Pasien Super Flu di RSHS Bandung Meninggal, Ini Penjelasan Menkes

Pasien Super Flu Flu A H3N2 di RSHS Bandung Meninggal
Ilustrasi

JOSS.CO.ID, BANDUNG – Kasus pasien “Super Flu” atau Influenza A H3N2 subclade K yang meninggal dunia di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung menjadi perhatian publik. Menanggapi hal tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan penjelasan terkait penyebab kematian pasien tersebut.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin atau yang akrab disapa BGS menegaskan bahwa pasien yang meninggal dunia tersebut bukan semata-mata akibat infeksi virus Super Flu, melainkan karena memiliki penyakit penyerta atau komorbid yang berat.

“Jadi, contohnya misalnya, ada orang flu, kemudian ketabrak mobil, dia meninggal ketabrak mobil, ada flu. Ya, tapi meninggalnya karena dia ketabrak mobil sebenarnya, bukan karena flu-nya. Ini sama juga ya, yang di Bandung itu karena dia memang punya penyakit-penyakit lain yang bersangkutan,” ucapnya dalam konferensi pers, mengutip detikcom pada Selasa (13/1/2026).

Menurut BGS, kasus kematian pasien di RSHS Bandung tersebut sudah termasuk dalam laporan 62 kasus Super Flu di Indonesia, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai kasus baru.

Sebelumnya, RSHS Bandung melaporkan telah menangani 10 pasien dengan gejala Influenza A H3N2 subclade K atau Super Flu. Dari jumlah tersebut, satu pasien dilaporkan meninggal dunia karena memiliki riwayat penyakit bawaan yang berat.

Ketua Tim Penyakit Infeksi Emerging dan Re-emerging (Pinere) RSHS Bandung, dr Yovita Hartantri, menjelaskan bahwa sejak Agustus hingga November 2025 pihaknya telah memeriksa sejumlah pasien yang diduga terpapar Super Flu. Namun, pada November 2025, kasus tersebut mengalami penurunan.

“Dari semua sampel yang kami kerjakan dan kita periksa, kami baru dapat data di Januari ini. Nah itu ada 10 kasus yang dinyatakan Influenza A H3N2 subclade K,” katanya di Auditorium Gedung MCHC RSHS Bandung, Kamis (8/1/2026).

Ia mengungkapkan bahwa 10 kasus tersebut menimpa pasien dari berbagai kelompok usia, mulai dari bayi hingga orang dewasa.

“Dari hasil review, 10 kasus itu menimpa pasien dengan usia beragam. Dua bayi usia 9 bulan dan 1 tahun, pasien umur 11 tahun hingga mayoritas diderita pasien usia 20 hingga 60 tahun.

“Kalau kita lihat dari data yang ada, itu ada dua yang berat. Satu masuk ke ruang high cap dan satu masuk ke ruang intensif. Dan satu yang masuk ke ruang intensif memang terus dinyatakan meninggal karena disebabkan ada komorbid yang lain,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa pasien yang meninggal memiliki berbagai penyakit penyerta yang memperberat kondisi kesehatannya.

“Ada stroke, ada gagal jantung dan terakhir karena ada infeksi dan ada gagal ginjal juga. Jadi apakah itu langsung disebabkan oleh virus? Kita tidak bisa menyatakan karena memang dia mungkin komorbid yang banyak,” imbuhnya.

Pihak Kementerian Kesehatan dan RSHS Bandung mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, waspada, serta menjaga kesehatan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat guna mencegah penularan penyakit pernapasan.

Baca Juga:

62 Kasus Super Flu Subclade K di Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*