
SOLO, JOSS.CO.ID – Berawal dari hobi membaca sejak kecil, Destyn Ayu Safitri (24) akhirnya mewujudkan mimpinya membuka perpustakaan keliling gratis di Solo dengan cara yang unik. Alih-alih memakai kendaraan bermotor, lulusan Unisri ini memilih mengayuh sepeda onthel sambil membawa sekitar 30 buku koleksi pribadinya. Untuk tahap awal, ia menggelar lapak baca sederhananya di area Plaza Sriwedari.
Kendati baru dua kali menggelar perpustakaan keliling, Destyn mengaku sangat senang bisa menjalani aktivitas itu. Dia ingin melanjutkan perpustakaan keliling saban hari Sabtu pagi.
“Hari Sabtu saya libur kerja. Jadi pagi bisa bersepeda sambil bawa buku. Saya memang hobi bersepeda. Membuka perpustakaan keliling adalah cita-cita,” ujar dia, dilansir Solopos, Senin (28/9/2026).

Menurut Destyn perpustakaan tidak harus mewah. Tempat duduk seadanya dan tanpa AC pun jadi. Walau sangat sederhana, yang terpenting bisa berbagi kesenangan membaca.
Pun hanya ada 30-an buku koleksi pribadi Destyn yang terbilang tak istimewa. Dengan kondisi yang masih ala kadarnya, ternyata sambutan masyarakat baik secara daring atau online, cukup baik.
Banyak dari warganet yang lantas ingin menyumbangkan koleksi buku kepada Destyn. Tapi niat baik itu belum bisa diterima lantaran keterbatasan keranjang untuk membawa buku-buku itu.
Ke depan dia ingin berpindah-pindah lokasi. Dia ingin semakin banyak orang yang menikmati perpustakaan kecilnya. Suatu waktu dia ingin membuka perpustakannya di tengah kampung padat penduduk.
Alumnus Unisri itu membayangkan bisa berinteraksi dengan anak-anak dari masyarakat pinggiran sembari membaca buku dan mendongeng. “Sambil mendongeng bareng kayaknya asik,” tutur dia.
Dia mengakui kesadaran membaca warga Solo, khususnya orang dewasa, sudah baik. Setidaknya hal itu bisa terlihat dari beberapa orang membaca di papan baca Monumen Pers.
Setiap pagi, menurut dia, selalu ada bapak-bapak yang meluangkan waktu untuk membaca koran yang ditempel di papan baca itu. Sebuah budaya baik yang harus diwariskan ke anak-anak.
Dari membaca diharapkan bisa membuka wawasan anak-anak terhadap dunia luar. Tidak hanya tentang apa yang sedang terjadi di luar sana, tapi juga berkembangnya ilmu dan peradaban.
“Kalau di konten medsos kan hanya beberapa detik, kita tidak tahu detail dan mendalam. Beda kalau di buku, lebih runut, lengkap dan detail. Ini bikin kita lebih bijak, tak mudah terprovokasi,” urai dia.
Menurut Destyn, sosok yang tumbuh dengan budaya literasi yang baik, tidak mudah diadu domba dan jernih dalam melihat sebuah persoalan. Dia ingin generasi muda bangsa seperti itu.
Hidup dan tumbuh dengan budaya literasi yang baik. “Anak muda di Solo sebagian suka baca, ikut komunitas dan lain sebagainya. Tapi ada juga yang belum seperti itu,” terang dia.
Destyn berharap apa yang dia lakukan berkeliling Solo dengan buku-bukunya bisa sedikit berkontribusi dalam membangun sosok dan karakter generasi muda penerus bangsa Indonesia.
“Dengan adanya lapak belajar buku gratis ini saya berharap orang-orang yang belum suka sama buku, bisa mulai mengenali buku, dan tertarik membaca. Ke depannya mau beli buku,” tutur dia.
Destyn juga berharap pemerintah memberikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat untuk membaca. Semakin baik budaya membaca sekelompok masyarakat, kualitas hidupnya akan kian baik.
“Tolong mudahkan akses untuk kita membaca, dari segi perpustakaan, literasi kota, tatanan kota. Berikan juga kegiatan yang oh ternyata membaca buku itu di-support oleh kota kita,” pesan dia.

Leave a Reply