Wakil Presiden Tetangga RI Dimakzulkan DPR, Terancam Gagal Nyapres

Wakil Presiden (Wapres) Filipina Sara Duterte dimakzulkan DPR atas tuduhan penyalahgunaan dana dan ancaman terhadap Presiden Marcos. Terancam gagal maju Pilpres 2028.
Ilustrasi dibuat oleh AI

Wakil Presiden (Wapres) Filipina Sara Duterte dimakzulkan DPR atas tuduhan penyalahgunaan dana dan ancaman terhadap Presiden Marcos. Terancam gagal maju Pilpres 2028.

JOSS.CO.ID – Wakil Presiden (Wapres) Filipina Sara Duterte resmi dimakzulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Senin (11/5/2026), dalam langkah politik besar yang berpotensi mengguncang peta kekuasaan negara tersebut.

Wakil Presiden (Wapres) Filipina Sara Duterte dimakzulkan DPR atas tuduhan penyalahgunaan dana dan ancaman terhadap Presiden Marcos. Terancam gagal maju Pilpres 2028.

 

Pemakzulan ini terjadi setelah mayoritas anggota parlemen yang didominasi sekutu Presiden Ferdinand Marcos Jr. menyetujui tuduhan terhadap Duterte, termasuk penyalahgunaan dana publik, kekayaan yang tidak dapat dijelaskan, hingga dugaan ancaman terhadap presiden dan keluarganya.

Duterte, putri mantan presiden Rodrigo Duterte, kini harus menghadapi persidangan di Senat Filipina. Jika dinyatakan bersalah, ia tidak hanya akan kehilangan jabatannya sebagai wakil presiden, tetapi juga dilarang mencalonkan diri dalam pemilihan presiden 2028.

Kasus ini memperdalam konflik politik antara dua dinasti besar Filipina, yakni keluarga Duterte dan Marcos, yang sebelumnya bersekutu dalam kemenangan pemilu 2022 namun kini menjadi rival sengit.

Proses Pemakzulan dan Tuduhan

Pemakzulan terhadap Sara Duterte didasarkan pada sejumlah tuduhan serius, antara lain:
– Penyalahgunaan dana publik saat menjabat sebagai wakil presiden dan menteri pendidikan
– Kepemilikan kekayaan yang tidak dapat dijelaskan
– Dugaan penyuapan
– Ancaman terhadap Presiden Ferdinand Marcos Jr., istrinya Louise Araneta-Marcos, serta Martin Romualdez

Ancaman tersebut muncul dalam konferensi pers daring, ketika Duterte menyatakan akan menyuruh pembunuh bayaran jika dirinya terbunuh. Namun, ia kemudian membantah bahwa pernyataannya merupakan ancaman.

Duterte juga menegaskan tidak melakukan pelanggaran. Tim hukumnya menyatakan: “Beban pembuktian kini berada pada pihak penuduh untuk membuktikan klaim mereka sesuai dengan konstitusi, hukum, dan aturan tentang bukti.”

Peluang di Senat Masih Terbuka

Meski telah dimakzulkan DPR, nasib Sara Duterte masih belum pasti. Untuk dinyatakan bersalah, diperlukan dukungan dua pertiga dari 24 anggota Senat.

Sejumlah analis menilai Duterte memiliki basis dukungan lebih kuat di Senat dibandingkan di DPR. Hal ini diperkuat oleh hasil pemilu paruh waktu sebelumnya, di mana kandidat yang berafiliasi dengan keluarganya menunjukkan performa cukup baik.

Menariknya, sesaat sebelum pemungutan suara pemakzulan, Senat memilih Alan Peter Cayetano—sekutu lama keluarga Duterte—sebagai presiden baru Senat. Namun, Cayetano membantah bahwa posisinya berkaitan dengan proses pemakzulan.

Dampak Politik dan Ambisi 2028

Kasus ini menjadi ujian politik terbesar bagi Sara Duterte, yang sebelumnya memimpin berbagai survei awal untuk pemilihan presiden 2028.

Jika gagal dalam sidang Senat, karier politiknya bisa berakhir lebih cepat. Sebaliknya, jika lolos, ia berpotensi kembali menguat sebagai kandidat utama menggantikan Marcos, yang tidak dapat mencalonkan diri lagi karena batasan konstitusi satu periode.

Sementara itu, tekanan terhadap keluarga Duterte juga datang dari kasus hukum internasional. Rodrigo Duterte saat ini menghadapi persidangan di Mahkamah Pidana Internasional terkait dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam perang melawan narkoba.

Pemakzulan ini menjadi babak terbaru dalam konflik politik yang semakin tajam di Filipina, sekaligus penentu masa depan salah satu tokoh paling berpengaruh di negara tersebut.

Baca Juga: Harta Pham Nhat Vuong Disorot Usai Insiden KRL dan KA Argo Bromo di Bekasi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*