
JoSS, JAKARTA – Peneliti Klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, memperkirakan bahwa kekeringan akan mulai terjadi di Indonesia pada bulan Juni. Hal ini disebabkan oleh munculnya fenomena El Nino.
Melalui cuitannya di Twitter pada Kamis (25/5), Erma menjelaskan bahwa El Nino diperkirakan akan terjadi pada bulan Juni dan berdampak pada penyebaran kondisi kering yang lebih luas pada bulan Juli. Hal ini kemungkinan akan membuat bulan Juli menjadi bulan yang paling kering, terutama di Pulau Jawa.
Erma juga menunjukkan beberapa fakta yang mendukung potensi kekeringan di Indonesia. Pertama, terdapat siklon tropis Mawar di utara Papua dekat Filipina yang telah menggeser pusat konveksi dari selatan ke utara ekuator.
Kedua, terdapat rendahnya kelembapan yang berkaitan dengan keadaan atmosfer yang kering di selatan Indonesia, kecuali di wilayah timur Indonesia.
Ketiga, Erma juga menyoroti tingginya kelembapan yang terpantau di sebelah timur Indonesia dekat Papua, yang berkaitan dengan fenomena South Pacific Convergence Zone (SPCZ).
Erma mengatakan bahwa SPCZ berperan sebagai benteng terakhir yang melindungi Indonesia dari dampak El Nino. Jika SPCZ menghilang, maka El Nino dapat dengan cepat muncul, dan wilayah timur Indonesia akan mengalami dampak kering yang lebih cepat karena dekat dengan Samudra Pasifik.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga telah memprediksi kemunculan El Nino pada bulan Juli dan Agustus.
Menurut Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III Denpasar, I Nyoman Gede Wiryajaya, El Nino adalah fenomena alam yang bersifat global, tetapi dampaknya dirasakan secara lokal dan bervariasi di setiap wilayah. Kemungkinan musim kemarau akan menjadi lebih kering dan lebih panjang.
Meteorological Survey Singapore (MSS) juga mencatat bahwa saat ini kondisi ENSO (El Nino-Southern Oscillation) berada dalam keadaan “Netral”. Namun, ada tanda-tanda di Pasifik tropis yang mendukung perkembangan kondisi El Nino dalam beberapa bulan ke depan, seperti adanya peningkatan suhu laut di bawah permukaan.
Indeks Nino 3.4 saat ini menunjukkan kondisi ENSO-netral, dengan suhu -0,33°C untuk Maret 2023 dan rata-rata 0,64°C untuk Januari hingga Maret 2023.
MSS memprediksi bahwa kondisi ENSO-netral akan berlanjut pada Mei-Juni 2023, sementara kondisi El Nino akan berkembang pada bulan Juli hingga Agustus. Namun, masih ada kemungkinan kondisi ENSO-netral pada paruh kedua tahun 2023 karena model memiliki akurasi yang lebih rendah pada tahun ini. (lna)

Leave a Reply