
Elon Musk memprediksi dalam 10 hingga 20 tahun manusia tidak perlu bekerja lagi berkat AI dan robot yang membuat pekerjaan menjadi opsional.
JOSS.CO.ID – Dalam wawancara yang dilaporkan oleh Forbes.com, ia menyatakan bahwa dalam 10 hingga 20 tahun mendatang, manusia kemungkinan tidak perlu bekerja lagi. Menurut Musk, pekerjaan akan menjadi sesuatu yang “opsional,” sementara kebutuhan hidup akan dipenuhi oleh jutaan robot.
Dalam pernyataannya, Musk menegaskan bahwa AI bukan hanya akan membuat pekerjaan tidak lagi wajib, tetapi juga membuat uang menjadi tidak relevan.
Pekerjaan Opsional Diprediksi Hadir pada 2035–2045
Kekhawatiran terbesar tenaga kerja saat ini adalah sulitnya mencari pekerjaan, meningkatnya PHK, serta kondisi ekonomi global yang tidak menentu. Fenomena seperti quiet quitting, office frogging, hingga job hugging pun bermunculan sebagai strategi bertahan.
Namun Musk mengajak masyarakat membayangkan dunia tanpa kecemasan PHK atau rasa terjebak dalam pekerjaan yang tidak disukai.
Selama ini, sejumlah startup AI justru mendorong budaya kerja ekstrem seperti “9-9-6 work schedule”—bekerja dari pukul 9 pagi hingga 9 malam selama enam hari seminggu—demi memenangkan “perlombaan AI”. Tetapi menurut Musk, masa depan pekerjaan justru menuju arah sebaliknya: bekerja lebih sedikit atau bahkan tidak bekerja sama sekali.
Kontradiksi dalam Pandangan Musk
Musk dikenal memiliki hubungan kontroversial dengan dunia kerja. Ia pernah menyebut ChatGPT sebagai “One of the biggest risks to the future of civilization” atau “Salah satu risiko terbesar bagi masa depan peradaban” pada 2023.
Ia juga dikritik karena “corporate slavery” atau “perbudakan korporat” ketika memuji karyawan Tesla di Tiongkok yang “burning the 3 a.m. oil” atau “bekerja hingga pukul tiga dini hari,” sambil menuding pekerja Amerika “trying to avoid going to work at all” atau “berusaha menghindari bekerja sama sekali.”
Pada 2022, Musk menghapus kebijakan kerja jarak jauh di Tesla dan melakukan PHK besar-besaran. Menurut Jenn Lim, CEO Delivering Happiness, Musk dianggap memperlakukan pekerja “seperti kerusakan sampingan” dan mengabaikan nilai kemanusiaan.
Apakah Prediksi Musk Sudah Mulai Terlihat?
Menurut Gohar, seorang ahli B2B SaaS, tanda-tanda prediksi Musk sudah terlihat. Ia menyebut banyak peran kerja menjadi tidak relevan karena low-code platform, AI copilots, dan sistem otomatisasi tingkat tinggi.
Ia menekankan bahwa AI akan mengubah hubungan manusia dengan pekerjaan berbasis pengetahuan. “Software will offload the dull and repetitive, leaving humans to focus on creativity, strategy and empathy,” ujarnya.
Terjemahan: Perangkat lunak akan mengambil alih pekerjaan yang membosankan dan repetitif, membiarkan manusia fokus pada kreativitas, strategi dan empati.
Apakah Model Kerja Musk Sudah Usang?
Kaz Hassan, Principal of Community and Insights di Unily, berpendapat bahwa Musk masih memakai model lama dalam menilai kerja. Menurutnya, selama berabad-abad manusia mengukur pekerjaan berdasarkan “penyelesaian tugas dan jumlah waktu bekerja.”
Hassan menilai AI justru mengungkap rapuhnya model tersebut. AI unggul dalam mengenali pola dan mengoptimalkan proses, tetapi tidak mampu menggantikan intuisi strategis, pemahaman budaya, dan pengambilan keputusan kompleks.
“Organisasi yang terlalu tergesa-gesa mengotomatisasi segalanya justru menyadari bahwa pekerjaan manusia yang sulit diukur ternyata adalah keunggulan kompetitif terakhir mereka,” jelasnya.
Ia menambahkan, selama ini organisasi melatih karyawan menjadi “penyelesai tugas”, padahal AI dapat menghancurkan metrik produktivitas jenis ini dengan mudah. Banyak perusahaan kini kehilangan cara untuk menilai nilai manusia secara akurat.
Masa Depan: Bukan Mengganti Manusia, Tapi Menciptakan ‘Superworkers’
Menurut Hassan, organisasi masa depan yang sukses bukanlah yang menggantikan manusia dengan AI, tetapi yang menciptakan “superworkers”, yaitu karyawan yang percaya diri pada nilai kemanusiaannya dan mampu memanfaatkan AI untuk meningkatkan kreativitas serta pengambilan keputusan.
Ia menegaskan perlunya menghapus “productivity theater” — yaitu rapat tak perlu, aktivitas sibuk yang hanya untuk terlihat produktif, dan metrik yang mengukur aktivitas, bukan dampak.
Hassan menyimpulkan bahwa pekerjaan yang dulunya dianggap “opsional” oleh standar lama, justru akan menjadi esensial dalam model baru. Ia menggambarkan masa depan pekerjaan sebagai:
“The connecting. The questioning. The reframing. The cultural bridge-building.” Menghubungkan, mempertanyakan, membingkai ulang, dan membangun jembatan budaya.

Leave a Reply