
Kisah Maharaja Bhupinder Singh, Raja Patiala dengan 10 istri, 350 selir, dan 88 anak, hidup mewah sekaligus meninggalkan warisan besar bagi India.
DALAM sejarah kerajaan India, hanya sedikit tokoh yang kehidupannya semewah dan seikonik Maharaja Sir Bhupinder Singh dari Patiala. Ia menjadi simbol gaya hidup raja yang berkuasa pada masa-masa terakhir kejayaan kerajaan India di bawah bayang-bayang kekuasaan kolonial Inggris.
Bhupinder Singh lahir pada 12 Oktober 1891. Ia naik takhta Patiala pada usia sekitar sembilan tahun setelah ayahnya wafat dalam kecelakaan berkuda. Sejak muda, ia menempuh pendidikan di Aitchison College di Lahore dan dikenal gemar olahraga, terutama kriket dan polo, yang terus ia tekuni sepanjang hidup. Pada tahun 1910, ia menerima kekuasaan penuh dari perwakilan Inggris di India, menandai awal pemerintahan yang kelak dikenal karena kemegahan dan pengaruhnya.
“Raja Ini Menikahi 10 Istri, Memiliki 350 Selir, Dan Memperanakkan 88 Anak.”
Kehidupan pribadi Maharaja Bhupinder Singh sama spektakulernya dengan citra publiknya. Ia diketahui menikahi sepuluh istri dan memelihara harem yang berisi sekitar 350 selir. Dari keluarga besar ini, ia disebut memiliki 88 anak, dengan 52 di antaranya bertahan hidup hingga dewasa. Angka-angka ini membuat namanya kerap diulas kembali di media modern sebagai raja dengan 10 istri dan 350 selir.
Bhupinder Singh juga dikenal sangat akrab dengan kemewahan, baik di dalam negeri maupun saat berada di luar India. Berbagai laporan menyebut ia memiliki puluhan mobil Rolls Royce, jumlah yang luar biasa untuk ukuran zamannya. Ia pun terkenal mengoleksi perhiasan bernilai tinggi, termasuk pelindung dada berhias berlian yang dikenakan dalam acara-acara tertentu sebagai simbol status dan kekuasaan. Selera mewahnya bahkan tercermin dalam kebiasaan makan, di mana ia dikabarkan mampu menghabiskan puluhan burung puyuh dalam satu kali jamuan besar.
Pengaruh Maharaja Bhupinder Singh terhadap Patiala terlihat jelas pada pembangunan infrastruktur dan fasilitas olahraga. Ia membangun istana dan kompleks hunian, serta mendukung pengembangan lapangan kriket dan lapangan polo yang kemudian menjadi kebanggaan wilayahnya. Tim polo Patiala Tigers yang ia bentuk dikenal sebagai salah satu tim terbaik di India, didukung oleh ratusan kuda polo yang ia miliki.
Warisan Bhupinder Singh tidak hanya terkait kemewahan, tetapi juga peran politik dan militernya. Ia memerintah Patiala dari tahun 1900 hingga 1938 dan tercatat berkontribusi pada upaya Inggris dalam Perang Dunia Pertama, sehingga dianugerahi berbagai gelar kehormatan, termasuk pangkat perwira tinggi kehormatan dalam militer. Dalam budaya populer, namanya juga dikaitkan dengan istilah Patiala Peg, takaran minuman keras berukuran besar yang lahir dari kisah jamuan yang ia selenggarakan untuk tim tamu Eropa.
Pada 1928, Maharaja Bhupinder Singh kembali menjadi sorotan ketika memesan kalung rantai platinum dari rumah perhiasan Cartier. Kalung itu dihiasi ribuan berlian, termasuk berlian De Beers berkarat besar yang kemudian dikenal luas sebagai bagian dari Kalung Patiala. Aksi belanja mewah semacam ini memperkuat reputasinya sebagai salah satu penguasa paling flamboyan di India pada masa kolonial.
Bhupinder Singh wafat pada 23 Maret 1938. Ia dikenang sebagai penguasa yang penuh kontradiksi: di satu sisi sangat menikmati kemewahan pribadi, di sisi lain meninggalkan jejak penting bagi perkembangan olahraga, budaya, dan identitas Patiala. Kombinasi antara kehidupan pribadinya yang mencolok, 10 istri, 350 selir, dan 88 anak, serta warisan politik dan sosial yang luas, membuat kisah Maharaja Bhupinder Singh terus menarik perhatian pembaca hingga hari ini.

Leave a Reply