Peta Gempa 2024: Megathrust Jawa Berpotensi Memicu Gempa M 9,1, Indonesia Masuk Zona Risiko Tinggi

Peta Gempa 2024: Megathrust Jawa Berpotensi Memicu Gempa M 9,1, Indonesia Masuk Zona Risiko Tinggi
Ilustrasi gempa Megathrust segmen Sumatera dan Selatan Jawa. (Dok. Jurnal On the potential for megathrust earthquakes and tsunamis off the southern coast of West Java and southeast Sumatra, Indonesia)

Peta Gempa Indonesia 2024 mengungkap potensi gempa besar hingga magnitudo 9,1 di zona Megathrust di Jawa dan 9,2 di Aceh-Andaman. Simak penjelasan ahli Jepang dan BMKG soal risiko ini.

JOSS.CO.ID – Risiko gempa besar di wilayah Indonesia kembali menjadi perhatian setelah Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 diperbarui. Dalam peta terbaru itu, jumlah zona megathrust meningkat menjadi 14 titik — lebih banyak dibandingkan rilis tahun 2017. Peningkatan ini menandakan bahaya gempa yang lebih tinggi, terlihat dari kontur ancaman yang semakin rapat di sejumlah wilayah selatan dan barat Nusantara.

Dalam peta tersebut, Megathrust Aceh-Andaman tercatat sebagai zona dengan potensi gempa terbesar, mencapai magnitudo 9,2. Sementara itu, Megathrust Jawa berpotensi memicu gempa hingga magnitudo 9,1. Beberapa wilayah lain seperti Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, dan Enggano juga tercatat memiliki potensi gempa besar dengan magnitudo maksimum sekitar 8,9.

Perkembangan data ini turut menarik perhatian dunia internasional, termasuk Jepang. Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University menilai kondisi geologi Indonesia mirip dengan kawasan Nankai Trough, salah satu zona megathrust paling aktif di dunia.

“Kami memahami bahwa gempa bermagnitudo 8 di Jepang terjadi dalam interval sekitar 50 hingga 100 tahun. Ini merupakan pandangan klasik kami sebelum terjadinya gempa besar,” ujar Heki saat menjadi Visiting Researcher di BRIN pada akhir Desember 2025.

Menurut Heki, meski waktu terjadinya gempa sulit diprediksi, kunci mitigasi bencana terletak pada pemantauan deformasi kerak bumi dalam jangka panjang. Ia menekankan pentingnya Global Navigation Satellite System (GNSS) dan pengukuran geodesi dasar laut untuk membaca akumulasi tegangan di zona subduksi.

“Kami melihat adanya kopling antar seismik yang saling mengunci hampir di sepanjang sumbu palung. Bahkan di bagian batas lempeng yang sangat dangkal, regangan terus terakumulasi untuk gempa berikutnya,” jelasnya.

Heki juga menyoroti fenomena slow slip event atau pergeseran lambat yang sering muncul sebelum gempa besar. Meski pergerakannya sangat lambat, fenomena ini dapat menjadi indikator awal sebelum gempa besar terjadi.

“Fenomena ini telah diamati berulang kali di Nankai Trough dan wilayah lain di Jepang. Salah satu peristiwa pergeseran lambat ini bisa saja memicu gempa besar berikutnya,” katanya.

Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan sistem pemantauan tektonik serupa, mengingat banyaknya zona subduksi aktif dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok hingga Maluku. Dengan memperkuat jaringan GNSS dan teknologi pemantauan bawah laut, Indonesia bisa membaca akumulasi tegangan tektonik secara lebih presisi.

“Saat ini saya sedang mengerjakan masalah ini di Indonesia,” ujar Heki.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa dua zona megathrust di Indonesia, yakni Selat Sunda dan Mentawai-Siberut, masih berada dalam kondisi seismic gap atau belum melepaskan energi besar selama ratusan tahun. Gempa terakhir di wilayah ini terjadi masing-masing pada tahun 1757 dan 1797.

BMKG menegaskan bahwa istilah “menunggu waktu” bukan berarti prediksi waktu pasti terjadinya gempa.

“Yang dimaksud adalah akumulasi energi yang masih tersimpan karena lama tidak terjadi gempa besar. Bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat,” tulis BMKG dalam keterangan resminya.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*