
Wisatawan asing lebih banyak ke Malaysia daripada Indonesia. Pengamat sebut masalah koordinasi dan strategi jadi penyebab utama.
JOSS.CO.ID – Selama delapan bulan pertama tahun 2025, Indonesia mencatat kunjungan 10,04 juta wisatawan mancanegara. Angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya, namun masih jauh tertinggal dari Malaysia yang menerima 28,2 juta wisatawan pada periode yang sama.
Kesenjangan tersebut menimbulkan pertanyaan mengapa wisatawan dunia lebih tertarik ke Malaysia dibandingkan Indonesia yang memiliki potensi alam dan budaya tak kalah menarik.
Pariwisata Malaysia Didorong Sebagai Proyek Nasional
Wakil Direktur Bidang Sumber Daya, Ventura, dan Administrasi Umum Universitas Indonesia, Deni Danial Kesa, MBA, PhD, menjelaskan bahwa keberhasilan Malaysia terletak pada penetapan pariwisata sebagai isu nasional yang dikelola secara terintegrasi oleh pemerintah pusat.
“Malaysia menjadikan pariwisata sebagai proyek nasional, sedangkan Indonesia memperlakukannya sebagai kumpulan inisiatif daerah yang berjalan sendiri,” ujar Deni dikutip dari detikTravel Kamis (9/10/2025).
Menurutnya, kebijakan tersebut membuat promosi pariwisata Malaysia berjalan konsisten dan berkesinambungan. Setiap program promosi yang dilakukan oleh negara bagian tetap berada dalam kerangka besar branding nasional “Malaysia Truly Asia” yang telah dikenal luas di dunia.
Sebaliknya, Indonesia masih menghadapi tantangan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Banyak daerah menjalankan promosi wisata masing-masing tanpa sinkronisasi dengan strategi nasional.
“Padahal wisatawan asing tidak hanya mencari tempat, tetapi juga pengalaman menyeluruh tentang Indonesia,” tambahnya.
Kendala Akses dan Digitalisasi Hambat Daya Saing
Selain masalah koordinasi, dukungan infrastruktur dan digitalisasi juga menjadi tantangan bagi pariwisata Indonesia.
Akses transportasi yang belum terhubung antardaerah serta layanan wisata yang belum sepenuhnya berbasis digital membuat Indonesia kalah cepat dalam melayani kebutuhan wisatawan modern.
“Sulitnya mengakses transportasi, layanan daring, hingga fasilitas pendukung wisata membuat Indonesia tertinggal. Malaysia lebih cepat membaca tren wisatawan global,” kata Deni.
Malaysia diketahui telah mengintegrasikan sistem pemesanan daring, transportasi, dan akomodasi dalam satu ekosistem digital. Wisatawan asing dapat merencanakan perjalanan dengan mudah dan mendapatkan pelayanan cepat, mulai dari bandara hingga lokasi wisata.
Pelaku Wisata Lokal Belum Terhubung ke Pasar Global
Menurut Deni, banyak pelaku industri wisata di Indonesia masih kesulitan menjangkau pasar global karena keterbatasan pelatihan dan akses digital.
Kreativitas lokal yang tinggi tidak didukung oleh sistem pemasaran daring yang kuat.
“Tanpa kemitraan dengan platform digital dan dukungan pembiayaan, inovasi wisata berhenti di tingkat lokal. Padahal wisatawan mancanegara kini mencari pengalaman autentik seperti itu,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah perlu mendorong pelatihan digital dan sistem promosi terpadu agar pelaku industri wisata dapat bersaing di kancah internasional.
Perlu Narasi dan Strategi Nasional yang Konsisten
Meski demikian, Deni menilai kondisi ini masih dapat diperbaiki. Indonesia memiliki peluang besar jika mampu menyatukan berbagai potensi daerah dalam satu strategi storytelling nasional.
“Indonesia harus mengemas pariwisata sebagai pengalaman kreatif, bukan sekadar destinasi eksotis. Cerita menjadi kunci untuk menarik wisatawan global,” ucapnya.
Ia menekankan tiga langkah penting yang perlu dilakukan pemerintah:
- Sinkronisasi lintas kementerian dan daerah agar promosi berjalan konsisten.
- Investasi jangka panjang di bidang infrastruktur dan sumber daya manusia kreatif.
- Pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan personalisasi dan kemudahan wisatawan.
GIPI: Pariwisata Belum Jadi Prioritas Pemerintah
Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Hariyadi Sukamdani, juga menilai pemerintah belum menempatkan pariwisata sebagai sektor prioritas nasional.
“Sejak republik ini berdiri, pariwisata tidak pernah menjadi program utama. Posisi sektor ini masih sebagai program tambahan,” kata Hariyadi dalam keterangan tertulis.
Menurutnya, dalam Undang-Undang Kementerian Negara, pariwisata tidak termasuk bidang strategis sehingga anggaran dan kewenangannya terbatas.
Kondisi ini, kata dia, menyulitkan Indonesia untuk menyaingi negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand yang sudah menjadikan pariwisata sebagai pilar ekonomi nasional.
Kemenpar Klaim Tren Pemulihan Positif
Sementara itu, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyebut capaian kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia merupakan yang tertinggi sejak pandemi COVID-19.
Dalam keterangan resminya, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, peningkatan tersebut menunjukkan arah pemulihan yang positif.
“Capaian ini menandai rekor tertinggi periode Januari–Agustus sejak pandemi dan membuktikan pemulihan pariwisata Indonesia berada di jalur yang benar,” ujar Widiyanti.
Kemenpar berkomitmen melanjutkan promosi digital serta memperkuat program 10 Destinasi Super Prioritas yang meliputi Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika, Likupang, dan Borobudur.
Upaya ini diharapkan dapat memperluas daya tarik wisata dan meningkatkan kunjungan wisatawan asing.
Para pengamat menilai, keindahan alam dan kekayaan budaya Indonesia tidak kalah dibanding negara tetangga. Namun, tantangan utama terletak pada koordinasi dan konsistensi kebijakan.
Ke depan, sinergi antarinstansi, investasi di bidang infrastruktur, serta transformasi digital diyakini menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing Indonesia di pasar wisata global. Indonesia tidak kalah indah. Yang dibutuhkan adalah cara pandang baru dan kolaborasi nasional.
Indonesia memiliki potensi besar dalam pariwisata, namun perlu perbaikan dalam strategi nasional, koordinasi, dan digitalisasi. Dengan langkah terarah, Indonesia berpeluang menjadi destinasi utama di Asia Tenggara.

Leave a Reply