KOI Tanggapi Sanksi FIFA ke Malaysia: Publik Diminta Jangan Terprovokasi Isu yang Seret Nama Indonesia

KOI Tanggapi Sanksi FIFA ke Malaysia: Publik Diminta Jangan Terprovokasi Isu yang Seret Nama Indonesia

KOI menegaskan sanksi FIFA ke Federasi Sepakbola Malaysia (FAM) tak terkait Indonesia. Ketua Umum KOI Raja Sapta Oktohari minta publik tidak terprovokasi isu liar.

JOSS.CO.ID, JAKARTA– Komite Olimpiade Indonesia (KOI) merespons isu yang menyeret nama Indonesia setelah FIFA menjatuhkan sanksi kepada Federasi Sepakbola Malaysia (FAM).

Ketua Umum KOI, Raja Sapta Oktohari, meminta masyarakat untuk tidak terprovokasi tuduhan yang mengaitkan Indonesia dalam kasus tersebut. Ia menegaskan, hubungan baik Indonesia dan Malaysia di bidang olahraga harus tetap dijaga.

“Sudah jangan aneh-aneh, hubungan kita (Malaysia–Indonesia) selama ini baik. Jangan dirusak oleh oknum yang tidak mengerti apa-apa. Jangan sampai terprovokasi,” kata Okto dalam keterangan tertulis yang diterima media, Selasa (1/10/2025).

FIFA Jatuhkan Sanksi ke FAM dan Pemain Naturalisasi

FIFA sebelumnya menjatuhkan hukuman kepada Federasi Sepakbola Malaysia (FAM) dan tujuh pemain naturalisasi.

Dalam pernyataan resminya, FIFA menyebut FAM melanggar regulasi terkait administrasi pemain naturalisasi. Akibatnya, FAM dikenai denda 350 ribu Swiss Franc (CHF) atau sekitar Rp7,3 miliar.

Adapun tujuh pemain naturalisasi Malaysia yang mendapat hukuman adalah:

  1. Gabriel Felipe Arrocha
  2. Facundo Tomas Garces
  3. Rodrigo Julian Holgado
  4. Imanol Javier Machuca
  5. Joao Vitor Brandao Figueiredo
  6. Jon Irazabal Iraurgui
  7. Hector Alejandro Hevel Serrano

Ketujuh pemain tersebut masing-masing didenda 2 ribu CHF (sekitar Rp42 juta) dan dilarang beraktivitas di sepak bola selama satu tahun.

Nama Indonesia Disebut dalam Isu Liar

Pasca keputusan FIFA, sejumlah unggahan di media sosial menyebut Indonesia memiliki peran dalam sanksi tersebut. Narasi yang berkembang menyebutkan bahwa Indonesia melaporkan Malaysia ke FIFA.

Okto membantah tuduhan itu. Menurutnya, FIFA adalah lembaga independen yang membuat keputusan berdasarkan aturan, bukan tekanan dari negara lain.

“Kami percaya FIFA punya mekanisme dan regulasi yang jelas dalam memutuskan sanksi. Tidak mungkin ada sanksi yang diambil berdasarkan intervensi negara lain,” tegas Okto.

Ia menilai isu yang berkembang hanyalah bentuk provokasi yang bisa merusak hubungan baik Indonesia–Malaysia, terutama di bidang olahraga.

Hubungan Indonesia–Malaysia dalam Olahraga

Indonesia dan Malaysia memiliki sejarah panjang hubungan di dunia olahraga. Keduanya kerap berhadapan di berbagai ajang, mulai dari SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade.

Di luar kompetisi, kerja sama juga terjalin dalam bidang pembinaan atlet dan pertukaran pengalaman kepelatihan. Menurut KOI, kedua negara serumpun itu selalu menunjukkan sportivitas dan solidaritas di arena multinasional.

“Olahraga seharusnya jadi alat pemersatu, bukan pemecah belah. Kita harus tetap menjaga nilai sportivitas, fair play, dan solidaritas, khususnya dengan Malaysia yang merupakan saudara serumpun kita,” ujar Okto.

KOI Ingatkan Publik Agar Bijak

KOI mengingatkan publik agar tidak mudah terpengaruh dengan isu liar yang tidak memiliki dasar. Menurut Okto, informasi di media sosial harus disaring sebelum dipercaya dan disebarkan.

“Jangan sampai kita terjebak provokasi yang justru bisa memperkeruh suasana. Mari jadikan olahraga sebagai perekat persaudaraan,” katanya.

Ia menegaskan, isu ini bisa berdampak luas apabila tidak ditangani dengan bijak, seperti:

  • Munculnya rivalitas negatif antar suporter.
  • Gangguan kerja sama olahraga ASEAN.
  • Tercorengnya citra internasional kedua negara.

Konteks Regional ASEAN

Sebagai sesama anggota ASEAN, Indonesia dan Malaysia diharapkan terus menjalin hubungan baik di bidang olahraga. Solidaritas antarnegara Asia Tenggara juga menjadi salah satu pilar dalam penyelenggaraan event multinasional.

Indonesia dan Malaysia sama-sama aktif berpartisipasi dalam SEA Games dan Asian Games, serta menjadi bagian dari forum internasional seperti Olimpiade. Menurut KOI, hal ini harus dijadikan momentum memperkuat persaudaraan, bukan sebaliknya.

Ajakan Menjaga Persaudaraan

Raja Sapta Oktohari menutup pernyataannya dengan ajakan untuk menjaga hubungan baik antarbangsa, khususnya di bidang olahraga.

“Indonesia dan Malaysia adalah saudara serumpun. Kita harus terus memperkuat kerja sama, terutama di bidang olahraga. Mari kita buktikan bahwa sportivitas lebih kuat daripada provokasi,” pungkasnya.

Kasus sanksi FIFA terhadap FAM murni keputusan lembaga internasional tersebut. KOI menegaskan Indonesia tidak ada kaitan dalam kasus tersebut.

Masyarakat diharapkan tidak terprovokasi isu liar yang beredar, dan tetap menjaga persahabatan dengan Malaysia. Dengan menjunjung tinggi sportivitas, olahraga dapat terus menjadi sarana mempererat hubungan kedua bangsa.

Baca Juga: FIFA Jatuhi Sanksi Berat FAM, Tudingan terhadap Indonesia Picu Kontroversi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*