
JOGJA, JOSS.CO.ID – Di tengah ketatnya aturan di banyak sekolah menengah, SMA Kolese De Britto di Yogyakarta justru dikenal dengan pendekatan yang berbeda. Sekolah ini mengusung konsep “bebas yang bertanggung jawab”, sebuah filosofi pendidikan yang menempatkan kebebasan siswa sejalan dengan kesadaran dan nilai moral.
Berlokasi di Jalan Laksda Adisucipto No. 161, Caturtunggal, Depok, Sleman, SMA De Britto merupakan sekolah khusus laki-laki yang sudah lama menjadi salah satu institusi pendidikan favorit di Daerah Istimewa Yogyakarta. Citra sekolah ini identik dengan siswa berambut gondrong hingga penggunaan sandal di lingkungan sekolah—sesuatu yang jarang ditemui di sekolah lain.
Wakil Kepala Bidang Humas dan Jejaring SMA Kolese De Britto, Christophorus Danang Wahyu Prasetio, menjelaskan bahwa akar sejarah sekolah ini tidak terlepas dari lembaga pendidikan Kanisius yang berdiri pada 19 Agustus 1948.
“Itu kan tahun 1948 di Bintaran, yang waktu itu nama awalnya itu Kanisius, ya,” katanya kepada detikJogja di SMA Kolese De Britto, Demangan Baru, Caturtunggal, Depok, Sleman, Senin (15/6/2026).
Pada masa awal, sekolah tersebut masih menampung siswa laki-laki dan perempuan dalam satu lingkungan, dengan total 65 siswa angkatan pertama. Kegiatan belajar bahkan sempat menumpang di gedung SMP Bruderan Kidul Loji.
Seiring dinamika politik nasional, terutama agresi militer tahun 1949, lembaga pendidikan ini kemudian dipisah menjadi dua. SMA De Britto diperuntukkan bagi siswa laki-laki di bawah naungan Romo Jesuit, sedangkan Stella Duce untuk perempuan di bawah Suster CB.
“Tapi waktu itu terus terjadi agresi militer tahun 1949 itu, maka terus dipisah. De Britto itu yang untuk laki-laki, Stella Duce (Stece) itu yang perempuan. Nah, De Britto itu di bawah Romo Jesuit dan Stece itu di bawah Suster CB (Carolus Borromeus),” ujarnya.
Pada 1953, pembangunan kampus baru dimulai di kawasan Demangan Baru. Lima tahun kemudian, tepatnya 1958, kegiatan belajar mengajar resmi berlangsung di lokasi tersebut.
“Maka untuk tahun 2028 itu kita genap 80 tahun atau bisa dikatakan dasawindu, itu kalau kita berbicara sejarah dari De Britto,” ucapnya.
Sebagai sekolah yang berada di bawah naungan Jesuit, De Britto mengedepankan pendidikan yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pembentukan karakter.
“Maka kalau kita berbicara Jesuit di internasional itu kan sekolah-sekolah yang di bawah Jesuit itu pasti memiliki keunggulan,” katanya.
Konsep pendidikan di sekolah ini dikenal dengan keseimbangan antara intelektualitas, empati, dan kehendak.
“Maka kalau bisa dikatakan, kita di pendidikan Jesuit atau pendidikan Kolese De Britto itu pendidikan yang utuh. Menyeimbangkan antara olah pikir, olah rasa dan kehendak,” ujarnya.
Nilai tersebut dirangkum dalam profil lulusan yang disebut 1L+5C, yakni leadership yang didukung lima aspek penting: competence, conscience, compassion, commitment, dan consistent.
“Maka sering disebut 1L+5C. Pemimpin yang memiliki 5C tadi, competence itu terkait dengan pengetahuan, conscience itu hati nurani, compassion itu bela rasa, commitment itu memiliki sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan, terus consistent itu ya berkata benar dari apa yang dipikirkan,” ucapnya.
Konsep “bebas yang bertanggung jawab” sendiri lahir dari refleksi atas sistem pendidikan yang cenderung kaku pada masa Orde Baru. Saat itu, aturan yang terlalu ketat dinilai membatasi kreativitas dan keberanian siswa dalam berpikir.
“Dan ketika di orde baru itu kan, dalam tanda kutip kan, terlalu mengedepankan aturan yang ketat atau bisa dikatakan saklek, gitu ya. Jadi, artinya pemimpin itu ya harus dihargai, pemimpin itu harus diikuti,” katanya.
