
JOSS.CO.ID, TEHERAN – Iran resmi mengangkat Mojtaba Khamenei pemimpin tertinggi Iran yang baru, menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel di Teheran. Penunjukan ini dilakukan saat Iran menghadapi krisis terbesar dalam 47 tahun sejarah Republik Islam, di tengah perang yang memicu kekacauan di berbagai negara kawasan.
Majelis Ahli (Assembly of Experts) pada Minggu menetapkan Mojtaba, 56 tahun, sebagai penerus ayahnya. The Assembly of Experts named the 56-year-old, who will now be charged with leading the Islamic Republic through the biggest crisis in its 47-year history, as his father’s successor on Sunday. Para pemimpin politik kunci, Garda Revolusi Islam (IRGC), dan militer bergerak cepat menyatakan dukungan terhadap pemimpin baru tersebut.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyebut pengangkatan ini sebagai awal “new era of dignity and strength” bagi bangsa Iran. “This valuable choice is a manifestation of the will of the Islamic nation to consolidate national unity; a unity that, like a solid barrier, has made the Iranian nation resistant to the conspiracies of the enemies,” ujarnya.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi juga menyampaikan selamat kepada Mojtaba Khamenei. “We pledge that, in defence of the rights of the great Iranian nation, the advancement of national interests and security, and the realisation of the lofty goals of the Islamic revolution, we shall not falter for a moment,” tulisnya.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Ali Larijani, yang mengatur strategi keamanan Iran sejak ofensif besar AS dan Israel pada 28 Februari, menyerukan persatuan di bawah pemimpin baru. Kepala Dewan Kemashlahatan (Expediency Council), Larijani, menegaskan pentingnya melanjutkan jalan revolusi. Ia menyebut penunjukan Mojtaba sebagai penegasan untuk meneruskan “luminous” path dari pemimpin tertinggi pertama Iran, Ruhollah Khomeini.
Ketua Parlemen, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyambut keputusan tersebut dan menyatakan mengikuti pemimpin tertinggi baru adalah “religious and national duty”. Sebuah pernyataan Dewan Pertahanan menegaskan kesetiaan: “We will obey the commander-in-chief until the last drop of our blood.”
Sosok Mojtaba dan sinyal garis keras
Mojtaba Khamenei tidak pernah maju dalam pemilihan umum dan tidak pernah diuji lewat suara publik. Namun, ia lama dikenal sebagai figur berpengaruh di lingkar dalam kepemimpinan tertinggi Iran dan memiliki hubungan kuat dengan IRGC. Dalam beberapa tahun terakhir, ia sering disebut sebagai calon penerus ayahnya yang berkuasa sejak 1989.
Pemilihannya dipandang sebagai indikasi bahwa faksi garis keras di struktur kekuasaan Iran masih memegang kendali. Hal ini mengirim sinyal bahwa pemerintah tidak berkeinginan besar untuk mencapai kesepakatan atau negosiasi dalam jangka pendek, ketika perang memasuki pekan kedua.
Analis kebijakan publik dari American University of Beirut, Rami Khouri, menyebut penunjukan ini sebagai sinyal “continuity”. Ia menilai masih perlu dilihat apakah pemimpin tertinggi baru akan mendorong negosiasi untuk mengakhiri perang atau justru mempertajam konfrontasi.
Khouri menggambarkan keputusan Iran mengangkat Mojtaba sebagai “an act of defiance”. Iran, katanya, seolah menyampaikan pesan kepada AS dan Israel: “You wanted to get rid of our system? Well … this is a more radical person than his father, who was assassinated.”
Reporter Al Jazeera yang lama mengamati Iran, **Ali Hashem**, menyebut Mojtaba sebagai “father’s gatekeeper”. “He adopts the positions of his father with respect to the United States, with respect to Israel. So we are expecting a confrontational leader. We’re not expecting any moderation,” kata Hashem.
Namun ia menambahkan, “However, if this war comes to an end and he is still alive, and he is able to continue running the country, there is going to be big potential … to find new routes for Iran.”
