TFR Semarang dan Solo Terendah di Jateng, Ini Data SUPAS 2025

SUPAS 2025 mencatat TFR Semarang dan Solo terendah di Jawa Tengah sebesar 1,77, di bawah rata-rata provinsi 2,05.
Ilustrasi, Ibu hamil berpose tenang menyentuh perutnya, (dibuat oleh AI)

SUPAS 2025 mencatat TFR Semarang dan Solo terendah di Jawa Tengah sebesar 1,77, di bawah rata-rata provinsi 2,05.

SOLO, JOSS.CO.ID – Kota Semarang dan Solo menjadi wilayah dengan angka kelahiran total atau total fertility rate (TFR) paling rendah di Jawa Tengah (Jateng). Temuan tersebut terungkap dalam Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Jateng tahun 2025.

Semarang dan Solo mencatatkan TFR yang sama, yakni 1,77. TFR menggambarkan rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup oleh seorang perempuan selama masa reproduksi usia 15–49 tahun.

Hasil SUPAS 2025 menunjukkan TFR Jateng berada di angka 2,05, lebih rendah dibandingkan hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 (LF SP2020) sebesar 2,09. Dalam jangka panjang, tren penurunan fertilitas di Jateng terus terlihat. Sejak SP2010 yang mencatat TFR 2,20, angka tersebut perlahan menurun hingga saat ini.

Penurunan tersebut menandakan tren fertilitas yang terus berlanjut, meski lajunya tidak secepat periode sebelumnya. Dengan begitu, Jateng sudah mencapai level penggantian penduduk (replacement level).

Meski demikian, tingkat fertilitas antarwilayah di Jateng masih menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok. Selain Kota Semarang dan Kota Surakarta yang berada di posisi terendah, Kabupaten Wonosobo justru mencatat TFR tertinggi sebesar 2,21.

Perbedaan ini mencerminkan adanya variasi yang dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, ekonomi, hingga akses terhadap layanan kesehatan reproduksi di masing-masing daerah.

Sementara itu, BPS Jateng juga mencatat perkembangan Age Specific Fertility Rate (ASFR) yang menunjukkan jumlah kelahiran per 1.000 perempuan pada kelompok usia tertentu.

Pada 2010 hingga 2025, terjadi penurunan signifikan pada kelompok usia muda, khususnya 15–24 tahun. ASFR pada kelompok usia 15–19 tahun turun tajam dari 38,60 kelahiran per 1.000 perempuan pada SP2010 menjadi 15,01 pada SUPAS 2025.

Meski demikian, puncak fertilitas masih berada pada kelompok usia 25–29 tahun yang meningkat dari 122,30 menjadi 128,58.

Indikator lain, yaitu Crude Birth Rate (CBR), menunjukkan jumlah kelahiran hidup per 1.000 penduduk dalam satu tahun. Hasil SUPAS 2025 mencatat angka CBR Jateng sebesar 14,95, turun 0,75 poin dibandingkan hasil LF SP2020.

Di sisi lain, Angka Prevalensi Kontrasepsi atau Contraceptive Prevalence Rate (CPR) juga menjadi perhatian. Indikator ini menggambarkan persentase perempuan menikah usia 15–49 tahun atau pasangannya yang menggunakan alat kontrasepsi, baik modern maupun tradisional. Berdasarkan SUPAS 2025, CPR Jateng mencapai 63,63 persen.

Baca Juga: Gubernur Ahmad Luthfi Kawal Aspirasi dan Perjuangkan Kesejahteraan Driver Ojol

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*