
Penurunan harga emas dunia 2026 mencatat kerugian terburuk sejak 1983, dipicu perang di Timur Tengah, lonjakan energi, dan spekulasi kenaikan suku bunga The Fed.
JOSS.CO.ID, SEMARANG – Pasar logam mulia dunia tengah mengalami guncangan besar. Penurunan harga emas dunia 2026 kini mengarah pada kerugian mingguan terbesar sejak 1983, menandai babak baru yang kelam di tengah memanasnya situasi geopolitik. Lonjakan harga energi akibat eskalasi perang di Timur Tengah menghapus harapan investor terhadap pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Tekanan pada emas kian kuat seiring menguatnya indeks dolar Amerika Serikat (AS) dan melonjaknya imbal hasil (yield) obligasi. Laporan CBS yang dikutip Bloomberg internasional pada Sabtu (21/3/2026) menyebutkan, AS tengah mempersiapkan kemungkinan pengerahan pasukan darat ke Iran, sehingga kecemasan pasar semakin dalam.
Kekhawatiran bahwa konflik akan berkepanjangan mendorong pelaku pasar bertaruh sekitar 50 persen bahwa Bank Sentral AS alias The Federal Reserve (The Fed) justru akan menaikkan suku bunga pada Oktober mendatang. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, emas otomatis kehilangan daya tarik ketika suku bunga diperkirakan tetap tinggi atau bahkan naik lebih agresif.
Situasi di Selat Hormuz turut memperburuk sentimen. Menurut sumber internal, pejabat Iran kini enggan membahas pembukaan kembali jalur pelayaran vital tersebut karena fokus pada pertahanan terhadap serangan. Di sisi lain, Pentagon dilaporkan mengirim tiga kapal perang dan ribuan personel Marinir tambahan ke kawasan tersebut, menambah kecemasan pasar atas terganggunya arus energi global.
Analis dari StoneX Financial, Rhona O’Connell, menilai aksi jual di pasar logam mulia saat ini merupakan kombinasi antara pengambilan untung (profit-taking) dan likuidasi massal oleh pelaku besar.
“Harga di atas US$ 5.200 sebelumnya telah menarik banyak pembeli, sehingga pasar menjadi sangat rentan terhadap koreksi,” jelas O’Connell.
Penurunan harga emas kian cepat ketika level stop-loss investor tersentuh, memicu instruksi jual otomatis beruntun di berbagai platform perdagangan. Di saat yang sama, dana kelolaan emas atau ETF mencatatkan arus keluar selama tiga minggu berturut-turut dengan total pelepasan lebih dari 60 ton emas, menegaskan bahwa tekanan jual tidak hanya terjadi di pasar fisik tetapi juga di instrumen investasi berbasis emas.
Data Pasar Terkini
Hingga Sabtu siang, emas batangan turun 3,1 persen ke level US$ 4.508,96 per ons. Rangkaian koreksi ini sudah berlangsung delapan hari berturut-turut, menjadi durasi penurunan terpanjang sejak Oktober 2023. Meski begitu, secara tahunan emas masih mencatat kenaikan sekitar 4 persen dibandingkan posisi awal tahun, sehingga ruang pemulihan masih terbuka bila tensi geopolitik mereda.
Logam mulia lain bernasib hampir serupa. Perak anjlok 6,3 persen ke posisi US$ 68,20 per ons dan menorehkan kerugian lebih dari 15 persen hanya dalam satu pekan perdagangan. Palladium dan platinum juga terpantau mengalami koreksi mingguan yang signifikan, menandakan tekanan tidak hanya terfokus pada emas, tetapi melanda keseluruhan pasar logam mulia.
Secara historis, emas selalu dipandang sebagai pelabuhan aman (safe haven) utama saat terjadi gejolak geopolitik. Namun krisis tahun 2026 menghadirkan dinamika berbeda. Perang yang secara langsung melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu lonjakan biaya energi global ke level yang mengkhawatirkan. Imbasnya, narasi ekonomi bergeser kembali ke ancaman inflasi tinggi dan kekhawatiran perlambatan ekonomi berkepanjangan.
Dalam kondisi normal, inflasi tinggi biasanya justru menguntungkan emas sebagai aset lindung nilai. Namun ketika inflasi itu direspons pasar dengan ekspektasi kenaikan suku bunga yang agresif oleh bank sentral, emas kehilangan pesona dibandingkan Dolar AS yang menawarkan imbal hasil bunga lebih pasti. Di tengah penurunan harga emas dunia 2026, investor global pun semakin selektif memilih instrumen untuk menyimpan kekayaan mereka.
Fenomena “penjualan paksa” (forced selling) untuk menutupi kerugian di pasar saham yang tengah rontok juga ikut memicu pelepasan emas oleh investor besar. Kondisi ini menegaskan bahwa dalam skala konflik global yang masif, likuiditas atau uang tunai terkadang dianggap lebih berharga daripada aset fisik, setidaknya sampai pasar menemukan titik keseimbangan barunya dan arah risiko kembali jelas.
Baca Juga:

Leave a Reply