“Jadi, aturan-aturan yang dibuat pemerintah itu terkadang mengekang. De Britto membuat sesuatu yang berbeda dengan sekolah bebas bertanggung jawab,” lanjut Danang.
Namun kebebasan di De Britto bukan berarti tanpa aturan. Justru siswa didorong untuk berpikir matang sebelum mengambil keputusan.
“Maka terus dimunculkanlah sekolah bebas, tapi bebas yang bertanggung jawab. Artinya, bebas bertanggung jawab ini bukan bebas semau gue, bebas yang bukan tidak ada aturan,” ujarnya.
“Tetap ada aturan, tetap mengedepankan nilai-nilai, tapi yang selalu ditekankan adalah berpikir sebelum berbuat. Jadi, sebelum mengambil keputusan, sebelum mengambil pilihan, pikirkan terlebih dahulu apa yang akan kamu lakukan. Itu yang dimaksud bebas bertanggung jawab,” ucapnya.
Pendekatan ini juga terlihat dalam sistem disiplin. Tidak ada sistem poin atau hukuman kaku. Sebaliknya, siswa diajak memahami konsekuensi dari tindakan mereka melalui dialog.
“Maka setiap kesalahan yang dilakukan anak itu modelnya bukan hukuman, tapi konsekuensi. Konsekuensi itu tujuannya adalah apa? Supaya anak itu bisa menyadari atas apa kesalahan yang dihadapi. Maka di De Britto enggak ada yang namanya skor seperti telat skornya sekian, berkelahi skornya sekian tidak ada,” katanya.
“Jadi, lebih mencari sebetulnya apa sih di balik keputusan yang kamu buat itu? Maka mengajari anak untuk berpikir sebelum berbuat,” ujarnya.
“Maka ada konsekuensi. Konsekuensi itu bukan untuk menjatuhkan, bukan untuk menghukum, enggak. Tapi untuk memberi pemikiran pada anak, mindset pada anak, bahwa apa yang kita lakukan itu harus selalu dipikirkan terlebih dahulu. Itu visi misinya seperti itu, Mas. Jadi, sekolah bebas yang bertanggung jawab,” imbuh Danang.
Kebebasan juga tercermin dalam aturan penampilan. Siswa diperbolehkan berambut panjang dan memakai sandal dengan syarat tertentu.
“Pakai sandal boleh, tapi sandal yang di belakangnya ada pengaitnya itu,” ujarnya.
“Mau rambut gondrong bebas, tapi rambut yang alami loh, tidak boleh diwarnai. Berarti kalau ada diwarnai ya konsekuensinya potong,” ucapnya.
Selain sistem pendidikan, identitas sekolah juga menarik perhatian, termasuk penggunaan logo “JB” yang merujuk pada Santo pelindung Johannes De Britto.
“Kalau kita berbicara masalah De Britto, itu kan santo pelindung kita Johannes De Britto. Karena itu disingkat dengan JB,” katanya.
“Memang nama sekolah kan Kolese De Britto, DB, tapi enggak ada yang menyebut dengan nama pasti. Karena JB karena lebih ke santo pelindung sekolahnya,” ujarnya.
“Apalagi orang-orang dari dulu sampai sekarang lebih bisa memaknai ketika menyebutnya JB,” ucapnya.
Logo tersebut bahkan dirancang oleh alumni angkatan pertama.
“Yang membuat logonya siswa De Britto tahun 1949 sampai 1951, namanya Raden Nawawi Hadikusumo. Itu angkatan pertama De Britto,” katanya.
Dalam perjalanannya, SMA De Britto telah melahirkan banyak tokoh di berbagai bidang, mulai dari akademisi, pengusaha, hingga pejabat negara.
“Terus Rektor ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya itu juga alumni De Britto,” ujarnya.
“Terus kalau kita berbicara masalah pejabat, Menteri PU Dody Hanggodo itu alumni De Britto. Terus kalau kita berbicara di politik, Sekjen PDI-Perjuangan itu Mas Hasto Kristiyanto juga alumni De Britto,” ucapnya.
Pendekatan pendidikan yang menyeimbangkan kebebasan dan tanggung jawab ini menjadi salah satu alasan De Britto tetap relevan di tengah perubahan zaman. Model ini juga menunjukkan bahwa disiplin tidak selalu harus dibangun melalui aturan kaku, melainkan bisa melalui kesadaran dan dialog yang mendalam.

Leave a Reply