IHSG Anjlok ke Level 4.904, OJK Sebut Pasar Saham Sedang ‘Detox’

Ilustrasi, IHSG terperosok ke level 4.904,287 akibat tekanan global dan pembenahan domestik. OJK sebut koreksi ini sebagai proses 'detox' pasar modal jangka panjang.
Ilustrasi
JAKARTA, JOSS.CO.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok ke level 4.904,287 setelah anjlok 3,78 persen pada perdagangan Selasa (3/11/2026).

Di tengah tekanan pasar yang kian dalam, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut pelemahan tersebut sebagai efek dari reformasi struktural besar-besaran di pasar modal Indonesia.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan bahwa langkah pembenahan memang memicu konsekuensi jangka pendek. Meski demikian, OJK mengambil langkah ini demi memperkuat kualitas serta integritas pasar dalam jangka panjang.
“Tentunya juga melihat saat ini kami melakukan reformasi yang disebut reformasi terbesar dalam sejarah pasar modal. Tentunya akan ada, ya kita sudah melihat konsekuensinya,” kata Friderica dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di kantor Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2026).

OJK Sebut Pasar Saham Sedang Detox

Friderica memaparkan bahwa tekanan eksternal turut mendorong pelemahan IHSG. Dinamika geopolitik global, lonjakan inflasi, serta ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka panjang (higher for longer) ikut memengaruhi pergerakan pasar.
Di sisi lain, reformasi struktural di dalam negeri juga membentuk sentimen investor. OJK menilai koreksi pasar saat ini terjadi sebagai dampak logis dari proses pembenahan internal.
“Jadi kalau kita melihat ditambah dengan reformasi struktural di pasar modal kita, tentu saat ini kita bisa melihat itu adalah konsekuensi logis dari berbagai reformasi yang kita lakukan,” ujarnya.
Bahkan, Friderica mengibaratkan pembenahan ini seperti proses detox yang mengeluarkan elemen kurang sehat dari pasar modal. Pergerakan IHSG saat ini mencerminkan proses pembersihan tersebut.
“Jadi beberapa waktu yang lalu juga sudah saya sampaikan, ini seperti mungkin kayak detox gitu ya. Kalau ngeluarin yang enggak bagus-bagus dan lain-lain, mungkin akan sangat, akan tercermin di kondisi IHSG saat ini,” ungkapnya.

OJK Klaim Fundamental Emiten Masih Kuat

Meski IHSG terkoreksi tajam, OJK meminta investor tidak hanya memantau indeks harian. Friderica mencatat kinerja emiten pada kuartal II masih menunjukkan hasil yang sangat baik. Selain itu, perusahaan domestik masih memiliki minat kuat untuk menghimpun dana di pasar modal.
Hingga Oktober 2026, penghimpunan dana di pasar modal sudah mencapai Rp205,77 triliun. Angka ini mencakup tujuh penawaran umum perdana saham (IPO), 20 penawaran umum terbatas, 11 penawaran umum efek bersifat utang atau sukuk, serta 135 penawaran umum berkelanjutan obligasi.
“Ini kalau kita melihat masih ada 25 rencana penawaran umum dengan nilai indikatif sekitar Rp26 triliun. Kemudian realisasi target penghimpunan dana tahun 2026 hingga akhir tahun, ini sekitar Rp250 triliun tentunya ini bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya,” jelasnya.
Pada penutupan perdagangan, IHSG melemah 192,54 poin (3,78 persen) ke posisi 4.904,287. Data RTI Business mencatat 624 saham terkoreksi, 57 saham menguat, dan 37 saham stagnan. Nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) berada di angka Rp8.674 triliun.
Sementara itu, nilai transaksi harian mencapai Rp11,4 triliun dengan volume 24,722 miliar saham dalam 1.386.879 kali transaksi. Sektor barang dasar memimpin penurunan sebesar 5,86 persen, lalu sektor energi 4,56 persen, industri 4,26 persen, properti 3,84 persen, serta transportasi 3,49 persen.

Baca Juga: Laba Bersih ABM Investama Melonjak 141%, Ini Strategi ABMM Pacu Kinerja 2026

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*