
FILM komedi romantis Thailand berjudul Friendzone yang tayang di Netflik viral di media sosial. Banyak yang membahasnya karena kondisi tersebut mirip dengan yang dialami sebagian besar orang dewasa. Bahkan mereka terjebak dalam situasi pertemanan yang sulit ini selama bertahu-tahun dan tidak bisa mengakhirinya dengan baik.
Film itu sedikit banyak menggambarkan mengenai hubungan dua orang yang terjebak di zona pertemanan atau friendzone. Beruntungnya, kisah dalam film tersebut berakhir happy ending. Tokoh pria yang terjebak friendzone selama 10 tahun akhirnya diterima cintanya oleh si tokoh perempuan.
Sayangnya, tidak semua hubungan seperti ini berakhir bahagia. Malahan kadang lebih banyak berakhir dengan kesedihan dan kekecewaan pada salah satu pihak.
Istilah Friendzone secara populer diartikan zona pertemanan. Satu pihak dalam pertemanan menginginkan hubungan lebih dari sekadar teman. Merujuk publikasi Disolusi Hubungan Persahabatan Lawan Jenis Ketika Friendzone, zona pertemanan diartikan sebagai kondisi seseorang memiliki perasaan romantis yang tidak berbalas dari temannya.
Friendzone menggambarkan situasi yang tidak diinginkan, terkadang dianggap tidak menyenangkan. Friendzone berkemungkinan menampilkan keadaan kegagalan emosional. Pertemanan yang terjebak Friendzone tidak selalu berakhir indah.
Adanya keinginan untuk mengembangkan hubungan dari teman menjadi pacar tidak terwujud berakibat pertemanan renggang atau keretakan.
Dalam kasus friendzone, retaknya hubungan pertemanan bisa saja terjadi baik secara berangsur atau mendadak. Muncul keinginan mengurangi atau langsung putus komunikasi dan interaksi dengan sahabatnya.
Merujuk publikasi Regulasi Emosi pada Individu yang Mengalami Pertemanan Romantisme Tidak Berbalas (Friendzone), kerentanan yang dihadapi dalam situasi friendzone menuntut individu untuk mengontrol emosinya. Cara itu sebagai bentuk strategi untuk menjawab tantangan yang harus dipenuhi dari kondisi tersebut.
Individu harus mampu mengidentifikasi dan menilai status hubungan pertemanan, terutama bereaksi secara emosional. Pengendalian emosi menjadi tantangan dalam situasi friendzone.
Ada sejumlah faktor yang mendorong munculnya friendzone, antara lain:
1. Kurangnya kualitas untuk menjadi cukup menarik bagi temannya. Orang yang dalam situasi friendzone perlu menarik secara fisik, percaya diri menarik perhatian temannya
2. Kurangnya menemukan kecocokan yang ideal di antara keduanya karena untuk menjalin hubungan harus saling cocok.
3. Hanya satu orang yang berkomitmen terhadap hubungan, sedangkan temannya tidak.
Terjebak friendzone sangatlah tidak menyenangkan, apalagi kalau sudah sangat menyukainya. Meski demikian, kamu harus mampu bersikap tegas agar hubungan tidak menyenangkan ini tidak berkepanjangan.
Nah, sejumlah tips berikut ini bisa Anda coba agar bisa keluar dan move on dari friendzone.
1. Jangan Terlalu Berusaha
Hubungan friendzone adalah hubungan yang tidak seimbang karena salah satu pihak berusaha lebih daripada yang lainnya.
Agar lebih mudah keluar dari situasi ini, cobalah untuk tidak terlalu berusaha seperti sebelumnya.
Kurangi frekuensi mengirim pesan, menelepon, atau mengajaknya bertemu lebih dulu. Hal ini akan membantumu perlahan-lahan move on dari hubungan ini.
2. Tidak Selalu Ada
Ketika menyukai seseorang, kita akan dengan mudahnya bilang ‘ya’ dan berusaha selalu ada untuknya, mengorbankan waktu, perasaan hingga materi yang dimiliki.
Mulai sekarang, ambil sikap tegas dengan berani menolak jika dia minta bantuan ataupun sekadar ditemani untuk jalan-jalan di luar. Dengan begitu, dia tidak akan selalu bergantung pada kehadiranmu ataupun sebaliknya.
3. Fokus pada Diri Sendiri
Cara agar bisa keluar dari friendzone adalah dengan fokus pada mengembangkan diri dan melakukan hal-hal bermanfaat.
Ada banyak hal yang bisa mengalihkan perhatianmu darinya, misalnya saja melakukan hobi favorit, seperti: belajar make up, belajar masak, jogging sendirian dan kegiatan apa pun yang bisa membuat kamu menjadi lebih baik
4. Tegas dengan Batasan
Memutus pertemanan sepihak ketika berada dalam hubungan friendzone bukanlan keputusan yang bijak.
Agar bisa perlahan keluar dari hubungan ini, buatlah batasan-batasan yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam pertemanan kalian.
Misalnya saja, menolak ketika orang yang ditaksir bercerita tentang perempuan disukainya, meminta saran ketika menembak seseorang dan sebagainya. Jangan sampai perasaan sepihakmu itu merugikan diri dan menghancurkan pertemanan kalian, ya.
5. Jujur dengan Perasaan
Langkah terakhir yang bisa dilakukan jika terjebak friendzone adalah dengan menyatakan perasaanmu dengan jujur. Ajak dia mengobrol seperti biasa, supaya suasana tidak menjadi canggung.
Ungkapkan semua hal yang ingin disampaikan. Apa pun responsnya, terima dan tetap pertahankan hubungan pertemanan kalian. Memang perlu keberanian melakukan hal ini, tapi kalau tidak mencobanya, siapa yang tahu?
6. Temukan Gebetan Baru
Banyak yang bilang kalau cara terbaik untuk move on dari hubungan sebelumnya adalah mencari gebetan baru. Saran ini perlu dicoba agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan atau kekecewaan.
Siapa tahu ternyata gebetan barumu itu bisa membawa suasana menyenangkan dan membuatmu lebih cepat move on. (lna)

Leave a Reply