
Max Lane menilai Indonesians Don’t Realise That Their Country Is Poor akibat warisan kolonialisme dan minimnya debat ekonomi terbuka di Indonesia.
Indonesians Don’t Realise That Their Country Is Poor
Pada 9 Februari, media nasional TEMPO mempublikasikan wawancara dengan analis politik Maxwell Ronald Lane. Dalam perbincangan tersebut, ia membahas dampak kolonialisme terhadap kemiskinan Indonesia serta tantangan yang masih dihadapi hingga kini.
Max Lane bukan nama asing dalam kajian Indonesia. Peneliti di ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura, ini telah lama meneliti sejarah dan politik Indonesia. Ia juga memiliki kedekatan dengan sejumlah tokoh lintas generasi seperti Pramoedya Ananta Toer, W.S. Rendra, Hariman Siregar, Todung Mulya Lubis, hingga Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid.
Warisan Kolonial dan Kemiskinan
Dalam wawancara tersebut, Lane menegaskan bahwa kemiskinan di banyak negara dunia ketiga merupakan dampak langsung dari kolonialisme. Menurutnya, negara-negara di Global South umumnya menyadari akar persoalan tersebut.
Namun, ia melihat kondisi berbeda di Indonesia.
“The average person in a third world country is aware that poverty is the result of colonialism. In Indonesia, I find that most people do not have appreciation or awareness that the country is poor.”
Lane menilai berkembangnya narasi bahwa Indonesia adalah negara kaya justru menutupi persoalan mendasar. Kekayaan sumber daya alam, menurutnya, tidak otomatis berarti negara memiliki modal dan teknologi untuk mengelolanya secara mandiri.
“Third world countries must unite to break this problem,” ujarnya, Senin, 2 Februari 2026.
Bukan Semata Kesalahan Pemimpin
Lane juga menekankan bahwa kondisi kemiskinan Indonesia tidak bisa dibebankan pada satu tokoh atau periode pemerintahan tertentu. Ia menyebut persoalan tersebut merupakan dampak struktural jangka panjang.
Ia menyinggung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang baru berjalan sekitar satu tahun. Menurutnya, masih terlalu dini untuk menilai keberhasilan kebijakan ekonomi saat ini.
“Prabowo’s administration has only been in office for one year. I can’t measure it yet because it’s still a bit early.”
Lane juga menilai perlu ada evaluasi terbuka terhadap berbagai kebijakan ekonomi, termasuk kesinambungan program pembangunan dari era sebelumnya.
Minim Debat Terbuka
Salah satu sorotan utama Lane adalah minimnya debat ekonomi terbuka di Indonesia. Ia menilai, tanpa perdebatan yang mendalam, bangsa ini berisiko hanya mengeluhkan keadaan tanpa merumuskan alternatif solusi yang jelas.
“This country needs a more open debate about future economic strategies. Whether it succeeds in finding a better way or not is another matter.”
Menurutnya, di sejumlah negara seperti Brasil, perbedaan visi ekonomi antarpartai memicu debat publik yang sehat. Sementara di Indonesia, ia melihat visi partai-partai politik cenderung serupa sehingga jarang terjadi perbedaan tajam dalam pengambilan keputusan di parlemen.
Soal Oposisi dan Demokrasi
Lane juga menanggapi perdebatan mengenai pentingnya oposisi dalam sistem demokrasi. Ia berpendapat oposisi akan muncul secara alami ketika terdapat perbedaan pandangan dalam masyarakat.
“There is no need for opposition if people agree.”
Ia menilai selama tidak ada pelarangan partai politik dan media tetap bisa mengkritik pemerintah, ruang demokrasi masih terbuka. Namun, kualitas perdebatan tetap menjadi faktor penting dalam memperkuat arah kebijakan negara.
Latar Belakang dan Memoar Politik
Lane mulai mengenal Indonesia sejak masa sekolah menengah di Sydney pada akhir 1960-an. Ia kemudian mendalami studi Indonesia di universitas dan menjalin relasi luas dengan aktivis serta intelektual Indonesia.
Kini, di usia 75 tahun, ia tengah menyelesaikan buku memoar politik yang ditargetkan rampung sebelum Juni 2026. Buku tersebut akan memuat pengalaman serta interaksinya dengan berbagai tokoh dan peristiwa penting terkait Indonesia.
“It’s also hard to write it,” katanya sambil tertawa.
Melalui wawancara ini, Lane mengingatkan pentingnya kesadaran sejarah dan diskusi terbuka untuk merumuskan strategi ekonomi yang lebih tepat. Baginya, tanpa memahami akar persoalan, Indonesia berisiko terus berkutat pada gejala tanpa menyentuh solusi mendasar.

Leave a Reply