemen)

JoSS, JAKARTA – Anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin menyampaikan pertanyaan kritis terkait sikap pemerintah, khususnya Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), seiring dengan beroperasinya layanan Starlink secara penuh di Indonesia. Pertanyaan ini muncul dalam Rapat Kerja dengan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi yang digelar hari ini.

Nurul Arifin, menyatakan keprihatinannya terhadap dampak masuknya Starlink ke pasar ritel Indonesia. Sebelumnya, Starlink hanya melayani segmen bisnis, namun kini telah merambah ke pasar ritel yang memicu kekhawatiran dalam industri telekomunikasi domestik.

“Tanggal 19 Mei saat Elon Musk datang ke Indonesia untuk meresmikan Starlink di Indonesia, layanan berbasis orbit rendah ini menimbulkan pro dan kontra. Sikap Kominfo itu sebetulnya bagaimana, Pak?” ungkap Nurul pada Senin (10/6/2024).

Nurul Arifin juga mempertanyakan apakah pemerintah telah melakukan kajian mendalam terkait dampak perluasan cakupan bisnis Starlink, dari segmen korporasi ke ritel. Menurutnya, kajian ini penting mengingat potensi kerugian yang bisa dialami industri telekomunikasi nasional.

“Kontranya sudah dipelajari belum? Yang pronya bagaimana? Karena ini kan merugikan industri telekomunikasi nasional,” tegas Nurul.

Meski menimbulkan kekhawatiran, Nurul juga mengakui bahwa layanan internet berbasis orbit rendah milik Elon Musk ini memiliki potensi manfaat, terutama dalam menyediakan akses internet di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Indonesia.

“Kalau kami melihat kenapa tidak di 3T saja Starlink itu beroperasi, kenapa di pusat? Apakah memang ada permintaan atau kompensasi diminta dari pihak Starlink?” tanya Nurul.

“Kalau kami berharap jangan membunuh industri telekomunikasi dalam negeri, khususnya Telkom itu sendiri,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Starlink yang pertama kali masuk ke Indonesia pada Juni 2024, awalnya hanya melayani pelanggan korporasi melalui kerja sama dengan Telkomsat, anak perusahaan Telkom. Namun, pada Mei 2024, Starlink memperluas jangkauannya dengan menyasar pelanggan ritel, yang diresmikan langsung oleh CEO SpaceX, Elon Musk.

Untuk menikmati layanan internet Starlink, pelanggan di Indonesia harus membeli perangkat keras seharga Rp 7,8 juta, dengan tarif layanan mulai dari Rp 750 ribu per bulan.

 

 

Cek berita dan artikel lainnya diĀ GOOGLE NEWS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*