Rupiah Melemah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS

Rupiah melemah menembus Rp 18.000 per dolar AS, tertekan geopolitik, data ekonomi AS, dan defisit fiskal. Analis menilai rupiah berisiko mendekati Rp 20.000 per dolar AS.
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Rupiah melemah menembus Rp 18.000 per dolar AS, tertekan geopolitik, data ekonomi AS, dan defisit fiskal. Analis menilai rupiah berisiko mendekati Rp 20.000 per dolar AS.

JOSS.CO.ID – Dolar AS berpotensi terus menekan rupiah jika tekanan global dan domestik tidak mereda, dengan sejumlah analis menilai skenario rupiah mendekati Rp 20.000 per dolar AS bukan lagi hal yang mustahil dalam jangka pendek bila sentimen memburuk.

Kondisi Terkini Kurs Rupiah

Nilai tukar rupiah sepanjang pekan ini bergerak dalam tren melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), meski pada perdagangan Jumat (5/6/2026) sempat menguat tipis. Mengutip data pasar spot Bloomberg yang dirangkum sejumlah media, rupiah ditutup di Rp 18.036 per dolar AS pada Jumat (5/6/2026), menguat 0,07% dari posisi Kamis (4/6/2026) di Rp 18.049 per dolar AS.

Namun secara mingguan, rupiah masih tercatat melemah sekitar 0,86% dari posisi sekitar Rp 17.881 per dolar AS pada Jumat (29/5/2026), sekaligus menandai pelemahan beruntun dalam beberapa hari terakhir. Dalam pekan yang sama, rupiah bahkan menembus level psikologis baru setelah “tembus ke atas Rp 18.000 per dolar AS” dan “ditutup ke level terburuk sepanjang sejarah di Rp 18.049 per dolar AS” pada Kamis (4/6/2026).

Data Jisdor BI dan Rekor Terlemah

Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp 18.039 per dolar AS pada Jumat (5/6/2026), sama dengan posisi Kamis (4/6/2026). Kurs referensi ini menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah bukan hanya terjadi di pasar spot intraday, tetapi juga tercermin pada kurs acuan BI.[6][7][3]

Sejumlah pemberitaan mencatat bahwa level Rp 18.049 per dolar AS di pasar spot pada Kamis (4/6/2026) menjadi rekor terlemah rupiah sepanjang sejarah terhadap dolar AS, menggambarkan kekhawatiran pasar atas kombinasi faktor global dan domestik.

Risiko Rupiah Mendekati Rp 20.000

“Nilai tukar rupiah dinilai menyimpan kerentanan besar di tengah tekanan global yang belum mereda. Jika kondisi eksternal terus memburuk, rupiah berpotensi melemah hingga mendekati Rp 20.000 per dollar AS dalam waktu relatif singkat.” Pernyataan ini menggambarkan skenario risiko (risk scenario) yang semakin diperhitungkan pelaku pasar ketika volatilitas global meningkat.

Ketidakpastian kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan berlanjutnya gejolak geopolitik berpotensi mengakselerasi arus keluar modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam kondisi seperti itu, rupiah cenderung tertekan karena permintaan dolar AS naik, sementara suplai valas dari ekspor dan investasi portofolio bisa menyusut.

Sentimen Global: Geopolitik dan Data AS

Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah selama sepekan dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global. Investor terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah, “di mana Israel melakukan operasi militer di Lebanon Selatan meski akhirnya kedua negara tersebut sepakat melakukan gencatan senjata pada Rabu (3/6/2026) waktu AS.” Ketegangan ini memicu kekhawatiran atas stabilitas kawasan dan jalur distribusi energi.

Di saat yang sama, “Iran menembakkan rudal balistik ke Kuwait dan Bahrain” serta terjadi “serangan pasukan AS di Pulau Qeshm Iran” yang berada dekat Selat Hormuz, jalur vital sekitar seperlima konsumsi minyak dunia. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz biasanya mendorong kenaikan harga minyak, meningkatkan kekhawatiran inflasi global dan mendorong investor berlindung pada aset dolar AS yang dianggap aman.

