Pemkot Semarang Koordinasi dengan Pengelola Bandara dan Pelabuhan Antisipasi Lonjakan Kasus COVID-19

Wali kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu saat menggelar jumpa pers terkait antisipasi peningkatan kasus covid di wilayahnya. (Foto: semarangkota.go.id)

JoSS, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang segera mengambil langkah proaktif untuk mengantisipasi penyebaran COVID-19 di tengah munculnya kembali kasus positif di kota ini.

Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, menyatakan bahwa meskipun bandara setempat tidak menerima kedatangan penerbangan internasional, tetapi adanya arus wisatawan dari Bali menimbulkan kendala dalam pemantauan penumpang pesawat.

“Pemantauan penumpang pesawat memang menjadi tantangan tersendiri karena ada wisatawan yang masuk melalui Bali,” ungkap Wali Kota Hevearita, seperti dikutip dari Antara, Rabu (13/12/2023).

Menyadari situasi ini, Pemerintah Kota Semarang segera berkoordinasi dengan pengelola Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), serta instansi terkait lainnya. Hevearita menegaskan pentingnya koordinasi ini, terutama dengan mendekati libur Natal dan Tahun Baru.

“Dari tiga kasus COVID-19 yang ditemukan di Semarang, dua di antaranya memiliki riwayat perjalanan dari luar negeri. Oleh karena itu, kami harus memperkuat lapisan pertahanan di pintu masuk,” tambahnya.

Wali Kota juga menegaskan bahwa koordinasi akan dilakukan melalui pertemuan daring, melibatkan seluruh jajaran, termasuk Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan instansi vertikal. “Kami akan segera mengadakan rapat daring melalui Zoom untuk persiapan. Mengingat kondisi saat ini, rapat offline terlalu riskan,” jelas Hevearita.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Semarang telah melaporkan adanya tiga kasus baru COVID-19 di wilayah tersebut setelah sekian lama absen dari kasus positif. Ketiga pasien tersebut telah menjalani isolasi mandiri dengan gejala ringan.

Sementara itu, Kabid Dokkes Polda Jawa Tengah, Komisaris Besar Polisi Sumi Hastry, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran COVID-19, khususnya menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2024. Hal ini menyusul adanya lonjakan kasus varian ERIS dalam beberapa pekan terakhir.

“Varian ERIS merupakan turunan varian sebelumnya dengan tingkat penularan yang cukup tinggi,” ujar Sumi Hastry dalam keterangan kepada media di Semarang pada Selasa.

Meskipun gejala yang ditunjukkan relatif ringan, seperti batuk, pilek, demam, mual, dan muntah, Sumi Hastry memperingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan penyebaran varian baru ini. Terutama, ia menekankan kewaspadaan bagi warga lanjut usia dan mereka yang memiliki riwayat penyakit bawaan.

“Kami mengimbau agar masyarakat tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan, termasuk penggunaan masker dan menjaga jarak. Jika ada gejala sakit, segera konsultasikan ke dokter untuk diagnosis yang tepat,” tegasnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*