BPS: IKG DIY 2025 Turun, Ketimpangan Gender Makin Kecil

BPS mencatat IKG DIY 2025 turun menjadi 0,153. Ketimpangan gender makin kecil, DIY jadi terbaik kedua nasional setelah DKI Jakarta.
Ilustrasi, Potret kesetaraan gender di tempat kerja

BPS mencatat IKG DIY 2025 turun menjadi 0,153. Ketimpangan gender makin kecil, DIY jadi terbaik kedua nasional setelah DKI Jakarta.

JOGJA, JOSS.CO.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat Indeks Ketimpangan Gender (IKG) DIY tahun 2025 mencapai 0,153. Angka ini turun 0,010 poin atau 6,13 persen dibanding tahun 2024 yang berada di angka 0,163.

Penurunan tersebut menunjukkan kesenjangan antara laki-laki dan perempuan di DIY semakin menyempit. Capaian ini juga menempatkan DIY sebagai salah satu provinsi dengan tingkat kesetaraan gender terbaik di Indonesia.

Plt Kepala BPS DIY Endang Tri Wahyuningsih menuturkan capaian itu menempatkan DIY sebagai provinsi dengan tingkat ketimpangan gender terbaik kedua secara nasional setelah DKI Jakarta yang mencatat IKG sebesar 0,144. Sementara Bali berada di posisi ketiga dengan IKG 0,178 dan Jawa Tengah di angka 0,225. Di tingkat nasional, IKG Indonesia tercatat 0,402 sehingga posisi DIY jauh lebih baik dibanding rata-rata nasional.

Peningkatan Pendidikan dan Peran Perempuan

“Penurunan IKG DIY didorong oleh membaiknya dimensi pemberdayaan perempuan, terutama pada indikator keterwakilan legislatif dan pendidikan minimal SMA antara laki-laki dan perempuan. BPS DIY mencatat kesenjangan pendidikan SMA turun dari 8,94 persen pada 2018 menjadi 4,52 persen pada 2025,”ujarnya.

Selain itu, persentase perempuan di legislatif juga meningkat. Gender gap pada indikator keterwakilan legislatif turun dari 74,54 persen pada 2018 menjadi 63,64 persen pada 2025. Hal ini menunjukkan akses perempuan terhadap pendidikan dan ruang pengambilan keputusan semakin terbuka.

Kondisi Tenaga Kerja dan Wilayah

Pada dimensi pasar tenaga kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan masih lebih rendah dibanding laki-laki. Namun selisihnya relatif terkendali dengan gender gap sebesar 17,99 persen pada 2025.

Secara wilayah, Kabupaten Sleman menjadi daerah dengan IKG terendah di DIY yakni 0,121, disusul Bantul 0,123. Sementara Kota Yogyakarta berada di angka 0,162 dan Gunungkidul 0,166.

Menariknya, Kabupaten Gunungkidul menjadi daerah dengan penurunan IKG terdalam di DIY dengan penurunan 0,017 poin dibanding tahun sebelumnya.

“Penurunan ini terutama dipengaruhi membaiknya indikator perempuan melahirkan anak pertama di bawah usia 20 tahun (MHPK20), yang menunjukkan semakin baiknya kualitas kesehatan reproduksi perempuan di wilayah tersebut,”tambahnya.

Kulon Progo Alami Kenaikan IKG

Di sisi lain, Kabupaten Kulon Progo justru mengalami kenaikan IKG paling tinggi di DIY. Nilainya melonjak dari 0,145 pada 2024 menjadi 0,333 pada 2025 atau naik 0,188 poin.

Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya indikator perempuan melahirkan tidak di fasilitas kesehatan (MTF), meningkatnya angka MHPK20, serta melebarnya kesenjangan tingkat partisipasi angkatan kerja antara laki-laki dan perempuan.

Tren Positif Kesetaraan Gender

Meski terdapat perbedaan antarwilayah, secara umum kondisi DIY menunjukkan tren positif dalam pembangunan kesetaraan gender. Penurunan IKG menjadi sinyal bahwa akses perempuan terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesempatan kerja semakin membaik dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*