China Timbun Emas demi Geser Dolar AS? Ini Faktanya

China Timbun Emas demi Geser Dolar AS ? Ini Faktanya
Ilustrasi

Benarkah China menimbun emas untuk menjadikan yuan mata uang cadangan global dan menggeser dolar AS? Simak analisis data dan faktanya.

Apakah China Menimbun Emas Agar Yuan Menjadi Cadangan Global dan Bukan USD?

SELAMA hampir satu abad, dolar Amerika Serikat mendominasi sistem keuangan dunia. Dalam transaksi minyak, gandum, hingga perdagangan komoditas global lainnya, dolar hampir selalu menjadi mata uang utama.

Namun, China ingin mengubah keadaan tersebut.

Sejak awal 2000-an, Negeri Tirai Bambu menjalankan strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi mata uangnya, yuan—atau secara resmi disebut renminbi—dalam perdagangan internasional. Target besarnya adalah menjadikan yuan sebagai mata uang cadangan global, posisi yang saat ini masih didominasi dolar AS.

Presiden China, Xi Jinping, kembali menegaskan ambisi tersebut dalam pidato yang diterbitkan di majalah pemerintah Qiushi. Ia menyatakan bahwa China perlu membangun mata uang yang kuat, luas digunakan dalam perdagangan internasional dan pasar valuta asing, serta memiliki status sebagai mata uang cadangan global.

Jika renminbi benar-benar mampu menggantikan dolar AS—yang oleh sebagian analis diperkirakan bisa terjadi sekitar 2050—maka dunia akan menyaksikan pergeseran kekuatan global terbesar sejak Perang Dunia II.

Benarkah China Menimbun Emas?

Untuk mewujudkan ambisi itu, muncul spekulasi bahwa China diam-diam menimbun emas dalam jumlah besar. Teorinya, suatu saat nanti Beijing akan mengumumkan cadangan emas sebenarnya dan memperkenalkan sistem moneter baru berbasis emas yang didukung yuan.

Isu ini semakin menarik karena berkembang pula wacana mata uang BRICS berbasis emas. Namun, mengingat kompleksitas lebih dari 10 negara anggota, langkah sepihak dari China dinilai lebih realistis dalam waktu dekat.

“Saya rasa ini adalah kisah terbesar dalam keuangan dunia: akumulasi emas oleh China dan tidak ada yang memperhatikannya,” kata penulis keuangan Dominic Frisby dalam podcast Triggernometry.

Frisby dikenal sebagai penulis buku tentang sejarah perpajakan, emas, dan Bitcoin, serta kontributor lama di majalah investasi.

Data Resmi vs Perkiraan Analis

Pada akhir 2025, pemerintah China melaporkan cadangan emas sebesar 2.306 ton. Angka ini menempatkan China di posisi keenam dunia, di bawah Amerika Serikat, Jerman, Italia, Prancis, dan Rusia.

Namun sejumlah analis memperkirakan jumlah sebenarnya bisa jauh lebih besar.

Laporan Bloomberg pada Januari menyebutkan China membeli emas setiap bulan selama 14 bulan berturut-turut, bahkan ketika harga emas menyentuh rekor tertinggi. Pembelian kembali terjadi pada Januari berikutnya.

Analis emas Jan Nieuwenhuijs dari Money Metals Exchange memperkirakan China memiliki sekitar 5.411 ton emas—lebih dari dua kali lipat angka resmi.

Menurutnya, pembelian dilakukan secara diam-diam agar tidak memicu lonjakan harga. Strategi ini memungkinkan bank sentral China membeli lebih banyak emas dengan harga relatif lebih rendah.

Charles-Henry Monchau dari Syz Group menilai pendekatan ini efektif karena dilakukan secara halus. Berbeda dengan aksi jual besar-besaran obligasi pemerintah AS yang bisa mengguncang pasar, akumulasi emas berlangsung perlahan namun konsisten.

Dengan mengalihkan sebagian cadangan dolar ke emas, China secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memperkuat fondasi moneter berbasis aset riil.

Bagaimana Dolar AS Menjadi Mata Uang Cadangan Dunia?

Untuk memahami potensi strategi China, kita perlu melihat sejarah dominasi dolar.

Pada 1944, sebanyak 44 negara menandatangani Perjanjian Bretton Woods yang mematok mata uang global terhadap dolar AS. Saat itu, dolar dapat ditukar dengan emas sebesar 35 dolar per ons.

Namun sistem ini runtuh pada 1971 ketika Presiden AS saat itu, Richard Nixon, menghentikan konvertibilitas dolar terhadap emas. Langkah tersebut mengakhiri standar emas modern.

Sejak saat itu, dolar menjadi mata uang fiat—tidak lagi didukung langsung oleh emas, melainkan oleh kepercayaan global terhadap ekonomi AS.

“Ini disebut ilusi uang,” kata Frisby. “Meskipun tidak ada yang mendukung uang tersebut, kita harus berpikir ada sesuatu yang mendukung uang itu agar bisa berfungsi.”

Amerika Serikat mengklaim memiliki 8.133 ton emas, lebih dari separuhnya disimpan di Fort Knox. Namun audit komprehensif belum dilakukan selama beberapa dekade.

Seberapa Besar Cadangan Emas China Sebenarnya?

Perkiraan awal Frisby menyebut China mungkin memiliki hingga 16.000 ton emas, tetapi kemudian direvisi menjadi sekitar 7.000 ton.

Pendekatan lain menggunakan perbandingan ukuran ekonomi. Berdasarkan data Dana Moneter Internasional (IMF), PDB China diproyeksikan mencapai 20,7 triliun dolar AS pada 2026, sementara AS diperkirakan 31,8 triliun dolar AS.

Jika rasio tersebut diterapkan pada cadangan emas, maka China seharusnya memiliki sekitar 65% dari 8.133 ton milik AS, atau sekitar 5.300 ton emas—dua kali lipat dari angka resmi.

Analis ANZ Bank juga memperkirakan angka serupa, sekitar 5.500 ton.

Perlu dicatat, China merupakan produsen emas terbesar dunia sejak 2007. Sejak 2013, produksi emas domestiknya mencapai sekitar 4.811 ton, dengan tambahan 380 ton pada 2024—setara 10% produksi global. Lebih dari separuh tambang emas di China dimiliki negara.

Apakah Yuan Bisa Menggantikan Dolar?

Meski teori China menimbun emas cukup kuat secara logika geopolitik, bukti langsung masih terbatas karena minimnya transparansi data resmi.

Untuk benar-benar menggantikan dolar AS sebagai mata uang cadangan global, China harus memenuhi sejumlah syarat lain, seperti:

  • Pasar keuangan yang terbuka dan likuid
  • Kepercayaan internasional terhadap sistem hukumnya
  • Stabilitas politik dan ekonomi jangka panjang
  • Kebebasan arus modal

Tanpa faktor-faktor tersebut, cadangan emas besar saja belum tentu cukup.

Namun satu hal jelas: strategi akumulasi emas China menunjukkan upaya serius untuk mengurangi dominasi dolar dalam jangka panjang. Apakah ini akan benar-benar mengubah peta kekuatan finansial global? Dunia masih menunggu jawabannya.

Baca Juga:

Startup China IN3D Kembangkan 3D Printing untuk Sepatu hingga Robotik

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*