52 Bencana Terjang Purbalingga, Pemkab Ajak Warga Tingkatkan Kewaspadaan Lewat Doa Bersama

Purbalingga catat 52 kejadian bencana dengan kerugian Rp1,3 miliar. Pemkab jadikan momen Hari Santri untuk tingkatkan kewaspadaan dan doa bersama.
BANJARNEGARA, JOSS.CO.ID – Kabupaten Purbalingga kini menghadapi tantangan bencana yang cukup berat menjelang akhir tahun 2026. Bahkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat 52 kejadian bencana yang menerjang wilayah ini hingga 30 Oktober 2026. Akibatnya, perkiraan kerugian material akibat rangkaian peristiwa tersebut mencapai Rp1,3 miliar.
Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Purbalingga mengajak seluruh masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi. Secara khusus, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Purbalingga, Suroto, menyampaikan pesan tersebut saat mewakili Bupati dalam acara Sima’an Al-Qur’an, Khotmil Qur’an, Istighosah, dan Pengajian di Pendopo Dipokusumo, Jumat (30/10/2026).

Jenis Bencana yang Melanda Purbalingga

Secara rincinya, catatan BPBD menunjukkan lima jenis insiden utama yang mendominasi kejadian bencana di Purbalingga:
  • Tanah longsor
  • Cuaca ekstrem
  • Banjir
  • Kekeringan
  • Kebakaran
Di satu sisi, masyarakat patut mensyukuri turunnya hujan setelah hampir empat bulan menghadapi masa kekeringan. Namun di sisi lain, Suroto mengingatkan bahwa perubahan cuaca ini tetap menuntut kesiapsiagaan warga secara mandiri dan bersama-sama.
“Oleh karenanya dalam Khotmil Qur’an dan Istighosah ini kita semuanya berdo’a memohon pertolongan Allah agar Kabupaten Purbalingga senantiasa diberikan keselamatan dijauhkan dari musibah serta masyarakatnya hidup aman tentram dan sejahtera,” katanya.

Hari Santri: Momentum Refleksi dan Pengabdian

Selain sebagai forum doa bersama, peringatan Hari Santri 2026 juga menjadi sarana penting untuk mengenang perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kedaulatan bangsa melalui Peristiwa Resolusi Jihad.
“Peristiwa tersebut mengajarkan kepada kita bahwa santri bukan hanya penjaga nilai-nilai agama melainkan bagian penting dari perjalanan Indonesia,” ujar Suroto.
Dengan demikian, ia menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh memaknai perjuangan ulama dan santri sebatas seremoni semata. Sebab, seluruh elemen perlu mewujudkan semangat tersebut melalui pengabdian, karya, serta kontribusi nyata demi kemajuan pembangunan daerah.

Rangkaian Acara dan Pesan Keagamaan

Mengenai jalannya kegiatan, panitia menyusun rangkaian acara ini secara khidmat. Pertama-tama, KH Masyhudi Munir Al-Khafidz (Pengasuh Ponpes Al Mushafiyyah Desa Karanganyar) memimpin Sima’an dan Khotmil Qur’an. Kemudian, Ahmad Muntaqo dari Kemenag Purbalingga memimpin doa istighosah, lalu Kyai Sonhaji memberikan tausiyah penutup.
Dalam kesempatan tersebut, Kyai Sonhaji (Pimpinan Panti Asuhan Al Khoerot Majasari, Bukateja) membagikan pandangan Imam Al-Qurthubi mengenai empat pilar penjamin keselamatan suatu daerah:
  1. Pemimpin yang menjalankan kewajiban dengan baik.
  2. Para Alim yang mengajarkan kebaikan secara konsisten.
  3. Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama yang menegakkan amar makruf nahi mungkar.
  4. Perempuan yang menjaga aurat dan kehormatannya.
Sebagai penutup, rangkaian acara ini menghadirkan perwakilan OPD, kecamatan, kelurahan, serta jajaran pengurus PCNU, PD Muhammadiyah, dan LDII Kabupaten Purbalingga.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*