
DEN desak pemerintah amankan kontrak G2G minyak jangka panjang usai dua kargo impor dari Singapura batal, agar pasokan BBM RI tetap aman dan harga lebih stabil.
JOSS.CO.ID – Dewan Energi Nasional (DEN) mendorong pemerintah segera mengamankan kontrak G2G minyak jangka panjang dengan sejumlah negara eksportir minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM), menyusul insiden pembatalan dua kargo impor dari Singapura.
Anggota DEN Kholid Syeirazi menekankan bahwa Indonesia tidak boleh hanya mengandalkan beberapa negara seperti Malaysia dan Singapura sebagai sumber pasokan BBM. Ia juga mengingatkan bahwa pasokan migas dari Singapura sangat mungkin bersumber dari negara-negara Timur Tengah yang kini terdampak penutupan Selat Hormuz.
Kholid meminta pemerintah mengutamakan skema kontrak antarpemerintah (Government to Government/G2G) dengan negara pemasok, sebelum badan usaha meneken kontrak bisnis atau Business to Business (B2B). Menurutnya, pola tersebut dapat memberi posisi tawar lebih kuat agar Indonesia memperoleh harga minyak mentah lewat negosiasi di bawah harga pasar spot.
“Iya, saya kira mutlak begitu, jadi kita tidak boleh tergantung pada satu pemasok saja, jadi sourcing kita harus didiversifikasi dan itu mestinya memang jangka panjang, jadi kita kontrak jangka panjang dengan negara-negara produsen yang harapan saya itu adalah G2G kemudian baru turunanya itu B2B,” kata Kholid di Rest Area KM 57 Jakarta–Cikampek, Senin (16/3/2026).
Ia mencontohkan kerja sama panjang Indonesia dengan Saudi Aramco yang sudah berlangsung sejak dekade 1970-an. Dalam skema tersebut, harga disepakati melalui negosiasi jangka panjang dan dapat ditinjau berkala, sehingga lebih rendah daripada harga spot yang fluktuatif dan berisiko.
“G2G itu bisa berarti harga diplomasi kan, jangka panjang, kayak kita dengan Saudi Aramco, itu kan kontrak jangka panjang sejak 1970-an. Jadi harganya itu harga nego meskipun bisa di- review setiap 6 bulan sekali tapi di bawah harga spot. Kalau [impor dari pasar] spot itu risiko,” tegas dia.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan adanya dua kargo minyak mentah yang batal dikirimkan ke Indonesia dari Singapura, meski keduanya sudah dalam proses pengiriman. Ia menjelaskan, pembelian minyak mentah itu dilakukan PT Pertamina (Persero) melalui mekanisme tender lewat trader.
“Tiga dua hari lalu kita sudah membeli minyak dari Singapura sudah berangkat ditenderkan oleh Pertamina lewat trader sudah berangkat, sudah masuk laut Indonesia kemudian disuruh kembali lagi dua kargo,” kata Bahlil dalam sidang rapat kabinet paripurna, Jumat (13/3/2026).
Bahlil menilai, kejadian tersebut menunjukkan bahwa teori perekonomian normal dalam pengadaan minyak mentah sudah tidak sepenuhnya berlaku. Para pemasok kini cenderung memilih negara yang berani membayar dengan harga tertinggi di tengah kondisi pasokan yang ketat.
“Jadi sekarang perekonomian sekarang untuk urusan minyak ini Pak hukum siapa normalnya sudah tidak berlaku. Karena ada cuan dia beli karena barang susah ini,” ujar Bahlil.
Ia menambahkan, Kementerian ESDM telah berkoordinasi dengan Pertamina untuk menempuh langkah hukum bila diperlukan. Namun, pada akhirnya tercapai kesepakatan bahwa dua kargo minyak mentah akan kembali dikirimkan pada 18 Maret 2026.
“Kalau tidak kita gugat. Sesuai dengan apa yang Bapak Arahkan tapi sepertinya mereka agak gertak-gertak dikit agak takut juga Pak. Jadi tanggal 18 udah bisa dibalikin Pak,” ujar Bahlil di hadapan Prabowo.
Data DEN dan BPH Migas menunjukkan, komposisi impor minyak mentah Indonesia pada 2025 sudah terdiversifikasi dari berbagai negara. Nigeria menyumbang sekitar 34,07 juta barel atau 25%, Angola 28,5 juta barel atau 21%, Arab Saudi 25,36 juta barel atau 19%, Brasil 9%, Australia 8%, serta negara lain seperti Gabon, Amerika Serikat, dan Malaysia.
Untuk impor BBM, data Kementerian ESDM mencatat Indonesia paling banyak mengimpor dari Singapura dan Malaysia, disusul China, Korea Selatan, Oman, Uni Emirat Arab (UEA), India, Mesir, Jepang, dan Taiwan.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan volume impor minyak mentah Indonesia berkode HS 27090010 sepanjang 2025 mencapai 15,99 juta ton, naik dari 15,27 juta ton pada 2024. Pada 2023 impor tercatat 17,03 juta ton, pada 2022 sebesar 14,12 juta ton, sedangkan pada 2021 sekitar 12,10 juta ton.

Leave a Reply