Aktivitas Gunung Merapi Meningkat, Lava Pijar 7 Kali Mengalir

Aktivitas Gunung Merapi kembali meningkat dengan 7 kali guguran lava pijar sejauh 2 km, disertai puluhan gempa vulkanik.
Guguran lava pijar Gunung Merapi aktif mengalir di lereng pada malam hari (Foto: BPPTKG)

JOGJA, JOSS.CO.ID – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik dalam beberapa waktu terakhir. Gunung berapi yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta ini tercatat mengalami serangkaian guguran lava pijar yang mengalir ke sejumlah sungai di lerengnya.

Berdasarkan laporan terbaru dari laman resmi magma.bpptkg, aktivitas guguran lava pijar terjadi sebanyak 7 kali. Aliran lava tersebut mengarah ke Sungai Sat dan Sungai Putih dengan jarak luncur maksimum mencapai 2 kilometer dari puncak.

Meski aktivitas meningkat, kondisi visual Gunung Merapi dilaporkan cukup jelas. Tidak terlihat adanya asap kawah, dan cuaca di sekitar gunung terpantau cerah. Suhu udara di kawasan tersebut tercatat berada di angka 16,4 derajat Celsius dengan tingkat kelembaban sekitar 53,3 persen.

Selain guguran lava, aktivitas kegempaan juga masih terjadi dengan intensitas yang cukup tinggi. Tercatat sebanyak 35 kali gempa guguran yang menandakan adanya pergerakan material dari dalam gunung. Kemudian, terdapat pula 9 kali gempa hybrid yang biasanya berkaitan dengan kombinasi aktivitas magma dan tektonik.

Tak hanya itu, aktivitas vulkanik lainnya juga terdeteksi berupa 7 kali gempa vulkanik dangkal. Sementara itu, satu kejadian gempa tektonik jauh juga tercatat dalam periode pengamatan yang sama.

Hingga saat ini, status Gunung Merapi masih berada pada level III atau siaga. Status ini menunjukkan bahwa aktivitas gunung masih tinggi dan berpotensi menimbulkan bahaya, terutama di wilayah-wilayah yang berada di sekitar aliran sungai yang berhulu di puncak.

Gunung Merapi sendiri memiliki ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut dan dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Aktivitasnya secara berkala ditandai dengan guguran lava pijar, awan panas, serta lontaran material vulkanik.

Aliran lava pijar maupun awan panas biasanya bergerak mengikuti jalur sungai di sekitar lereng, seperti Sungai Bedog, Sungai Bebeng, Sungai Boyong, Sungai Krasak, Sungai Gendol, hingga Sungai Woro. Jalur-jalur ini menjadi area yang paling berisiko terdampak aktivitas erupsi.

Selain itu, lontaran material vulkanik dari Gunung Merapi juga dapat mencapai radius hingga 3 kilometer dari puncak. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mematuhi rekomendasi dari pihak berwenang terkait zona aman.

Sebagai innformasi, secara historis Gunung Merapi dikenal memiliki siklus aktivitas yang fluktuatif, dengan periode peningkatan yang dapat berlangsung dalam hitungan minggu hingga bulan. Pemantauan intensif oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menjadi kunci dalam memberikan peringatan dini kepada masyarakat.

Dengan kondisi saat ini, potensi bahaya masih tetap ada, terutama bagi wilayah di sekitar lereng selatan dan barat daya yang menjadi jalur utama aliran material vulkanik. Oleh sebab itu, masyarakat dan pihak terkait diharapkan terus mengikuti perkembangan informasi resmi serta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan aktivitas lanjutan.

Baca Juga: Diduga Kesal Tak Diberi Rp15 Juta, Pria di Bantul Nekat Bakar Rumah

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*