
JoSS, MESIR – Pakar Arkeolog Mesir atau yang biasa disebut Egyptologist, Zahi Hawass bersama timnya telah mengungkap mumi seorang pendeta tinggi berusia 2.500 tahun di sebuah pemakaman kuno di selatan Kairo.Tim membuka tiga peti batu tertutup dari Dinasti ke-26.
Seperti dikutip dari Reuters, peti pertama berisi mumi seorang pendeta yang sangat terawat, dibungkus kain linen dan dihiasi dengan sosok emas yang menggambarkan Isis, seorang dewi Mesir kuno.
Tim tersebut juga membuka dua peti batu lainnya, satu berisi mumi perempuan yang dihiasi manik-manik biru dan yang ketiga merupakan seorang ayah di makam keluarga. Di situs pemakaman di provinsi Minya, tim juga menemukan kepala lilin langka.
“Saya tidak pernah menemukan pada akhir periode hal seperti ini,” kata Hawass, seperti dilansir Reuters, Selasa (9/4).
Para arkeolog Mesir menemukan situs itu setengah tahun yang lalu dan dilanjutkan dengan penggalian. “Saya benar-benar percaya bahwa situs ini membutuhkan penggalian mungkin untuk 50 tahun mendatang,” kata Hawass sebelum peti batu dibuka. Dia berharap lebih banyak makam dapat ditemukan di sana.
Pada 1927, sebuah peti batu kapur besar ditemukan di daerah itu dan ditempatkan di Museum Mesir di Kairo, tetapi situs itu kemudian dilupakan, kata Hawass. Tetapi dua tahun yang lalu seorang penggali ilegal ditemukan di lokasi itu dan berhenti.
Sebelumnya pada Februari lalu, para arkeolog Mesir juga telah menemukan sebuah makam Firaun yang berisi 50 mumi, di mana diyakini berasal dari era Ptolemeus, yaitu antara 323-330 Sebelum Masehi. Dikutip dari The Guardian, makam kuno tersebut ditemukan di kawasan Minya, yang berada di selatan Kairo, kata Kementerian Kepurbakalaan dan Barang Antik.
Baca juga: Situs Sokoliman Diyakini Masih Tersebar Luas di Desa Bejiharjo
Mumi-mumi itu, 12 di antaranya adalah anak-anak, ditemukan pada empat lokasi yang berdekatan, berupa ruang penguburan sedalam sembilan meter di situs Tuna el-Gebel.
Identitas mumi masih belum diketahui, kata Mostafa Waziri, Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Kerpurbakalaan Mesir. “Kami belum menemukan nama yang ditulis dalam hieroglif,” ungkapnya.
Menurut Mustofa, metode mumifikasi telah cukup menjelaskan bahwa para individu yang jasadnya ditemukan dalam makam kuno itu memegang jabatan bergengsi, atau setidaknya memiliki posisi penting di masanya.
Ratusan pengunjung, termasuk duta besar dari beberapa negara, berkumpul di lokasi penemuan, di mana 40 mumi dipamerkan selama agenda pengumuman resmi. Beberapa mumi ditemukan terbungkus linen, sementara yang lain ditempatkan di peti mati batu atau sarkofagus kayu.
Temuan arkeologis tersebut adalah yang pertama pada 2019, dan digali melalui misi bersama dengan Pusat Penelitian untuk Studi Arkeologi dari Minya University. (lna)

Leave a Reply