Kekeringan Blora, Ratusan Hektar Sawah Terancam

Irigasi Gabus yang berada dengan Kecamatan Blora Kering Tanpa Air
Irigasi Gabus yang berada dengan Kecamatan Blora Kering Tanpa Air

BLORA, JOSS.CO.ID – Ancaman gagal panen mulai menghantui petani di Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, seiring menurunnya pasokan air irigasi pada musim kemarau tahun ini. Sedikitnya 300 hektar lahan pertanian dilaporkan berpotensi mengalami kekeringan akibat berkurangnya debit air di sejumlah sumber irigasi utama.

Kondisi ini tidak lepas dari menurunnya fungsi embung yang selama ini menjadi penopang kebutuhan air pertanian. Dari puluhan embung yang tersebar di wilayah tersebut, sebagian besar kini mengalami pendangkalan serius sehingga tidak mampu menampung air secara optimal.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Kabupaten Blora, Surat, menjelaskan bahwa salah satu infrastruktur penting yang terdampak adalah Bendung Gabus. Bendung ini selama ini menjadi jalur distribusi air bagi lahan pertanian yang membentang dari Kelurahan Jetis hingga Desa Buluroto.

“Jaringan tersebut membentang mulai dari Kelurahan Jetis hingga Desa Buluroto dan sekitar sawah tersebut merupakan jalur vital bagi petani,”ungkapnya.

Namun, memasuki musim tanam ketiga (MT III), situasi berubah drastis. Debit air yang menurun membuat distribusi irigasi tidak berjalan maksimal. Petani pun kesulitan memenuhi kebutuhan air untuk tanaman mereka yang sedang memasuki fase krusial pertumbuhan.

“Dampak kekeringan, di musim ketiga (MT III) ini pemenuhan kebutuhan air irigasi tidak bisa terpenuhi dan terlayani dengan baik,” jelasnya.

Tidak hanya jaringan sungai, persoalan juga meluas ke embung-embung yang tersebar di berbagai wilayah Blora. Berdasarkan data DPUPR, dari total sekitar 78 embung yang ada, hampir setengahnya kini berada dalam kondisi memprihatinkan.

“Dari sekitar 78 embung yang tersebar di berbagai wilayah, diperkirakan sekitar 50 persen berada dalam kondisi kritis,” ungkapnya.

Pendangkalan menjadi faktor utama menurunnya kapasitas tampung embung. Material sedimen yang terbawa aliran air saat musim hujan secara perlahan mengendap di dasar embung, mengurangi volume air yang dapat disimpan untuk musim kemarau.

Secara umum, embung memiliki peran penting dalam sistem pertanian di daerah yang bergantung pada curah hujan seperti Blora. Saat musim hujan, embung berfungsi menampung air untuk kemudian digunakan pada musim kering. Namun jika kapasitasnya berkurang, fungsi tersebut tidak lagi optimal, sehingga risiko kekeringan meningkat.

Pemerintah daerah pun tidak tinggal diam. Upaya penanganan terus dilakukan melalui koordinasi lintas instansi, termasuk dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana dan BBWS Bengawan Solo.

“Setiap tahun kami tetap mengupayakan kolaborasi dan kerja sama melalui BBWS Pemali Juana dan BBWS Bengawan Solo agar dapat mengantisipasi kondisi ini,” pungkasnya.

Permasalahan ini diperkirakan akan terus berulang jika tidak diimbangi dengan upaya normalisasi embung secara berkala. Selain itu, perubahan pola cuaca dan musim kemarau yang lebih panjang juga menjadi tantangan tambahan bagi sektor pertanian di Blora.

Jika kondisi ini berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga berpotensi memengaruhi produksi pangan daerah. Oleh karena itu, perbaikan infrastruktur air dan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan menjadi kunci untuk mengurangi risiko gagal panen di masa mendatang.

Baca Juga: Pemprov Jateng dan Otorita IKN Jajaki Potensi Kolaborasi dan Investasi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*