Kebijakan The Fed dan Inflasi Jasa AS

Ibrahim juga menyoroti data PMI non-manufaktur AS yang menunjukkan ukuran harga yang dibayarkan oleh bisnis jasa naik ke level tertinggi sejak 2022, didorong biaya produk minyak bumi dan komoditas lain yang meningkat. Lonjakan biaya ini mempertebal kekhawatiran bahwa inflasi AS belum sepenuhnya jinak, sehingga bank sentral AS, Federal Reserve, cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

“Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama,” ujar Ibrahim, Jumat (5/6/2026). Suku bunga tinggi di AS membuat imbal hasil aset dolar lebih menarik, mendorong penguatan dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Tekanan Domestik: Fiskal, Perdagangan, dan Inflasi

Dari sisi domestik, Ibrahim melihat pasar khawatir terhadap risiko fiskal ketika harga minyak mentah dunia yang tinggi memicu potensi defisit APBN mendekati batas 3%. Kenaikan biaya impor energi membuat kebutuhan subsidi dan belanja pemerintah berpotensi meningkat.

Selain itu, data perdagangan April 2026 menunjukkan surplus neraca perdagangan menyusut drastis menjadi hanya sekitar US$ 89,1 juta dari US$ 3,32 miliar pada Maret 2026. Penurunan tajam ini terjadi karena lonjakan biaya impor minyak melampaui ekspor, sehingga “pasokan devisa dari aktivitas perdagangan luar negeri mulai berkurang.” Di saat bersamaan, inflasi Mei naik menjadi 3,08%, berada di atas titik tengah target bank sentral, antara lain akibat kenaikan harga barang impor.

Penilaian Lembaga Rating dan Sentimen Pasar

Kemudian, “Moodys’s Ratings memberikan peringkat pertamanya untuk PT Danantara Investment Management pada level Baa2 dengan outlook negatif.” Meski bersifat korporasi, sentimen semacam ini menambah nuansa kehati-hatian investor terhadap risiko kredit dan stabilitas sektor keuangan. Outlook negatif sering dibaca pasar sebagai sinyal kenaikan risiko, yang dapat mendorong premi imbal hasil lebih tinggi bagi aset berdenominasi rupiah.

Kombinasi kekhawatiran fiskal, melemahnya surplus perdagangan, dan penilaian risiko yang lebih hati-hati membuat investor asing cenderung selektif dalam menempatkan dana, sehingga rupiah relatif mudah tertekan ketika terjadi arus keluar modal.

Proyeksi Pergerakan Rupiah Pekan Depan

Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, memperkirakan rupiah dalam sepekan ke depan masih akan dipengaruhi “kuatnya dolar AS seiring ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve belum akan terburu-buru menurunkan suku bunga.” Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar tetap berhati-hati karena ketidakpastian global belum sepenuhnya mereda.

Amru menilai bahwa dari faktor eksternal, perhatian investor akan tertuju pada data ketenagakerjaan dan inflasi AS yang akan memberi petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan. “Perkembangan geopolitik global dan pergerakan harga energi juga masih menjadi sentimen yang perlu diperhatikan pasar,” ujarnya. Amru memproyeksikan rupiah bergerak dalam kisaran “Rp 17.950 – Rp 18.150 per dolar AS pada pekan depan,” sementara Ibrahim memperkirakan rentang “Rp 17.950 – Rp 18.250 per dolar AS.”[2][1]

Faktor Domestik yang Terus Dipantau

Dari dalam negeri, pasar masih mencermati “kondisi sektor eksternal Indonesia setelah neraca perdagangan April 2026 yang dirilis pada 2 Juni 2026 turun menjadi US$0,09 miliar dari US$3,32 miliar pada bulan sebelumnya.” Angka ini sejalan dengan data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan surplus hanya US$89,1 juta di April 2026, jauh di bawah Maret.

“Di samping itu, pergerakan arus modal asing, langkah stabilisasi Bank Indonesia, serta konsistensi kebijakan ekonomi pemerintah akan tetap menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan rupiah,” jelas Amru. Kebijakan intervensi BI di pasar valas, pengelolaan suku bunga acuan, dan komunikasi kebijakan yang jelas menjadi kunci untuk menahan tekanan spekulatif terhadap rupiah.

Baca Juga: Purbaya Tepis Seruan “Sell Indonesia”, Tegaskan Ekonomi RI Masih Kuat

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*