Manuver Politiknya Dianggap Ganggu Kerja Kabinet Jokowi, Nasdem Pikir-Pikir

Ilustrasi kolase, manver politik partai Nasdem | Foto: rmolbanten.com/detik.com/kompas.com

JoSS, JAKARTA – Partai Nasional Demokrat (Nasdem) diminta untuktidak melakikan manuver-manuver politik yang dinilai bisa mengganggu kerja Kabinet Indonesia Maju Jokowi-Ma’ruf. Nasdem mengaku pikir-pikir untuk ketemu partai di luar koalisi.

Sebelumnya, Ketum Nasdem Surya Paloh melakukan pertemuan Presiden PKS Sohibul Iman di DPP PKS, Rabu (30/10). Ada beberapa hal yang dibahas kedua pimpinan parpol tersebut.

Pertemuan itu kemudian disinggung Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menyapa Paloh di acara HUT Golkar. Jokowi menyebut Paloh terlihat segar setelah bertemu dengan Sohibul Iman beberapa waktu lalu.

Mantan Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Dede Budhyarto mengatakan selain bisa mengganggi kerja Kabinet Jokowi-Ma’ruf, sudah seharusnya Nasdem menunjukkan konsistensi mendukung Jokowi-Ma’ruf.

“Kalau mau keluar, silakan, jangan bermanuver yang mengganggu pemerintah dan menghambat kerja pemerintah Jokowi,” ujar Dede Budhyarto di Jakarta, Sabtu (9/11).

Dede menilai, Partai Nasdem lebih bagus memilih cara elegan jika merasa tidak nyaman berada di kabinet Jokowi. Cara tersebut, dengan menjadi oposisi bersama PKS dan PAN. “Tegas-tegasan saja. Kalau mau mewujudkan restorasi perubahan, ya sudah menjadi oposisi sekalian, keluar saja dari koalisi, tarik semua menteri. Itu lebih elegan,” tegasnya.

Dede mangatakan pendukung Jokowi khususnya para netizen kecewa dengan langkah Partai Nasdem yang bertemu PKS dan Anies Baswedan termasuk pernyataan-pernyataannya yang cenderung menyindir Jokowi dan partai koalisi lainnya.

Baca juga: Jokowi Merasa Tak Pernah Dipeluk Surya Paloh Seerat Saat Memeluk Sohibul Iman

“Teman-teman netizen yang mendukung Jokowi sudah pada memprotes bahwa cara yang dilakukan Partai Nasdem kurang etis, padahal sudah dua kali mendukung Jokowi dengan mengusung misi restorasi,” ungkap Dede Budhyarto.

Dede mengungkap rangkaian fakta yang diduga bagian manuver Partai Nasdem belakanga adalah pertemuan Ketum Nasdem Surya Paloh dan para pengurusnya dengan PKS yang jarang dilakukan sebelumnya, apalagi dengan pelukan yang erat dengan Presiden PKS Sohibul Iman.

Kedua, tidak diundangnya Presiden Jokowi di acara pembukaan Kongres Nasdem. Justru Partai Nasdem mengundang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

“Setahu saya, semua partai di era Jokowi yang membuka Munas, ulang tahun atau acara lainnya, biasanya presiden atau wakil presiden. Presiden bisa membuka acara tersebut dan ditutup oleh wapres, tapi kok ini tiba-tiba memberikan kesempatan kepada Anies dengan alasan dia tuan rumah yang memberikan izin kegiatan. Itu alasan yang mengada-ada. Saya melihat, selain menunjukkan kekecewaan kepada Jokowi, Nasdem sudah menggadang-gadang Anies menjadi capres 2024,”pungkas Dede Budhyarto.

Menanggapi hal itu, Paloh mengaku masih pikir-pikir untuk bertemu dengan partai di luar koalisi pemerintah lagi. Paloh tidak ingin Nasdem dibilang pamer ke partai lain.

“Kita lihat, kan bisa salah interpretasi nanti. Kita berkunjung dibilang nanti show off (pamer),” kata Paloh di sela-sela Kongres II NasDem, di JI Expo Kemayoran, Minggu (10/11_

Dia mengatakan saat ini dirinya masih mengukur persepsi dan harapan masyarakata. Menurutnya, parpol juga hidup di tengah persepsi rakyat. Paloh mengatakan NasDem memperhatikan persepsi yang berkembang masyarakat selama ini. NasDem, kata Paloh, tetap membuka diri terhadap semua tafsiran masyarakat baik positif dan negatif.

“Boleh saja kita katakan go to hell dengan persepsi pandangan masyarakat. Tapi alangkah baiknya juga kalau perlu diperhatikan,” ucap Paloh. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*