Zohran Mamdani Terpilih Jadi Wali Kota Muslim Pertama New York City, Tandai Perubahan Besar dalam Politik Amerika

Zohran Mamdani Terpilih Jadi Wali Kota Muslim Pertama New York City, Tandai Perubahan Besar dalam Politik Amerika

JOSS.CO.ID, New York City — Anggota Majelis Negara Bagian New York, Zohran Mamdani, mencetak sejarah dengan memenangkan pemilihan wali kota New York dan menjadi Wali Kota Muslim pertama dalam sejarah kota tersebut. Kemenangan Mamdani dinilai sebagai tonggak baru dalam politik Amerika Serikat, menandai perubahan generasi dan budaya di tengah lanskap politik yang semakin terpolarisasi.

Zohran Mamdani meraih kemenangan meyakinkan dengan perolehan suara lebih dari 50 persen, mengungguli seluruh kandidat lain secara gabungan. Keberhasilan ini semakin luar biasa karena diraih tanpa dukungan finansial dari para donor besar maupun koneksi politik yang kuat. Rival terdekatnya, mantan Gubernur Demokrat sekaligus kandidat independen Andrew Cuomo, sebelumnya dikenal memiliki jaringan politik dan dana kampanye besar.

Kampanye Mamdani berfokus pada keadilan ekonomi dan keterjangkauan hidup bagi warga New York biasa, dengan strategi berbasis akar rumput dan dukungan sukarelawan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa dalam iklim politik Amerika yang sering sinis, kesempatan untuk “orang luar sistem” masih terbuka lebar.

Ketika memulai kampanye pada Oktober 2024, Zohran Mamdani hanya memiliki dukungan di bawah satu persen. Namun dalam waktu kurang dari setahun, ia berhasil menumbuhkan dukungan besar melalui kampanye yang dekat dengan masyarakat. Ia aktif berkeliling ke berbagai wilayah, mengandalkan sukarelawan, dan memanfaatkan media sosial dengan konten multibahasa — termasuk bahasa Spanyol, Arab, dan Urdu — untuk menjangkau komunitas beragam di kota berpenduduk delapan juta ini.

Keotentikannya sebagai Muslim juga menjadi sorotan. Mamdani kerap tampil mengenakan kurta, pakaian khas Asia Selatan, dan menikmati makanan tradisional seperti biryani. Meski mendapat serangan bernada islamofobia dari sejumlah tokoh konservatif, ia tetap konsisten menonjolkan jati dirinya sebagai cerminan keragaman New York.

Mamdani dikenal sebagai Democratic Socialist, dengan agenda ekonomi progresif yang disebut “Robin Hood policy.” Ia mendorong kebijakan seperti perawatan kesehatan universal, pembekuan sewa, transportasi umum gratis, serta toko bahan pangan milik pemerintah di wilayah berpenghasilan rendah.

Meski sejumlah pihak — termasuk mantan Presiden Donald Trump — menyebut kebijakan ini “terlalu ekstrem”, Mamdani menegaskan bahwa misinya adalah menciptakan kota di mana “mereka yang bekerja keras di malam hari bisa menikmati hasilnya di siang hari.”

Pendekatan ini menarik perhatian pemilih muda dan kelas pekerja, sementara sebagian elit politik dan donor kaya menjauh. Kampanye Mamdani sebagian besar dibiayai dari donasi kecil ribuan warga, mengikuti model kampanye berbasis komunitas seperti milik Barack Obama.

Zohran Mamdani lahir di Uganda dari ayah keturunan Muslim Gujarat dan ibu Hindu Punjabi yang berprofesi sebagai pembuat film. Ia tumbuh di Afrika Selatan sebelum pindah ke New York pada usia tujuh tahun. Mamdani menjadi warga negara AS pada 2018 dan dua tahun kemudian terpilih menjadi anggota Majelis Negara Bagian New York.

Latar belakangnya yang kosmopolitan menjadikannya simbol generasi baru pemimpin Amerika yang mewakili keberagaman dan inklusi.

Sebagai kritikus vokal terhadap kebijakan Israel di Gaza, Mamdani pernah menyebut tindakan pemerintah Netanyahu sebagai “genosida”, yang memicu kontroversi dan tuduhan antisemitisme. Namun menurut survei Pew Research Center (2023–2024), meski New York memiliki populasi Yahudi terbesar di luar Israel, Mamdani tetap memperoleh dukungan signifikan dari pemilih Yahudi muda yang berhaluan progresif.

Dengan terpilihnya Zohran Mamdani di New York, kini dua kota global terbesar — London dan New York — dipimpin oleh wali kota beragama Islam. Sama seperti Sadiq Khan di London, Mamdani menghadapi kampanye bernuansa islamofobia namun berhasil mengubah narasi tersebut menjadi kekuatan.

Kemenangan Zohran Mamdani bukan hanya perubahan politik, tetapi juga simbol pergeseran generasi. Partisipasi pemilih muda meningkat tajam, menunjukkan antusiasme terhadap pesan keadilan sosial dan kesetaraan ekonomi. Dalam pidato kemenangannya, Mamdani menegaskan:

“Kita telah membuktikan bahwa mimpi Amerika masih hidup — bahwa siapa pun, dari mana pun asalnya, bisa sukses di negara ini.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*