Reaksi AS, Israel, Rusia, dan China
Pemilihan Mojtaba Khamenei pemimpin tertinggi Iran hampir pasti memancing kemarahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sebelumnya menolak dirinya sebagai kandidat. Media Israel melaporkan Trump menolak berkomentar langsung atas penunjukan tersebut, hanya mengatakan: “We’ll see what happens.”
Militer Israel sebelumnya mengancam akan membunuh siapa pun yang menggantikan Khamenei. Trump juga pernah menyatakan perang mungkin baru berakhir jika militer dan para pemimpin Iran “dihapuskan”.
Tentang pemimpin baru Iran, Trump berkata kepada ABC News: “He’s going to have to get approval from us. If he doesn’t get approval from us, he’s not going to last long.”
Senator AS Lindsey Graham, pendukung kuat Israel, menilai pemimpin tertinggi baru Iran “not the change we’re looking for”. “I believe it’s just a matter of time before he meets the same fate as that of his father,” ujarnya di X.
Berbeda dengan Washington dan Tel Aviv, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan dukungan “unwavering” terhadap pengangkatan Mojtaba Khamenei. China menegaskan penolakannya atas segala upaya menargetkan pemimpin tertinggi baru Iran.
Proses di Majelis Ahli dan sindiran ‘Epstein’s gang’
Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama menyatakan tidak ragu dalam memilih pemimpin baru. Dalam pernyataannya pada Minggu, mereka menyebut tidak “did not hesitate for a minute” meski berada di tengah “the brutal aggression of the criminal America and the evil Zionist regime”.
Anggota Majelis Ahli, **Heidari Alekasir**, mengatakan Mojtaba dipilih berdasarkan nasihat mendiang Ali Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran harus “be hated by the enemy” ketimbang dipuji. “Even the Great Satan [US] has mentioned his name,” ujarnya, merujuk pernyataan Trump yang menyebut Mojtaba sebagai pilihan “unacceptable”.
Pejabat Iran menolak keras upaya Trump untuk ikut campur dalam proses pemilihan pemimpin tertinggi, menegaskan hanya rakyat Iran yang berhak menentukan masa depan negara mereka. Pada Jumat, Ghalibaf menyindir tuntutan Trump dan menulis di X: “The fate of dear Iran, which is more precious than life, will be determined solely by the proud Iranian nation, not by [Jeffrey] Epstein’s gang.”
Langit gelap Teheran dan ancaman eskalasi perang
Ali Khamenei, yang memimpin Iran selama 37 tahun setelah menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, tewas dalam serangan gabungan AS-Israel di Teheran pada awal pecahnya perang. Serangan itu juga menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran dan menjadi awal rangkaian serangan ke berbagai target di negara tersebut.
Selain menghantam kapal dan instalasi militer, AS dan Israel dituduh menyerang berbagai target sipil, termasuk sekolah dan rumah sakit. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke Israel dan aset AS di kawasan, dan juga dituduh meluncurkan serangan ke sasaran sipil di Teluk, seperti instalasi energi, hotel, dan bandara.
Saat para ulama Syiah memilih Mojtaba Khamenei pemimpin tertinggi Iran yang baru, langit Teheran diselimuti kabut gelap setelah Israel menghantam lima fasilitas minyak di sekitar ibu kota. Kebakaran hebat menimbulkan asap pekat yang menyelimuti kota.
IRGC menyatakan memiliki cukup persediaan untuk melanjutkan serangan rudal dan drone di kawasan hingga enam bulan ke depan. Juru bicara IRGC, **Ali Mohammad Naini**, menyebut Iran sejauh ini baru menggunakan rudal generasi pertama dan kedua, dan akan mengerahkan “advanced and less-used long-range missiles” dalam beberapa hari ke depan.
Sementara itu, Trump kembali menolak menutup opsi mengirim pasukan darat AS ke Iran, meskipun ia berkali-kali mengklaim perang “nyaris dimenangkan” di tengah serangan balik Iran yang terus berlanjut. Para analis menilai belum ada jalur jelas untuk mengakhiri konflik ini, dan pejabat AS serta Israel memperkirakan perang bisa berlangsung sebulan atau lebih lama.

Leave a Reply