
JOSS.CO.ID, JAKARTA – Ekonom Senior Bright Institute, Awalil Rizky, memprediksi kondisi perekonomian Indonesia yang saat ini dinilai tidak berada dalam situasi ideal berpotensi berlanjut hingga 2026. Bahkan, Indonesia disebut berisiko mengalami resesi pada semester kedua 2026 dan berlanjut ke tahun 2027.
Menurut Awalil, kondisi makroekonomi nasional belum menunjukkan perbaikan yang berarti. Pertumbuhan ekonomi masih berada pada pola normal satu dekade terakhir, yakni di kisaran 5 persen dan sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga. Di sisi lain, inflasi memang masih terkendali, namun tekanan harga pada komponen makanan tetap tinggi. Sementara itu, meskipun tingkat pengangguran tercatat menurun, kondisi ketenagakerjaan secara umum justru memburuk.
“Pertumbuhan ekonomi kemungkinan masih kisaran 5 persen, tapi berisiko turun hingga kisaran 2,5 persen. Fenyebabnya antara lain karena konsumsi rumah tangga terus menurun. Terutama disebabkan oleh pendapatan pekerja yang menurun, seiring dengan meningkatnya PHK dan informalisasi pekerjaan,” ujar Awalil dalam keterangannya, Jumat 2 Januari.
Tekanan Fiskal dan Utang Pemerintah
Selain perlambatan ekonomi, Awalil menilai kondisi fiskal Indonesia juga semakin mengkhawatirkan. Pendapatan negara, khususnya dari sektor pajak, dinilai sulit ditingkatkan di tengah lesunya aktivitas ekonomi. Di saat bersamaan, kebutuhan belanja negara justru terus meningkat seiring dengan berbagai program prioritas serta membengkaknya birokrasi.
Kondisi tersebut membuat pelebaran defisit anggaran semakin sulit dihindari dan bermuara pada meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang.
“Padahal, beban utang pemerintah makin berat. Menilai utang pemerintah masih aman hanya dari rasionya atas PDB tidak memadai. Lebih tepat menilainya dari aspek beban pembayaran bunga dan pelunasan pokok. Debt service ratio telah lebih dari 40 peresn, bahkan hanya bunga saja telah hampir 20 persen,” jelas Awalil.
Kelas Menengah Menyusut dan Ketimpangan Meningkat
Awalil juga mengungkapkan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia masih berada tidak jauh dari garis kemiskinan, sementara jumlah kelas menengah terus berkurang. Pada saat yang sama, ketimpangan kekayaan finansial antar kelompok masyarakat justru meningkat.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memperluas risiko ekonomi ke ranah sosial dan politik apabila tidak diantisipasi secara serius.
Secara keseluruhan, Bright Institute menilai ketahanan ekonomi Indonesia saat ini berada pada level rendah dan cenderung rapuh. Hal ini tercermin dari lemahnya kondisi makroekonomi, terbatasnya ruang kebijakan fiskal, serta kebijakan moneter yang tidak leluasa.
Risiko Pelemahan Rupiah dan Gejolak Global
Awalil memperingatkan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terjadi pada 2025 berpotensi berlanjut hingga 2026, bahkan dengan tingkat volatilitas yang lebih tinggi. Risiko tersebut berkaitan erat dengan meningkatnya ketidakpastian di sektor keuangan global.
“Pelemahan rupiah pada 2025 bisa berlanjut pada 2026, bahkan berpotensi dengan volatilitas yang lebih tinggi. Hal itu terkait erat pula dengan peningkatan risiko keuangan global. Terutama karena perilaku industri keuangan nonbank, yang nilainya telah melampaui industri perbankan,” terang Awalil.
Ia menambahkan, perekonomian global saat ini juga tengah menghadapi ancaman stagflasi yang serius, terutama di sejumlah negara maju. Amerika Serikat dan China masih dibayangi risiko perlambatan ekonomi, meningkatnya pengangguran, serta inflasi yang relatif tinggi.
Secara lebih spesifik, ketidakpastian dinamika keuangan global dinilai mengarah pada risiko terjadinya “crash” dengan skala yang kemungkinan setara atau bahkan lebih berat dibanding krisis keuangan global tahun 2008.
Baca Juga:
Prabowo Sebut Warga Indonesia Paling Bahagia, Ini Faktanya

Leave a Reply