Jawa Tengah Perkuat Perang Melawan DBD dengan Teknologi Nyamuk Berwolbachia

Ahli Entomologi World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta, Warsito Tantowijoyo saat Sosialisasi Teknologi Nyamuk Aedes Aegypti Berwolbachia dalam Pengendalian Infeksi Dengue, di Aula Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Kamis (30/11/2023). (foto: jatengprov.go.id)

JoSS, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mengintensifkan upaya pencegahan infeksi Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui pemanfaatan teknologi nyamuk Aedes aegypti berwolbachia. Pendekatan ini dinilai berhasil menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat DBD di beberapa wilayah.

Warsito Tantowijoyo, Ahli Entomologi dari World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta, menyampaikan bahwa kasus DBD masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Hingga November 2023, tercatat lebih dari 76 ribu kasus dengan 571 kematian, menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Wolbachia merupakan bakteri alami yang dimasukkan ke dalam nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk yang mengandung wolbachia ini tidak menyebarkan penyakit dengue pada manusia,” jelas Warsito saat Sosialisasi Teknologi Nyamuk Aedes Aegypti Berwolbachia di Aula Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Kamis (30/11/2023).

Penerapan teknologi ini telah diuji coba di Yogyakarta dan Bantul, dengan hasil mampu menekan kasus demam berdarah hingga 77% dan menurunkan proporsi dirawat di rumah sakit sebesar 86%.

Sekda Jawa Tengah, Abdul Hakam, menambahkan bahwa Semarang menjadi salah satu kota yang menjadi pilot project penyebaran nyamuk berwolbachia melalui gerakan Wingko Semarang. Pada September 2023, nyamuk berwolbachia telah disebar di tiga kecamatan di Kota Semarang.

Hakam menekankan keamanan penggunaan bakteri wolbachia ini karena hanya hidup di serangga dan tidak pernah ditemukan pada manusia dan mamalia. Meski demikian, pemantauan dan evaluasi terus dilakukan untuk memastikan keberhasilan program ini.

Agus Andito, Tim Kerja Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, menegaskan bahwa implementasi teknologi nyamuk berwolbachia menjadi pelengkap, bukan pengganti upaya pencegahan lainnya, seperti Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan Pemberantasan Jentik Nyamuk (PJN).

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, menyoroti tantangan persepsi masyarakat terhadap program ini dan mengajak semua pihak untuk memberikan pemahaman yang benar guna mencapai keberhasilan proyek tersebut. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*