Studi HCC: Satu dari Tiga Warga Masih Tidak Nyaman Lihat Ibu Menyusui di Tempat Umum

Ilustrasi ibu menyusui di tempat umum. (Foto: istimewa)

JOSS.CO.ID, Semarang – Menyusui di ruang publik masih menuai kontroversi di Indonesia. Meski merupakan hak dasar ibu dan anak, banyak warga belum sepenuhnya menerima praktik tersebut secara terbuka.

Laporan terbaru dari Health Collaborative Center (HCC) yang berjudul “Persepsi dan Dukungan pada Ibu Menyusui di Tempat Umum” mengungkap bahwa sepertiga masyarakat Indonesia masih memandang negatif ibu yang menyusui di tempat umum.

Penelitian ini melibatkan 713 responden secara daring pada 4–5 Agustus 2025, mayoritas adalah perempuan berusia rata-rata 30 tahun. Dalam survei, mereka diminta memberikan reaksi terhadap sejumlah skenario menyusui di lokasi publik seperti taman, transportasi umum, kafe, dan tempat makan.

Hasilnya cukup memprihatinkan. Sekitar 30 persen responden mengaku merasa tidak nyaman, sementara 29,7 persen merasa gelisah saat melihat ibu menyusui di tempat umum.

Lebih dari separuh responden (50 persen) bahkan menyetujui menyusui di publik hanya jika menggunakan penutup. Sedangkan hampir 30 persen lainnya menilai aktivitas menyusui sebaiknya dilakukan di ruang khusus.

Ray Wagiu Basrowi, peneliti utama sekaligus pendiri HCC, menegaskan bahwa isu ini bukan hanya soal kenyamanan visual, tetapi menyangkut hak dasar perempuan.

“Penolakan terhadap menyusui di tempat umum menunjukkan bahwa dukungan sosial kita terhadap ibu dan anak masih rendah,” ujarnya saat memaparkan hasil penelitian di Jakarta Selatan, Jumat (8/8).

Penolakan tertinggi terjadi di lokasi umum yang sering digunakan masyarakat, yakni:

  • 34,6 persen menolak di taman atau ruang terbuka,
  • 33,8 persen di transportasi umum,
  • 32,8 persen di kafe,
  • 30,6 persen di tempat makan.

Ray menyebut bahwa data ini menunjukkan masyarakat masih menuntut ibu untuk menyusui secara tersembunyi. Padahal, dalam banyak situasi, ibu tidak punya pilihan selain menyusui di tempat yang tersedia ketika anak membutuhkan.

“Kita butuh lebih dari sekadar ruang laktasi di perkantoran. Harus ada fasilitas menyusui di transportasi umum, taman, bahkan mal, agar ibu bisa menyusui tanpa rasa takut atau malu,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa ruang menyusui yang nyaman dan mudah diakses bisa menjadi simbol dukungan terhadap budaya menyusui yang sehat dan terbuka, serta membantu mengurangi stigma sosial terhadap ibu menyusui.

“Budaya yang ramah ibu menyusui harus dibangun dari penerimaan publik, bukan menyuruh ibu bersembunyi,” tegas Ray.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*