
JOSS.CO.ID, SUKOHARJO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo terus menggencarkan program intervensi gizi untuk menekan angka kemiskinan ekstrem. Salah satu langkah nyata dilakukan dengan menyalurkan bantuan pangan di Desa Kwarasan dan Desa Pondok, Kecamatan Grogol. Berdasarkan hasil survei, kedua desa tersebut termasuk dalam kategori agak rawan pangan di Sukoharjo.
Program intervensi kerawanan pangan ini digencarkan untuk mempercepat pengentasan kemiskinan ekstrem. Tujuannya adalah mengurangi kerentanan pangan masyarakat, terutama keluarga miskin dan kelompok dengan masalah gizi.
Intervensi dilakukan dengan memberikan bantuan berupa beras, telur ayam, dan daging ayam kepada kelompok masyarakat tidak mampu.
“Bantuan kerawanan pangan diberikan kepada keluarga rawan pangan untuk memenuhi asupan gizi keluarga, khususnya anak. Ini menjadi bagian dari intervensi Pemkab Sukoharjo untuk mengurangi kerawanan pangan,” kata Bupati Sukoharjo, Etik Suryani, Senin (3/11/2025).
Bupati Etik menuturkan bahwa bantuan pangan ini diharapkan dapat mengurangi beban pengeluaran keluarga sekaligus mengentaskan daerah rentan rawan pangan. Langkah ini diyakini memberikan dampak nyata terhadap penurunan angka kerawanan pangan di wilayah tersebut.
Secara teknis, intervensi pangan dapat bersifat jangka pendek maupun jangka menengah–panjang, tergantung kondisi wilayah masing-masing.
“Desa Kwarasan dan Desa Pondok di Grogol masuk daerah agak rawan pangan di Sukoharjo. Ada tiga jenis bahan pangan yang diterima masing-masing keluarga penerima manfaat, yakni beras, telur ayam, dan daging ayam,” ujar dia.
Etik menjelaskan bahwa perhatian terhadap kerawanan pangan difokuskan pada keluarga tidak mampu di dua desa tersebut. Diharapkan, keluarga penerima manfaat dapat memenuhi kebutuhan gizi sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga.
Sementara itu, Kepala Dinas Pangan Sukoharjo, Endang Tien Maryuni, menyebutkan jumlah penerima bantuan pangan mencapai 770 keluarga. Dinas Pangan telah melakukan survei pemetaan daerah rawan pangan dengan melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Indikator survei meliputi luas wilayah, hasil panen, jumlah penduduk, kepadatan penduduk, serta jenis pekerjaan warga.
“Di Sukoharjo, tidak ada daerah rawan pangan karena kebutuhan pangan sudah terpenuhi. Untuk Desa Kwarasan dan Desa Pondok masuk kategori agak rawan pangan. Karena itu, dilakukan intervensi khusus dengan pemberian bantuan pangan,” papar dia.
Endang juga mendorong pemerintah desa untuk mengoptimalkan dana desa sebesar 20 persen bagi penguatan ketahanan pangan. Dana tersebut dapat dimanfaatkan melalui berbagai usaha pertanian dan peternakan, yang hasilnya berguna untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
Sebelumnya, Pemkab Sukoharjo telah menyalurkan bantuan kepada 1.000 anak di 167 desa dan kelurahan. Masing-masing anak menerima 10 kilogram beras dan 1,5 kilogram telur ayam. Total bantuan yang disalurkan mencapai 10.000 kilogram beras dan 24.000 butir telur. Program ini diharapkan dapat menurunkan angka prevalensi stunting di Kabupaten Sukoharjo.

Leave a Reply