Joe Biden dan Donald Trump akan Bersaing Kembali dalam Pemilu Presiden AS

Trump dan Biden (Foto: AP/Morry Gash)

JoSS, WASHINGTON DC – Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan mantan Presiden Donald Trump akan kembali bertarung memperebutkan pucuk kekuasaan pada pemilihan presiden AS yang akan digelar pada November mendatang.

Biden berhasil meraih suara yang cukup untuk menjadi kandidat resmi calon presiden dari Partai Demokrat setelah memperoleh lebih dari 1.968 delegasi.

Biden melampaui angka tersebut pada Selasa (12/3) malam setelah hasil perhitungan suara dari Georgia dan Mississippi keluar dengan hasil memuaskan baginya. Sementara itu, Trump dikabarkan telah meraih 1.215 delegasi yang memastikan posisinya sebagai kandidat dari Partai Republik.

“Para pemilih sekarang memiliki pilihan untuk menentukan masa depan negara ini. Apakah kita akan berdiri dan membela demokrasi atau membiarkan orang lain meruntuhkannya? Akankah kita mengembalikan hak untuk memilih dan melindungi kebebasan kita atau membiarkan ekstremis merampasnya?” ujar Biden seperti dilansir dari Reuters, Rabu (13/3/2024).

Trump pada Jumat di Roma, Georgia, kembali menyerukan klaimnya tentang kecurangan dalam pemilu 2020 lalu. Dia juga menuding pengacara Fulton County, Fani Willis, melakukan keadilan secara politis. Trump juga menyerang Biden karena dinilai gagal dalam menangani arus migran di perbatasan selatan AS, yang menjadi prioritas kampanyenya mengalahkan Biden.

Pertarungan presiden AS terakhir kali terjadi pada tahun 1956, di mana Presiden Partai Republik Dwight Eisenhower mengalahkan mantan Gubernur Illinois Adlai Stevenson, seorang Demokrat, untuk kedua kalinya.

Meskipun demikian, tahun ini, para pemilih tidak terlalu antusias menghadapi pemilu yang panas seperti pada 2020 lalu. Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan bahwa Biden dan Trump tidak lagi populer di kalangan mayoritas pemilih.

Trump saat ini menghadapi 91 dakwaan kejahatan dalam empat dakwaan terpisah, yang dapat membahayakan posisinya di kalangan pemilih pinggiran kota yang rata-rata berpendidikan tinggi. Sementara itu, Biden mulai dipertanyakan karena dianggap terlalu tua untuk memerintah negara dan dinilai kurang mengatasi krisis di perbatasan AS-Meksiko. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*