
PENDIRI Ponpes waria Al Fatah, Shinta Ratri meninggal dunia Rabu (1/2/2023) pagi tadi. Shinta dirawat di RSUD Jogja sejak Senin (30/1/2023) akibat gangguan asam lambung yang dia keluhkan.
Suasana haru mengiringi prosesi pemakaman pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) waria Al Fatah, Shinta Ratri (60). Shinta dimakamkan di tempat pemakaman Semoyan, Kalurahan Singosaren, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul.
Dilantik dari detikJateng, tampak ratusan orang memadati pemakaman Semoyan. Tampak pula beberapa transpuan hadir untuk memberi penghormatan terakhir bagi Shinta.
Jenazah Shinta sendiri tiba di tempat pemakaman sekitar pukul 14.00 WIB. Selanjutnya, jenazah dimakamkan dengan prosesi agama Islam.
Jelang pukul 14.10 WIB warga mulai memasukkan jenazah ke dalam liang lahad. Setelah tertutup tanah, tampak seorang pria berpeci memimpin doa untuk almarhum Shinta.
Dalam suasana itu, tampak sebagian pelayat menampakkan raut muka sedih. Bahkan, beberapa diantaranya tak kuasa menahan air mata ketika doa bersama. Memasuki pukul 14.30 WIB, prosesi pemakaman selesai dan para pelayat meninggalkan tempat pemakaman tersebut.
Sebelumnya, Sekretaris Ponpes Al Fatah, YS Al Buchory mengatakan Shinta Ratri meninggal dunia akibat gangguan asam lambung yang dia keluhkan.
“(Meninggal) di rumah sakit, sekitar jam 5 subuh tadi. Dirawat sejak Senin sore. Jadi ada sekitar dua hari,” ujarnya, dilansir dari detik.jateng.
Dijelaskan Buchory, sekitar sepekan lalu Shinta sempat mengeluh asam lambung. Shinta lalu dibawa putrinya ke RSUD Jogja. Namun, menurut Buchory, Shinta enggan dirawat inap.
“Tapi beliau tidak mau opname karena mungkin beban pikiran beliau juga banyak terkait dengan kegiatan-kegiatan di ponpes,” terangnya.
Shinta Ratri meninggal dunia Rabu (1/2/2023), pukul 06.00 WIB, di RSUP dr Sardjito. Jenazah Shinta dimakamkan di Makam Semoyan, Banguntapan, Bantul, pukul 14.00 WIB siang ini.
Sosok Shinta dikenal sebagai aktif membela para transpuan untuk mendapatkan haknya beribadah. Oleh karenanya dia mendirikan Pondok Pesantren Waria Al-Fattah Jogja.
Shinta Ratri lahir dengan nama Tri Santoso Nugroho di Kota Jogja. Dia tumbuh di lingkungan keluarga pedagang kerajinan di Kotagede, Jogja.
Sejak SMA, Shinta Ratri sudah berwirausaha. Dia berprinsip untuk melakoni hidup tak sekedar menyenangkan orang lain.
“Sesungguhnya ketika kita menjadi diri sendiri, itu sudah menjadi sesuatu yang paling bahagia. Ketika kita menjadi diri yang disukai orang lain itu adalah penderitaan,” kata Shinta Ratri kepada detikNews pada Minggu, 18 April 2021 silam.
Shinta Ratri pun lulus sebagai sarjana biologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun dia memilih aktif sebagai pengusaha kerajinan perak.
Semasa hidupnya dia aktif memberdayakan para waria di lingkungan Jogja. Dia dipercaya menjadi Ketua IWAYO (Ikatan Waria Yogyakarta).
Shinta Ratri pun dipercaya memimpin Pondok Pesantren Waria Al-Fattah Yogyakarta. Ponpes Waria Al-Fattah ini kini menjadi tempat bernaung puluhan waria.
Atas dedikasinya terhadap perjuangan para transpuan, Front Line Defenders, organisasi internasional untuk perlindungan pembela hak asasi manusia (HAM) yang berbasis di Irlandia memberinya penghargaan pada 2019. Shinta Ratri diberikan penghargaan sebagai pejuang HAM mewakili regional Asia Pasifik. (lna)

Leave a Reply