
KAMPUNG Bustaman di Kecamatan Purwodinatan, Semarang Tengah, kembali menjadi pusat perhatian wisatawan dan warga lokal saat merayakan Gebyuran Bustaman ke-13 pada 12-15 Februari 2026. Festival budaya tahunan ini menghadirkan pengalaman unik merayakan tradisi Jawa menjelang Ramadan dengan cara yang penuh kegembiraan dan kearifan lokal.
Tradisi Unik yang Tumbuh dari Hati Warga
Gebyuran Bustaman bukan sekadar perayaan biasa. Tradisi ini tumbuh dari filosofi “Srawung Ora Suwung” – berkumpul tanpa kekosongan makna. Acara yang digelar 12-15 Februari 2026 ini menggabungkan berbagai kegiatan spiritual dan budaya, mulai dari Arwah Jama’, peringatan Maulid Nabi, ziarah kubur, kirab budaya, hingga pentas seni dan bazar kuliner khas Bustaman.
Yang membuat tradisi ini istimewa adalah cara warga merawatnya bersama dari generasi ke generasi, menjadikan perayaan ini identitas kampung yang kuat dan autentik.
Puncak Perayaan: Perang Air Penuh Makna
Puncak acara berlangsung Sabtu sore, 15 Februari 2026, dimulai sekitar pukul 15.00 WIB dengan Tari Kreasi Bustaman. Suasana kampung langsung meriah dengan warga yang sudah bersiap di depan rumah masing-masing, lengkap dengan plastik berisi air berwarna-warni dan wajah yang dicoret cat air.
Pada pukul 16.40 WIB, tradisi Gebyuran dimulai. Air dari kendi tradisional diguyur sebagai tanda pembuka, lalu warga saling melempar air berwarna di gang-gang sempit Kampung Bustaman. Suasana gembira, tawa, dan kebersamaan memenuhi setiap sudut kampung, menciptakan momen tak terlupakan bagi siapa saja yang hadir.
Sejarah dan Makna Gebyuran Bustaman
Plt Lurah Purwodinatan, Bagas Yuwono Ario Negoro, menjelaskan bahwa tradisi ini berakar dari ajaran Kiai Bustaman, leluhur kampung yang namanya diabadikan sebagai nama kawasan. “Kebudayaan di Kampung Bustaman ini setiap mau puasa kita mengadakan Gebyuran dengan cara air dilempar, identik juga dengan Gule Bustaman,” ungkapnya.
Tradisi ini bukan hanya milik warga Bustaman, tetapi menjadi warisan budaya untuk seluruh Kota Semarang. Bagas berharap melalui upaya pelestarian ini, identitas budaya Jawa di Semarang bisa tetap kuat. “Ini kita nguri-nguri budaya Jawa, kita Jawa tapi ora njawani. Semarang harusnya lebih njawani menurut saya,” tegasnya.
Lebih dari Sekadar Perang Air
Gebyuran Bustaman menawarkan pengalaman wisata budaya yang lengkap. Selain perang air yang menjadi daya tarik utama, pengunjung bisa menikmati:
– Kirab budaya yang menampilkan kostum tradisional dan kesenian lokal
– Pentas seni dengan pertunjukan musik dan tari khas Semarang
– Bazar kuliner dengan menu andalan Gule Bustaman dan jajanan tradisional lainnya
– Pekakota Forum sebagai wadah diskusi dan silaturahmi warga.

Leave a Reply