
Bank Dunia mengungkap daya beli masyarakat tertekan akibat upah riil yang rendah sejak 2018 dan dominasi pekerjaan bergaji rendah di RI.
JOSS.CO.ID — Bank Dunia atau World Bank mengungkapkan penyebab utama terus tertekannya daya beli masyarakat yang berdampak pada lemahnya konsumsi rumah tangga di Indonesia. Faktor utamanya adalah meningkatnya jumlah pekerja di sektor usaha bergaji rendah serta penurunan upah riil yang terjadi secara konsisten sejak 2018.
“Ini menekan konsumsi rumah tangga, meskipun indikator makroekonomi utama secara keseluruhan tetap solid dan kuat,” kata Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, Carolyn Turk saat peluncuran Indonesia Economic Prospects (IEP) edisi Desember 2025 di Jakarta.
Dalam laporan terbaru IEP edisi Desember 2025 yang dirilis pada Selasa (16/12/2025), Bank Dunia menilai konsumsi rumah tangga Indonesia berpotensi tumbuh stagnan hingga 2027 sebagai dampak dari persoalan struktural di pasar tenaga kerja.
Pada periode 2025–2027, pertumbuhan konsumsi rumah tangga diperkirakan hanya mencapai 4,9%, lebih rendah dibandingkan tahun 2024 sebesar 5,1%, tahun 2023 sebesar 4,9%, dan tahun 2022 yang mencapai 5%. Kondisi tersebut berimplikasi pada laju pertumbuhan ekonomi nasional yang diproyeksikan hanya berada di kisaran 5% pada 2025–2026 dan meningkat tipis menjadi sekitar 5,2% pada 2027.
“Walaupun penyerapan tenaga kerja naik 1,3% dari Agustus 2024 hingga Agustus 2025. Namun, seluruh tambahan lapangan kerja berasal dari sektor-sektor dengan tingkat upah yang lebih rendah,” kata Carolyn Turk.
Bank Dunia menilai, meskipun secara kuantitas penyerapan tenaga kerja masih meningkat, kualitas pekerjaan menjadi persoalan utama. Berdasarkan data Sakernas, jumlah pekerja formal dan informal memang bertambah pada 2025, namun peningkatan tersebut tidak diikuti oleh perbaikan upah.
Pada periode Agustus 2024 hingga Agustus 2025, penyerapan tenaga kerja bertambah sekitar 1,9 juta orang atau tumbuh 1,3% secara tahunan. Angka ini lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat tambahan 4,8 juta tenaga kerja atau tumbuh 3,4%.
Bank Dunia juga mencatat tingkat partisipasi angkatan kerja dan tingkat pengangguran relatif stagnan, masing-masing berada di level 70,6% dan 4,8%. Partisipasi angkatan kerja perempuan naik tipis menjadi 56,6%, sementara partisipasi angkatan kerja laki-laki turun menjadi 84,4%.
Mayoritas lapangan kerja baru tercipta di sektor pertanian dengan tambahan sekitar 0,49 juta pekerja, serta sektor akomodasi dan makan minum yang menyerap sekitar 0,42 juta pekerja. Kedua sektor ini menawarkan upah rata-rata sekitar Rp 2,55 juta per bulan, jauh di bawah rata-rata upah nasional sebesar Rp 3,33 juta per bulan.
Selain itu, upah riil di Indonesia terus mengalami penurunan. Pada periode 2018–2024, upah riil secara keseluruhan turun rata-rata 1,1% per tahun. Penurunan terdalam terjadi pada pekerja berkeahlian tinggi yang mencapai 2,3% per tahun, sementara pekerja berkeahlian menengah mengalami penurunan 1,1% per tahun.
Sebaliknya, upah riil pekerja berkeahlian rendah masih mencatat kenaikan tipis sekitar 0,3% per tahun. Sektor yang relatif tahan terhadap penurunan upah riil bagi pekerja berkeahlian tinggi hanya terbatas pada manufaktur bernilai tambah tinggi, utilitas—khususnya listrik—serta teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Bank Dunia juga menyoroti pergeseran struktur keterampilan tenaga kerja. Porsi pekerja berkeahlian menengah turun dari 71,1% pada 2018 menjadi 68,3% pada 2024, sementara porsi pekerja berkeahlian rendah meningkat 2,3 poin persentase.
Di sisi lain, generasi muda Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam transisi dari pendidikan ke dunia kerja. Tingkat NEET pada perempuan muda tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki, baik pada fase lulusan SMA maupun perguruan tinggi.
“Maka meningkatkan kapasitas perekonomian dan memungkinkan sektor swasta menciptakan lapangan kerja dengan upah yang lebih baik bagi generasi muda Indonesia menjadi tujuan utama saat ini,” ucap Carolyn Turk.

Leave a Reply